Reksadana Saham Juara Return Mingguan Pekan I Desember

Sepanjang periode 30 November – 4 Desember 2020, IHSG berhasil menguat 0,47 persen ke level 5.810
Abdul Malik • 07 Dec 2020
cover

Karyawan mengambil gambar layar pergerakan harga saham dan IHSG di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (17/7/2020). ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/wsj.

Bareksa.com - Bursa saham Tanah Air mengalami pergerakan yang bervariatif di perdagangan pekan pertama Desember 2020. Sepanjang periode 30 November – 4 Desember 2020, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat 0,47 persen ke level 5.810,48.

Penguatan IHSG yang cenderung terbatas tidak lepas dari sentimen perkembangan vaksin Covid-19 di mana raksasa di sektor farmasi Pfizer dan Moderna dikabarkan sudah semakin dekat dalam mendapatkan izin edar dari Uni-Eropa untuk vaksin mereka setelah European Medicine Agency mengatakan siap menyelesaikan hasil penilaian mereka terhadap kedua perusahaan masing-masing pada 29 Desember dan 12 Januari.

Selanjutnya Pfizer juga dikabarkan sudah mendapatkan izin dari pemerintahan Britania Raya untuk penggunaan darurat bagi vaksin Pfizer dan partnernya BioNTech. Sedangkan izin dari pemerintahan AS akan datang sebentar lagi, bahkan banyak yang beranggapan vaksin Pfizer akan disetujui untuk penggunaan darurat sebelum tahun 2021.

Meskipun demikian, tekanan yang membeyangi IHSG pekan lalu datang setelah kasus Covid-19 mencetak rekor penambahan harian 6.267 kasus pada hari Ahad (29/11/2020). Rekor tersebut kemudian pecah lagi pada Kamis (3/12/2020), jumlah kasus baru tercatat sebanyak 8.369 orang. Dalam 2 pekan terakhir, rata-rata penambahan kasus juga meningkat menjadi 1,03 persen per hari, dibandingkan 2 pekan sebelumnya 0,92 persen per hari.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Prof Wiku Adisasmito, mengatakan penambahan kasus tersebut tidak bisa ditoleransi. "Kita bisa melihat dalam beberapa hari terakhir kita mencatatkan rekor-rekor baru. Sebelumnya kita belum pernah mencapai di atas 5.000, tapi sayangnya kasus positif semakin meningkat bahkan per hari ini menembus lebih dari 8.000 kasus. Ini angka yang sangat besar dan tidak bisa ditolerir," ujar Prof Wiku, dalam konferensi pers Kamis (3/12/2020).

Lonjakan kasus tersebut tentunya membuat pelaku pasar khawatir jika Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) akan kembali diketatkan, yang dapat menghambat pemulihan ekonomi domestik.

Reksadana Saham Dominasi Return Harian

Kondisi pasar saham Indonesia yang masih mampu menghijau walaupun tak seberapa pada pekan lalu, turut mendorong kinerja reksadana saham yang memang mengalokasikan sedikitnya 80 persen portofolionya ke dalam aset berupa ekuitas tersebut. Berdasarkan data Bareksa, indeks reksadana saham berhasil bertambah 0,6 persen, sementara indeks reksadana saham syariah melaju 1,35 persen.

Sumber: Bareksa

Berdasarkan reksadana yang tersedia di Bareksa, top 10 imbal hasil (return) pada pekan lalu didominasi oleh produk reksadana saham dengan 8 produk, sementara 2 lainnya merupakan produk reksadana campuran.

Top 10 Reksadana Return Tertinggi Pekan I Desember 2020

No.

Nama

Jenis

Manajer Investasi

Return 1 Minggu

1

SUCORINVEST SHARIA EQUITY FUND

Saham

PT Sucorinvest Asset Management

4,36%

2

SHINHAN EQUITY GROWTH

Saham

PT Shinhan Asset Management Indonesia

3,65%

3

SUCORINVEST MAXI FUND

Saham

PT Sucorinvest Asset Management

3,34%

4

MANULIFE SAHAM SMC PLUS

Saham

PT Manulife Aset Manajemen Indonesia

2,85%

5

SUCORINVEST FLEXI FUND

Campuran

PT Sucorinvest Asset Management

2,69%

6

MANULIFE SAHAM ANDALAN

Saham

PT Manulife Aset Manajemen Indonesia

2,65%

7

BNP PARIBAS SOLARIS

Saham

PT BNP Paribas Asset Management

2,64%

8

EASTSPRING INVESTMENTS VALUE DISCOVERY KELAS A

Saham

PT Eastspring Investments Indonesia

2,34%

9

MANULIFE GREATER INDONESIA FUND

Saham

PT Manulife Aset Manajemen Indonesia

2,27%

10

SHINHAN BALANCE FUND

Campuran

PT Shinhan Asset Management Indonesia

1,83%

Sumber: Bareksa

Kenaikan yang dicatatkan 10 produk tersebut sepanjang pekan lalu juga cukup baik dengan kisaran 1,83 persen hingga 4,36 persen, jauh mengungguli IHSG yang hanya naik 0,47 persen dalam periode yang sama.

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

Reksadana saham adalah reksadana yang mayoritas aset dalam portofolionya adalah instrumen aset saham atau efek ekuitas. Reksadana jenis ini berisiko berfluktuasi dalam jangka pendek tetapi berpotensi tumbuh dalam jangka panjang.

Maka dari itu, reksadana saham yang agresif disarankan untuk investor dengan profil risiko tinggi dan untuk investasi jangka panjang (>5 tahun). Demi kenyamanan berinvestasi, pastikan dulu tujuan keuangan dan profil risiko Anda.

(KA01/Arief Budiman/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?
- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

​DISCLAIMER​
Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.