MAMI : Strategi Atur Portofolio Investasi Saat Pasar Global Bergejolak

Meskipun ada risiko dari pasar global, namun kabar positif datang dari dalam negeri
Abdul Malik • 09 Jun 2022
cover

Ilustrasi seroang investor sedang melihat logo Manulife melalui ponsel. (Shutterstock)

Bareksa.com - Pasar finansial global masih menunjukkan kondisi yang volatil (bergejolak). Namun sentimen dari dalam negeri menunjukkan optimisme atas proses pemulihan ekonomi Indonesia tahun 2022 ini. Krizia Maulana, Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) menyatakan dua kondisi yang berbeda ini mempengaruhi strategi investor dalam berinvestasi agar tujuan finansial masa depan dapat tetap tercapai.

“Saat ini, tekanan dari global masih besar pengaruhnya ke pasar finansial domestik. Ada tiga faktor utama yang masih mempengaruhi pasar global yaitu tekanan inflasi, suku bunga dan pertumbuhan ekonomi,” ungkap Krizia dalam keterangannya (9/6/2022).

Menurut Krizia, risalah rapat FOMC di bulan Mei 2022 mengindikasikan sikap Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed yang lebih fleksibel terhadap arah kebijakan moneter. Di mana front loading kenaikan suku bunga memberi fleksibilitas untuk melakukan perubahan kebijakan tergantung kondisi yang ada.

Pasar finansial menginterpretasikan hal ini sebagai indikasi The Fed dapat mengubah laju kenaikan suku bunga tergantung pada kondisi ekonomi, setelah rencana kenaikan bunga sebesar 50 basis poin (bps) pada Juni dan Juli 2022.

Walaupun sejauh ini kondisi ekonomi AS masih tetap suportif, seperti yang ditunjukkan oleh tingkat konsumsi dan pendapatan, namun indeks keyakinan konsumen dan bisnis AS yang menjadi indikator tren aktivitas ekonomi mengalami penurunan. 

“Kondisi ini mendukung pandangan The Fed yang lebih fleksibel, mengambil keputusan kebijakan berdasarkan perkembangan ekonomi kedepannya,” ujarnya.

Sementara di Asia, perbaikan kasus Covid-19, pelonggaran pembatasan dan stimulus yang digelontorkan oleh pemerintah China menjadi katalis penting untuk mendukung sentimen yang lebih positif di Asia.

Kondisi makro ekonomi Asia ditopang oleh kinerja ekspor yang kuat didukung oleh ekspor barang elektronik dan komoditas sumber daya alam, sehingga berdampak positif bagi stabilitas makroekonomi dari sisi transaksi berjalan dan nilai tukar.

Sinyal positif dari dalam negeri

Meskipun ada risiko dari pasar global, kata Krizia, kabar positif datang dari dalam negeri. Ada enam faktor yang mendukung sinyal penguatan perekonomian Indonesia. Pertama, inflasi yang relatif terkendali dan suku bunga riil yang relatif tinggi dibandingkan negara lain memungkinkan pengetatan moneter domestik tidak seagresif pengetatan moneter The Fed atau bank sentral global lain.

Kedua, posisi Indonesia sebagai net eksportir komoditas memberikan dampak positif. Kontribusi ekspor komoditas yang cukup tinggi berhasil mendorong neraca perdagangan dan menjaga stabilitas rupiah di tengah memburuknya sentimen dunia terkait inflasi, suku bunga dan harga komoditas yang tinggi.

Ketiga, ekspansi ekonomi menjadi daya tarik di tengah normalisasi global. Adapun katalis utamanya adalah percepatan pemulihan ekonomi ke depan. Di kuartal keempat 2021, pertumbuhan PDB tahunan Indonesia berhasil kembali ke level 5 persen.

Keempat, new economy mendukung pertumbuhan jangka panjang yang menjanjikan. Selama pandemi, new economy telah menunjukkan peran yang penting dan kontribusi pendapatan dari sektor ini diperkirakan akan mencapai 9 persen terhadap PDB di 2023. Saat ini, kontribusi utama datang dari e-commerce, namun ke depannya e-logistik, kendaraan listrik, energi terbarukan, dan kesehatan akan meningkat.  Hal ini diperkirakan dengan dasar perhitungan penetrasi saat ini yang masih rendah.

Kelima, valuasi aset finansial yang menarik setelah ketertinggalan kinerja pasar Indonesia di 2021. Keenam, kepemilikan asing yang cenderung rendah pada aset finansial membuat risiko outflow lebih rendah.

Strategi Atur ulang portofolio

 Kondisi global yang volatil mengakibatkan perekonomian tidak pasti dan tentunya memiliki risiko tersendiri. Di sisi lain, beragam faktor dari dalam negeri masih menjanjikan potensi pertumbuhan bagi aset investasi di pasar modal. Dalam jangka panjang, pasar saham masih memberikan potensi keuntungan yang menarik, terlebih kondisi pasar domestik juga mendukung. Meki begitu, kata Krizia, portofolio investor sebaiknya tetap terdiversifikasi.

Penambahan alokasi investasi pada aset dengan korelasi yang rendah dan risiko yang relatif rendah, seperti reksadana pendapatan tetap dan reksadana pasar uang, juga tetap perlu dilakukan untuk mengantisipasi kondisi pasar global yang volatil. “Investor yang ingin memanfaatkan peluang pertumbuhan pasar domestik dapat memanfaatkan reksadana saham,” Krizia menjelaskan.  

Sebagai gambaran, dalam setahun terakhir, sejak akhir April 2021 hingga akhir April 2022, reksadana Manulife Greater Indonesia Fund (MGIF) mencatatkan kenaikan kinerja 22 persen. Sementara reksadana Manulife Saham Andalan (MSA) mencatatkan cuan 26,6 persen dan reksadana Manulife Dana Saham (MDS) melesat 16,7 persen pada periode yang sama.

MGIF merupakan reksadana saham dalam denominasi dolar AS, sedangkan MSA dan MDS merupakan reksadana saham dalam denominasi rupiah.  MGIF cocok untuk investasi jangka panjang karena melakukan penempatan pada saham-saham yang dijual melalui penawaran umum dan atau diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI). 

MSA menggunakan tolok ukur IDX 80, sehingga komposisi market cap lebih merata. Dengan menggunakan strategi high conviction, di mana deviasi terhadap tolok ukurnya yang lebih lebar, kinerja portofolio MSA pun cenderung lebih lebar. Sementara itu, MDS menggunakan tolok ukur LQ45 dengan komposisi big cap yang lebih besar.  Dengan strategi core yang diterapkan, deviasi MDS terhadap tolok ukur lebih terbatas dan volatilitasnya pun cenderung lebih sempit dibandingkan strategi high conviction.

“Jumlah porsi penempatan investasi pada reksadana saham, pasar uang, maupun reksadana pendapatan tetap tentunya harus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing investor memperhatikan faktor seperti; tujuan investasi, jangka waktu investasi dan kebutuhan likuiditas yang berkaitan erat dengan toleransi risiko,” Krizia menambahkan. 

Menurut dia, dengan mengetahui perkembangan pasar terkini dan melakukan penyesuaian pada komposisi portofolio, investor diharapkan dapat merealisasikan berbagai tujuan keuangannya di masa depan.

(AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.