IMF Ramal Ekonomi RI Tumbuh 6 Persen, Ini Prospek Reksadana Saham dan SBN

Reksadana saham dan reksadana pendapatan tetap bisa menjadi pertimbangan bagi investor
Hanum Kusuma Dewi • 25 Nov 2020
cover

Pemandangan gedung-gedung bertingkat tampak dari Petamburan, Jakarta, Selasa (28/7/2020). ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

Bareksa.com - Dana Moneter International atau International Monetary Fund (IMF) meramalkan pertumbuhan ekonomi global akan pulih tahun depan pasca tekanan akibat pandemi virus corona Covid-19. Indonesia pun diperkirakan tidak akan ketinggalan, sehingga IMF merevisi naik target pertumbuhan 2021. 

Berdasarkan World Economic Outlook yang dipublikasi Oktober 2020, IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi global tahun depan mencapai 5,2 persen, setelah perkiraan kontraksi atau minus 4,4 persen di tahun ini. Pertumbuhan global yang diprediksi naik ini didorong oleh ekonomi Tiongkok (China) yang pulih lebih cepat dan diperkirakan tumbuh 1,9 persen pada 2020 dan 8,2 persen tahun depan. 

Indonesia, sebagai salah satu emerging market di Asia, juga tidak ketinggalan. IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6,1 persen tahun depan, setelah perkiraan kontraksi atau minus 1,5 persen tahun ini. 

Grafik Perkiraan Pertumbuhan Ekonomi Global, China dan Indonesia
Sumber: World Economic Outlook IMF

Ada sejumlah sentimen yang mendukung pemulihan ekonomi, dan tercermin dalam pergerakan pasar saham dan obligasi belakangan ini. Sejumlah sentimen itu termasuk, pemilihan presiden Amerika Serikat yang berjalan lancar, ketersediaan vaksin Covid-19, likuiditas yang melimpah di perbankan global sehingga menekan dolar AS dan membuat aset negara berkembang naik, insentif pajak dan bantuan kredit bagi UMKM dan korporasi, bantuan sosial dari pemerintah, serta akselerasi reformasi iklim investasi dengan disahkannya omnibus law UU Cipta Kerja. 

Perkiraan pertumbuhan ekonomi yang baik, didukung dengan sejumlah sentimen positif, bisa mendorong pasar saham dan pasar obligasi negara Indonesia. Pada akhirnya, investasi reksadana saham dan reksadana pendapatan tetap, serta Surat Berharga Negara (SBN) juga bisa ikut meraih keuntungan. 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang menjadi cerminan pasar modal dan pasar saham, naik 10,83 persen sebulan terakhir hingga 24 November 2020. Kemarin, IHSG ditutup menyentuh level psikologis 5.700, tertinggi dalam 9 bulan terakhir atau sebelum pandemi diumumkan. 

Rupiah sudah menguat menjadi Rp14.100 per dolar AS pada 24 November, dibandingkan di kisaran Rp15.000 per dolar AS pada 2 Oktober 2020. Bila melihat tren historis, setiap penguatan rupiah bisa membawa IHSG naik. 

Grafik Pergerakan IHSG dan Rupiah
Sumber: Bursa Efek Indonesia, diolah Bareksa.com

IHSG naik 10,83 persen sebulan terakhir hingga 24 November 2020 dan telah menyentuh level 5700, tertinggi dalam 9 bulan terakhir atau sebelum pandemi diumumkan. Kemudian, rupiah sudah menguat menjadi Rp14.100 per dolar AS pada 24 November, dibandingkan di kisaran Rp15.000 per dolar AS pada 2 Oktober 2020. 

Grafik Pergerakan Yield Obligasi Negara 10 Tahun
Sumber: Bursa Efek Indonesia, diolah Bareksa.com

Penguatan rupiah terhadap dolar AS juga memberi dampak positif bagi pasar obligasi. Imbal hasil (yield) obligasi negara tenor 10 tahun menguat ke 6,18 persen pada 19 November, dibandingkan 6,89 persen pada sebulan sebelumnya.

Penguatan IHSG ini positif bagi investasi berbasis saham, termasuk reksadana saham dan reksadana indeks saham. Lalu, penguatan pasar obligasi negara juga mendorong reksadana pendapatan tetap. Saat IHSG naik sebulan terakhir, Indeks Reksadana Saham Bareksa juga naik 10,11 persen dan Indeks Reksadana Pendapatan Tetap Bareksa naik 1,5 persen. 

Grafik Pergerakan IHSG, Indeks Reksadana Saham dan Pendapatan Tetap
Sumber: Bareksa.com

Dengan prospek pasar saham dan pasar obligasi negara yang menarik, investasi di pasar modal termasuk reksadana saham dan reksadana pendapatan tetap bisa menjadi pertimbangan bagi investor. Investasi reksadana saham cocok untuk investor agresif dengan horison waktu investasi panjang di atas lima tahun. Sementara reksadana pendapatan tetap cocok untuk investor moderat dengan jangka waktu menengah sekitar satu sampai tiga tahun. 

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?
- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.