Ini Reksadana yang Terpengaruh Penyeragaman Pembobotan Indeks Saham

Manajer Investasi menyambut baik penyeragaman penghitungan indeks dengan free float
Abdul Malik • 27 Apr 2021
cover

Ilustrasi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan pengaruhnya ke reksadana dan SBN. (Shutterstock)

Bareksa.com - Direktur Avrist Asset Management, Tubagus Farash Akbar Farich, menyampaikan rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) yang akan menyeragamkan pembobotan seluruh indeks saham dengan menggunakan metode capped adjusted free float market capitalization weighted average, tidak akan memberikan dampak secara langsung kepada investor reksadana indeks.

"Rasanya tidak ada terutama kalau bicara indeks LQ45 dan IDX30. Soalnya indeks LQ45 dan IDX30, sudah menggunakan metode free float," kata Farash kepada Bareksa, Senin malam (26/4/2021).

Sebaliknya, Farash mengatakan jenis reksadana yang berpotensi terpengaruh rencana BEI tersebut adalah reksadana saham yang dikelola secara aktif.

Untuk diketahui, capped adjusted free float market capitalization weighted average merupakan penghitungan pembobotan indeks dengan menggunakan kapitalisasi pasar free float sebagai bobot. Tapi, bobot tersebut dikenakan pembatasan (capped) saat evaluasi, dengan pembatasan bobot berkisar 9-20 persen.

Dengan penetapan capping, BEI berharap pergerakan suatu indeks saham tidak didominasi saham tertentu. Farash menyampaikan meski tidak berdampak pada investor reksadana, namun kebijakan itu bisa membantu manajer investasi (MI) dalam mengelola reksadana saham indeks.

"Manajer investasi kerap dihadapkan pada pilihan sulit, yaitu risiko likuiditas meningkat tetapi di sisi lain bila saham dengan floating rendah tidak dibeli bisa menyebabkan kinerja reksadana berkinerja di bawah kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)," papar Farash.

Ia menjelaskan perubahan penghitungan pembobotan indeks ini juga akan berpengaruh pada reksadana saham yang dikelola aktif tetapi memiliki benchmark ke Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

"Reksadana saham yang dikelola aktif nantinya juga jadi menyesuaikan ulang portofolio mereka jika benchmark mereka ke IHSG yang banyak memiliki saham dengan kapitalisasi besar dengan free float rendah," kata Farash.

Menurut Farash, saham seperti PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK), PT Bank Jago Tbk (ARTO), dan PT Bank Net Indonesia Syariah (BANK) perlu meningkatkan free float sehingga reksadana dengan kelolaan besar dapat membuat bobot yang signifikan.

Memudahkan Manajer Investasi

Direktur Riset dan Kepala Investasi Alternatif Bahana TCW Investment Management, Soni Wibowo menyampaikan pembobotan indeks yang baru ini akan lebih mudah untuk para manajer investasi mereplikasi.

"Perbandingannya apple vs apple dengan portofolio," kata Soni dilansir Kontan (26/4/2021).

Kinerja reksadana saham dan indeks ke depan juga Soni proyeksikan akan lebih sesuai dengan nilai riil saham. Makanya, Soni menambahkan Bahana TCW siap untuk menyesuaikan pemilihan aset saham dengan penghitungan bobot indeks yang baru.

(Martina Priyanti/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.