Potensi Penguatan Imbalan SUN Bakal Dongkrak Reksadana Pendapatan Tetap

Indeks reksadana pendapatan tetap mencatatkan kinerja positif sepanjang 28 Mei - 4 Juni yang naik 0,33 persen
Abdul Malik • 08 Jun 2021
cover

Ilustrasi investasi di reksadana pendapatan tetap. (Shutterstock)

Bareksa.com -  Menjelang berakhirnya paruh pertama 2021, prospek reksadana pendapatan tetap diperkirakan masih cukup menarik meskipun kinerja instrumen berbasis obligasi ini akan cenderung lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu.

Potensi penguatan imbal hasil Surat Utang Negara atau SUN menjadi katalis utama pergerakan reksadana pendapatan tetap.

Berdasarkan data Bareksa, indeks reksadana pendapatan tetap mencatatkan kinerja positif sepanjang 28 Mei - 4 Juni, yakni naik 0,33 persen.

Hal ini terjadi menyusul kenaikan pada obligasi pemerintah sebesar 0,51 persen dan obligasi korporasi 0,22 persen dalam periode yang sama.

Sumber: Bareksa

Meski begitu, reksadana pendapatan tetap masih menunjukkan performa negatif sepanjang tahun berjalan. Sejak awal tahun hingga 4 Juni 2021, indeks reksadana pendapatan tetap mencatatkan kinerja -0,18 persen secara year to date (YtD).

Berdasarkan grafik di atas, dapat dilihat bahwa pelemahan kinerja reksadana pendapatan tetap mulai terjadi sejak awal tahun. Padahal, di 2020 instrumen ini sempat menjadi primadona seiring dengan penurunan suku bunga global.

Menurut analisis Bareksa, pada awal tahun ini investor mulai mengalihkan dananya ke aset yang lebih berisiko seperti saham, seiring dengan derasnya kucuran stimulus dari berbagai negara terutama Amerika Serikat (AS) yang mendorong risk appetite para investor.

Sumber: Worldgovermentbonds

Derasnya paket stimulus tersebut juga berimbas ke pasar obligasi Tanah Air, di mana imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) seri acuan 10 tahun sempat naik hingga hampir menembus level 7 persen, meskipun saat ini sudah mulai menguat ke kisaran 6,5 persen.

Selain itu, penurunan kinerja reksadana pendapatan tetap juga dipicu oleh data ekonomi Indonesia yang negatif. Rilis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2021 yang berada di luar harapan, tepatnya -0,74 persen secara tahunan direspons negatif oleh para investor.

Meski demikian, prospek pasar reksadana pendapatan tetap masih positif sepanjang 2021. Menurut pandangan Bareksa, imbal hasil SUN Indonesia saat ini belum menunjukkan level yang wajar, di mana semestinya dapat berada di bawah level 6 persen.

Dengan kondisi saat ini, prospek penguatan imbal hasil dan harga SUN masih sangat terbuka yang akan berdampak positif terhadap kinerja reksadana pendapatan tetap.

Sebagai informasi, obligasi pemerintah masih menjadi instrumen investasi yang mendominasi portofolio reksadana pendapatan tetap di Indonesia. Oleh karena itu, pergerakan obligasi pemerintah sangat memengaruhi kinerja reksadana pendapatan tetap.

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

Sekadar informasi, reksadana pendapatan tetap adalah reksadana yang menempatkan mayoritas (80 persen) dananya ke instrumen yang menghasilkan pendapatan tetap, yakni surat utang atau obligasi.

Sesuai dengan karakternya, reksadana pendapatan tetap ini memiliki tingkat pengembalian hasil yang stabil karena memiliki aset surat utang atau obligasi yang memberikan keuntungan berupa kupon secara rutin.

Dalam jangka pendek dan menengah, harga reksa dana pendapatan tetap, yang tercermin dari nilai aktiva bersih (NAB), cenderung naik stabil dan tidak banyak berfluktuasi (naik-turun) seperti halnya saham.

Karena itu, reksa dana ini cocok untuk investor bertipe konservatif. Investor bertipe konservatif ini memiliki profil risiko yang rendah dan cenderung menghindari risiko (risk averse).

(KA01/Arief Budiman/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.