Manulife AM : Ketika Pasar Membaik, Saatnya Investasi di Reksadana Saham

Potensi pemulihan ekonomi dan valuasi pasar yang menjadi proposisi menarik bagi investor yang forward looking
Abdul Malik • 23 Aug 2021
cover

Ilustrasi investor wanita muda sedang melihat membandingkan hasil investasi reksadana saham obligasi surat berharga negara dengan laptop dan handphone. (shutterstock)

Bareksa.com - Pemulihan ekonomi baik skala global maupun dalam negeri, mulai nampak. Apakah saat ini waktu yang tepat untuk berinvestasi di reksadana saham?

Dimas Ardhinugraha, Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia menyampaikan perkembangan ekonomi global maupun dalam negeri terkini. Menurut Dimas perekonomian global berangsur-angsur mengalami pemulihan seiring dengan vaksinasi yang meningkat dan mobilitas masyarakat yang membaik.

"Amerika Serikat telah mengalami pemulihan ekonomi seiring dengan tingginya tingkat vaksinasi yang mencapai sekitar 57 persen dari populasi. Hal itu tercermin pada kinerja pasar saham yang terus mencatat rekor tertinggi dan tingkat valuasi yang relatif tinggi," ujar Dimas dalam keterangannya (22/8/2021).

Dia menjelaskan tingkat vaksinasi yang rendah masih menjadi penghambat utama pemulihan aktivitas ekonomi di Asia. Tapi, ekonomi Asia masih memiliki potensi pemulihan lebih lanjut seiring dipercepatnya vaksinasi untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi secara berkesinambungan.

Dimas menilai di tengah peningkatan vaksinasi, ekonomi Asia juga ditopang oleh peningkatan aktivitas perdagangan dan permintaan dari kawasan negara maju.

PPKM

Menurut Dimas kondisi makroekonomi Indonesia saat pembatasan sosial di kuartal kedua tahun ini (PPKM) jauh berbeda dengan saat pembatasan sosial di kuartal kedua tahun lalu (PSBB).

"Ini terlihat pada beberapa indikator domestik seperti aktivitas ekspor, realisasi program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), dan vaksinasi," ungkapnya.

Menurut dia, saat PSBB tahun lalu, belum ada vaksinasi, aktivitas ekspor -12,5 persen secara tahunan (YoY), target program PEN Rp695 triliun dan baru terealisasi Rp580 triliun di sepanjang tahun.

"Sementara saat PPKM tahun ini, 68,1 juta warga telah divaksinasi, aktivitas ekspor telah mencapai 55,9 persen YoY, dan target stimulus PEN meningkat menjadi Rp745 triliun dengan realisasi Rp277 triliun hingga 16 Juli 2021," dia menjelaskan.

Berkah di Tengah Pandemi

Dimas mengatakan di tengah pandemi yang masih dihadapi masyarakat Indonesia, terselip potensi sumber pertumbuhan baru yaitu di sektor ekonomi digital.

"Kehadiran dan inovasi sektor digital dalam kondisi pandemi memberikan kontribusi besar terhadap ekonomi dengan memberikan sarana bagi masyarakat dan dunia usaha untuk melakukan berbagai aktivitas dan menghindari kelumpuhan total ekonomi," kata Dimas.

Ia menjelaskan merujuk e-Conomy SEA Google Temasek Bain & Company 2021, penetrasi pengguna digital baru di Indonesia tercatat tumbuh 37 persen sejak pandemi. Menariknya, 93 persen dari pengguna baru tersebut berniat untuk terus menggunakan layanan digital secara permanen setelah pandemi.

Dia menyampaikan saat ini Indonesia memiliki nilai transaksi ekonomi digital tertinggi di Asia Tenggara. Pada 2025, diperkirakan Indonesia akan menyumbang 40 persen dari nilai ekonomi digital di Asia Tenggara dengan e-commerce sebagai penyumbang terbesar bagi ekonomi digital Indonesia dengan perkiraan nilai US$83 miliar.

Peluang di Pasar Saham

Dimas menjelaskan pemilihan investasi selektif pada sektor usaha yang menawarkan peluang pertumbuhan dan momentum yang baik sangat krusial untuk mendorong kinerja portofolio.

"Prospek ekonomi digital Indonesia yang sangat cerah mendorong tingginya minat investor akan sektor teknologi dan berpotensi meningkatkan bobot pasar saham Indonesia pada indeks global," kata dia.

Selain itu, ia menyampaikan masih ada potensi peluang pada beberapa saham big caps yang telah terkoreksi cukup dalam untuk dapat kembali unggul begitu situasi pandemi membaik dalam beberapa bulan mendatang.

Di sisi lain kata Dimas, kinerja indeks LQ45 yang masih tertekan sepanjang tahun ini mencerminkan kondisi perekonomian Indonesia yang masih kurang menentu menghadapi pandemi yang berkepanjangan. Namun, jika PPKM efektif menekan angka penyebaran COVID-19, maka ada harapan positif ke depan.

"Terlebih jika vaksinasi bisa diakselerasi untuk mencapai herd immunity sehingga dapat mencegah risiko gelombang kasus COVID-19 berikutnya yang dapat mempengaruhi pemulihan ekonomi," dia mengungkapkan.

Menurut dia, memang masih ada risiko yang perlu dicermati, seperti efektivitas penanganan pandemi, laju vaksinasi, perubahan komunikasi dan kebijakan The Fed, serta peningkatan kasus Covid-19 di sejumlah negara.

"Namun, saat ini adalah entry point yang menarik di reksadana saham bagi investor yang forward looking, melihat potensi pemulihan ekonomi Indonesia," kata Dimas.

Sebagai gambaran, Dimas menjelaskan reksadana Manulife Saham Andalan (MSA) dan Manulife Greater Indonesia Fund (MGIF), yang memperoleh rating bintang 5 dari Morningstar Rating pada Juni 2021, memiliki imbal hasil yang melampaui tolok ukur masing-masing.

MSA membukukan imbal hasil 27,43 persen sepanjang tahun berjalan (YtD) per Juli 2021 (melampaui tolok ukur MSA yaitu IDX80 -12,25 persen) dan MGIF memberikan imbal hasil 24,22 persen YtD Juli 2021 (melampaui tolak ukur MGIF yaitu IDX80 dalam dolar AS pada -14,78 persen).

"Tentu perlu diingat bahwa reksadana saham memiliki tingkat risiko dan volatilitas yang cukup tinggi, sehingga akan lebih sesuai untuk tujuan investasi jangka panjang," kata Dimas.

(Martina Priyanti/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.