Gelombang II Covid-19 Bisa Hantam Obligasi, Reksadana Pendapatan Tetap Masih Prospektif

Pefindo menargetkan nilai penerbitan surat utang korporasi tahun ini bisa mencapai Rp122 triliun hingga Rp159 triliun
Abdul Malik • 09 Jul 2021
cover

Ilustrasi ramainya penerbitan obligasi korporasi berpengaruh positif pada reksadana pendapatan tetap. (Shutterstock)

Bareksa.com - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menilai, gelombang kedua pandemi Covid-19 bisa mempengaruhi penerbitan surat utang korporasi pada semester II 2021. Namun demikian, hal ini diharapkan tidak berdampak serius sehingga tidak mempengaruhi nilai penerbitan tahun ini dan juga instrumen investasi, yakni reksadana pendapatan tetap yang memiliki portofolio obligasi korporasi.

Presiden Direktur Pefindo, Salyadi Saputra, menjelaskan adanya gelombang kedua pandemi Covid-19 yang berbuntut pada kebijakan Perlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) menyebabkan ketidakpastian dalam investasi di surat utang.

"Investor jadi wait and see dalam berinvestasi," ujar dia dalam acara media briefing secara Virtual, Jumat (9/7).

Dari sisi penerbit juga bisa meninjau kembali rencana penerbitan surat utangnya. Pasalnya, kupon surat utang korporasi pasti terpengaruh dengan adanya ketidakpastian di pasar. Meningkatnya risiko ini tentunya menurunkan minat untuk menerbitkan surat utang, meski tidak semua emiten terlalu selektif dalam melihat risiko ini.

"Bisa saja ada emiten yang melihat second wave ini terlalu berisiko sehingga jadi ditunda. Jadi, kami melihat dulu sejauh mana dampaknya dan berapa lama," terang dia.

Pada awal 2021, Pefindo menargetkan nilai penerbitan surat utang korporasi tahun ini bisa mencapai Rp122 triliun hingga Rp159 triliun. Namun dengan adanya gelombang kedua pandemi Covid-19 ini,

Pefindo sedang mensimulasikan beberapa skenario dari aktivitas penerbitan surat utang korporasi. Sehingga pada akhirnya, akan ada revisi untuk penerbitan surat utang korporasi tahun ini.

"Kalau saat ini masih agak sulit diprediksi, tapi yang pada Juli ini sudah hampir pasti penerbitan obligasi akan direalisasikan. Tapi setelah itu agak sulit diprediksi. Kalaupun ada revisi, mudah-mudahan tidak terlalu banyak," kata dia.

Hingga 30 Juni 2021, Pefindo menerima mandat obligasi sebesar Rp75,8 triliun. Mandat ini menurut Salyadi bisa saja direalisasikan atau tidak jadi direalisasikan. Hal ini tergantung penerbit, apakah memiliki alternatif pendanaan lain di luar obligasi korporasi.

Salyadi menyebutkan, mandat dari multifinance masih akan mendominasi penerbitan obligasi tahun ini karena dananya digunakan untuk refinancing surat utang jatuh tempo. Pefindo mencatat, sekitar tiga multifinance akan menerbitkan obligasi dengan nilai Rp9,3 triliun. 

Selain multifinance, mandat obligasi yang cukup besar berasal dari dua perusahaan induk senilai Rp13,75 triliun. Obligasi ini akan digunakan untuk merestrukturisasi anak usahanya.

"Ada juga dari sektor konstruksi sebesar Rp9,5 triliun yang berasal dari lima emiten," kata Salyadi.

Sementara hingga semester I 2021, nilai penerbitan surat utang korporasi mencapai Rp43,37 triliun atau meningkat 44,42 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp30,03 triliun.

Adanya second wave ini diharapkan tidak terlalu berdampak serius terhadap instrumen investasi seperti reksadana pendapatan tetap.

Berdasarkan data Bareksa, dari sebanyak 29 produk reksadana pendapatan yang ada, seluruhnya masih membukukan tingkat pengembalian (return) yang positif dalam setahun.

Bahkan reksadanaSyailendra Pendapatan Tetap Premium dari PT Syailendra Capital bisa membukukan return 14,5 persen dalam setahun.

Secara jangka panjang atau dalam tiga tahun, Syailendra Pendapatan Tetap Premium bisa membukukan return 34,28 persen.

Begitu juga dengan reksadanaSucorinvest Bond Fund dari PT Sucor Asset Management yang mencatat return cukup tinggi dalam setahun, yakni 13,47 persen. Dalam tiga tahun, reksadana pendapatan tetap ini membukukan return 33,24 persen.

(KA09/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.