Ini 10 Manajer Investasi Paling Diminati Investor Kuartal I 2021

Tingginya minat investor tercermin dari meningkatnya jumlah unit penyertaan reksadana dari 10 manajer investasi tersebut yang naik tertinggi
Abdul Malik • 16 Apr 2021
cover

Ilustrasi manajer investasi yang mengelola portofolio investasinya agar reksadana yang dia kelolaa memberikan kinerja optimal di tengah gejolak pasar. (Shutterstock)

Bareksa.com - Kuartal I 2021 tampaknya bukan menjadi periode yang manis bagi pasar modal Tanah Air. Berbagai kinerja aset pasar modal cenderung mencatatkan pertumbuhan yang sangat tipis, bahkan ada pula yang menorehkan kinerja negatif.

Dari aset saham misalnya yang tercermin dalam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) nyatanya hanya mampu tumbuh tipis 0,11 persen sepanjang tiga bulan pertama tahun ini. Padahal dalam periode tersebut IHSG sempat menyentuh level tertinggi 6.435 yang mencerminkan kenaikan 7,63 persen YtD.

Kemudian dari aset obligasi yang tercermin dalam Indonesia Composite Bond Index (ICBI) justru bertolak belakang dengan kinerja pasar saham. Sepanjang kuartal I 2021, ICBI tercatat mengalami koreksi 2,02 persen.

Selain itu, obligasi pemerintah yang tercermin dari Indobex Government Bond juga berkinerja negatif, yakni turun 2,34 persen. Adapun obligasi korporasi yang tercermin dari Indobex Corporate Bond mampu berhasil tumbuh 1,66 persen.

Menurut analisis Bareksa, pelaku pasar sebenarnya menyambut awal tahun 2021 ini dengan pandangan positif seiring dengan ekspektasi pemulihan ekonomi. Hal tersebut bahkan sempat mendorong IHSG naik hingga menembus level 6.400, sebelum akhirnya berbagai sentimen negatif muncul yang membuat mood pelaku pasar buyar.

Beberapa sentimen negatif tersebut antara lain berupa kasus harian Covid-19 di Indonesia yang tembus 10.000 per hari, kemudian diperpanjangnya pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM), gejolak Wall Street, hingga naiknya kenaikan yield US Treasury yang menembus level 1,7 persen.

Industri Reksadana Ikut Terdampak

Di sisi lain, performa bursa saham Tanah Air yang terbilang cukup mengecewakan pada tiga bulan pertama tahun ini turut menekan industri reksadana yang mencatatkan penurunan dana kelolaan (asset under management/AUM).

Berdasarkan catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), per Maret 2021 AUM reksadana tercatat Rp565,87 triliun, menurun Rp7,67 triliun (-1,34 persen) dibandingkan per Desember 2020 yang sebesar Rp573,54 triliun.

Kemudian dari sisi kepemilikan, investor reksadana juga tercatat melakukan net redemption yang tercermin dari berkurangnya unit penyertaan (UP) dari sebelumnya 435,14 miliar UP per Desember 2020, menjadi 433,56 miliar UP per Maret 2021.

Artinya, sepanjang tiga bulan pertama tahun ini, ada penurunan 1,58 miliar UP (-0,36 persen). Jika dilihat dari 99 Manajer Investasi (MI) yang terdaftar di OJK, sebanyak 34 MI mencatatkan peningkatan UP, 19 MI tidak mengalami perubahan UP (belum aktif atau meluncurkan produk), dan 46 MI mencatatkan penurunan AUM.

Berikut 10 besar MI yang mencatatkan pertumbuhan UP tertinggi sepanjang kuartal I 2021

No

Manajer Investasi

UP Des 2020 (Juta)

UP Mar 2021 (Juta)

Pertumbuhan (Juta)

1

Trimegah Asset Management

15,160.56

18,453.55

3,292.99

2

Bahana TCW Investment Management

30,759.47

32,756.44

1,996.97

3

Manulife Aset Manajemen Indonesia

25,888.32

26,783.48

895.15

4

Setiabudi Investment Management

1,637.20

2,428.24

791.05

5

Syailendra Capital

15,713.25

16,433.79

720.55

6

Insight Investments Management

13,254.61

13,637.83

383.23

7

Surya Timur Alam Raya

911.11

1,275.37

364.26

8

Henan Putihrai Asset Management

4,611.37

4,974.82

363.46

9

Kisi Asset Management

868.64

1,214.32

345.68

10

Pinnacle Persada Investama

3,081.03

3,378.47

297.44

Sumber: OJK, diolah Bareksa

Dari data tersebut terlihat Trimegah AM membukukan kenaikan tertinggi UP reksadana sepanjang kuartal I 2021. Lonjakan tertinggi berikutnya dibukukan Bahana TCW Investment di urutan kedua dan Manulife Aset Manajemen Indonesia di urutan ketiga.

Peningkatan UP yang dicatatkan oleh sejumlah MI di tengah sentimen negatif yang mewarnai pasar saham domestik mengindikasikan bahwa mereka masih mampu menjaga kepercayaan investor sehingga dapat menghimpun dana atau peningkatan aset kelolaannya.

Hal tersebut bisa menjadi salah satu indikator untuk para investor yang masih kebingungan dalam mencari MI untuk mengelola dananya, selain tentunya juga melihat historikal produk reksadana yang dikelola oleh sang MI.

Perlu diketahui, reksadana ialah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

​Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

(KA01/Arief Budiman/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

DISCLAIMER​
Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.