Perubahan Penghuni Indeks, Bagaimana Dampaknya ke Reksadana?

Bursa Efek Indonesia baru saja mengubah daftar penghuni indeks LQ45, IDX30, IDXBUMN20, dan IDX high Dividend 20
Hanum Kusuma Dewi • 01 Feb 2021
cover

Ilustrasi investasi di reksadana indeks. (Shutterstock)

Bareksa.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) baru saja mengubah jajaran penghuni sejumlah indeks untuk daftar yang berlaku sejak Februari hingga Agustus 2021, antara lain indeks LQ45, IDX30, IDXBUMN20, dan IDX high Dividend 20.

Dilansir Bisnis.com (31/1/2021), untuk indeks LQ45, dua emiten yakni SCMA dan SRIL tak lagi jadi bagian dan digantikan oleh MEDC dan TPIA. Kemudian untuk indeks IDX30, ada empat emiten keluar yaitu ACES, ERAA, INCO, dan JPFA. Keempatnya kemudian digantikan oleh MDKA, PWON, TBIG, dan TKIM.

Sementara untuk indeks IDX BUMN20, WEGE terdepak dan tempatnya kini diisi oleh BRIS. Dalam indeks High Dividend 20, GGRM dan LPPF berpamitan dan tergantikan oleh DMAS dan WSBP.

Head of Market Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan penyesuaian portofolio reksadana indeks seiring dengan perubahan daftar konstituen indeks berdasarkan evaluasi baru merupakan hal yang pasti terjadi. Sebab produk reksadana yang mengacu pada indeks tentu wajib mengikuti daftar terbaru.

Namun, Wawan menilai hal itu tidak akan terlalu memengaruhi kinerja produk terkait karena biasanya emiten-emiten yang terdepak dari suatu indeks merupakan emiten yang berada di posisi paling bontot sehingga bobot dan pengaruhnya pun kecil. “Tidak akan signifikan dampaknya karena yang keluar pasti yang ujung-ujung,” kata Wawan dilansir Bisnis, Ahad (31/1/2021).

Head of Investment Avrist Asset Management Farash Farich menyebut perubahan indeks tidak memengaruhi kinerja reksadana secara keseluruhan. Avrist memiliki dua reksadana yang mengacu pada indeks yakni Avrist IDX30 dan Avrist Indeks LQ45.

Untuk proses rebalancing, pekan lalu Avrist AM telah menyelesaikan kocok ulang portofolionya menyesuaikan dengan daftar indeks baru sehingga bisa berbarengan dengan tanggal efektif daftar tersebut yakni 1 Februari 2021.

Direktur Utama Mandiri Manajemen Investasi Alvin Pattisahusiwa mengatakan perubahan sebagian konstituen indeks saja tak bisa memprediksi bagaimana kinerja indeks ke depannya karena akan tergantung pada kinerja masing-masing konstituen.

“Secara relatif karena market cap TPIA relatif lebih besar dibanding SCMA atau SRIL [konstituen lama] SRIL, maka bagi produk portfolio yang berbasis LQ45 tentu saja akan sangat mempertimbangkan kepemilikan di saham ini,” tuturnya.

Alvin mengatakan pihaknya tak memiliki strategi khusus dalam rebalancing sesuai konstituen baru. Sebagai catatan, Mandiri Manajemen Investasi tercatat memiliki satu produk reksa dana berbasis LQ45 yakni Mandiri Indeks LQ45.

(Abdul Malik) 

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?
- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

DISCLAIMER​
Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.