CIO Principal AM, Ni Made Muliartini : Strategi Dongkrak Kinerja di Tengah Pandemi

Hingga akhir 2020, perseroan masih menargetkan dana kelolaan Rp10 triliun
Abdul Malik • 05 Oct 2020
cover

Chief Investment Officer, Principal Asset Management, Ni Made Muliartini, (Dok. Principal AM)

Bareksa.com - Pandemi Covid-19 telah mengakibatkan pasar modal bergejolak sepanjang tahun ini. Kondisi itu berimbas terhadap kinerja perusahaan manajer investasi sehingga dana kelolaannya tertekan, termasuk kinerja Principal Asset Management.

Laporan Bareksa Mutual Fund Industry, Data Market - Monthly Report August 2020, Principal AM membukukan dana kelolaan reksadana yang dijual kepada publik senilai Rp8,29 triliun pada Agustus 2020 dengan market share 2 persen. Secara bulanan asset under management Principal AM  meningkat 4 persen dan secara tahunan (YoY) melonjak 18 persen. Namun secara year to date, dana kelolaan Principal AM masih minus 9 persen.

Menurut catatan Bareksa, Principal AM mengelola 64 produk reksadana, dengan 30 di antaranya merupakan reksadana terproteksi, 6 reksadana saham, 17 reksadana pendapatan tetap, 5 reksadana pasar uang, 4 reksadana campuran, serta 2 reksadana indeks dan exchange traded fund (ETF). 

Sumber : Bareksa

Untuk kinerja reksadana indeks, Principal AM berada di peringkat 3 dalam daftar MI dengan dana kelolaan reksadana indeks terbesar pada Agustus 2020. Principal AM membukukan dana kelolaan reksadana indeks Rp881,98 miliar dengan market share 11 persen, naik 5 persen secara bulanan (MoM) dan terbang 486 persen YoY, namun masih negatif 19 persen YtD. Lonjakan AUM reksadana indeks Principal AM secara YoY merupakan yang tertinggi dibandingkan manajer investasi lain.

Chief Investment Officer, Principal Asset Management, Ni Made Muliartini, menyatakan hingga akhir 2020, perseroan masih menargetkan dana kelolaan Rp10 triliun. "Usaha untuk mengembalikan dana kelolaan reksadana setiap saat dilakukan, sembari menunggu kondisi pasar saham, yang tercermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), kembali bergerak naik," ujarnya.

Bagaimana strategi Principal AM dalam mendongkrak kinerja dan dana kelolaannya hingga akhir 2020? berikut petikan wawancara tertulis Abdul Malik dari Bareksa, dengan CIO Principal AM, Ni Made Muliartini pekan lalu :

Bagaimana dampak pandemi Covid-19 dan gejolak pasar ini terhadap kinerja Principal AM?

Pandemi ini memberi dampak negatif hampir ke semua lini kehidupan, termasuk aktivitas di pasar keuangan. Penyesuaian terhadap target awal perusahaan tentunya dilakukan hampir semua perusahaan terutama karena banyak aktivitas belum dapat terealisasi sehingga menyebabkan kurang optimalnya pendapatan.

Di sisi lain, kondisi pasar keuangan (saham,obligasi, dan pasar uang) yang sangat terdampak pandemi, juga menyebabkan sisi pendapatan juga harus disesuaikan. Hingga akhir tahun, kami masih menargetkan dana kelolaan tetap seperti akhir 2019, yaitu Rp10 triliun.

Berdasarkan catatan Bareksa, dana kelolaan reksadana yang dijual kepada publik Principal AM masih negatif 9 persen YtD pada Agustus. Bagaimana target perseroan untuk mendongkrak kinerja dana kelolaan reksadana tersebut?

Usaha untuk mengembalikan dana kelolaan reksadana setiap saat dilakukan sembari menunggu kondisi pasar saham, yang tercermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), kembali bergerak naik.

Demikian pula dengan pasar obligasi dan pasar uang yang juga masih fluktuatif. Beberapa upaya yang kami lakukan,antara lain terus mencari nasabah baru dan tetap menjaga kualitas pelayanan untuk nasabah lama, mempertahankan dan meningkatkan performance portfolio, serta meluncurkan produk baru.

Ada berapa banyak rencana peluncuran produk baru yang batal dilakukan, dan  apakah di sisa tahun ini ada rencana untuk meluncurkan produk-produk baru?

Pandemi berdampak terhadap dana kelolaan perusahaan akibat penurunan harga pasar, serta menurunnya minat investor terhadap investasi pada aset yang memiliki risiko lebih tinggi. Sementara untuk rencana peluncuran produk baru saat ini masih sesuai dengan rencana awal. Hingga akhir tahun, terdapat beberapa produk yang akan diluncurkan, antara lain reksadana pendapatan tetap dan reksadana pasar uang.

Secara YoY, dana kelolaan reksadana indeks Principal AM melesat hingga 486 persen pada Agustus 2020, salah satu tertinggi dibandingkan manajer investasi lain. Bagaimana rencana perseroan dalam mendongkrak kinerja reksadana indeks?

Principal Index Fund (Principal Index IDX30), secara year on year yakni periode Agustus 2019 hingga Agustus 2020, tumbuh 17.66 persen. Pertumbuhan yang cukup baik ini disebabkan oleh pertama, portfolio konsisten untuk menjalankan tujuannya yaitu mimicking pergerakan indeks IDX30 sebagai acuannya dengan menjaga tracking error tidak melebihi 2 persen. Kedua, disiplin melakukan rebalancing untuk tetap menjaga konstruksi portfolio sesuai acuannya. Ke depannya, kami akan terus berusaha menjaga konsistensi dan disiplin pengelolaannya.

Apa saja strategi perseroan dalam mengelola kinerja-kinerja produk reksadananya di tengah pandemi saat ini? Resep atau racikan apa yang dilakukan agar kinerja produk reksadana perseroan tetap bertumbuh dan tahan banting?

Situasi pandemi ini menimbulkan tantangan-tantangan baru dalam pengelolaan reksadana, misalnya penyesuaian sistem kerja ke sistem working from home. Padahal, pengelolaan reksadana memerlukan koordinasi yang cepat dan efisien dari anggota-anggota pengelolanya. Koordinasi yang baik ini mendukung pelaksanaan proses investasi yang berkesinambungan sehingga hasil kinerja portfolio pun tetap terjaga baik dan konsisten.

Arus informasi yang merupakan komponen penting untuk melengkapi pertimbangan pembuatan keputusan investasi, saat pandemi ini pun menjadi lebih penting. Karena itu, kami sangat aktif untuk mencari informasi lewat webinar, conference call dengan para emiten dan regulator, sehingga informasi yang diperoleh semakin lengkap.

Dengan mempertimbangkan kondisi saat ini, bagaimana rencana kinerja perseroan tahun 2021?

Memperhatikan kondisi pandemi saat ini  yang masih belum berhasil dilewati, kami tetap berusaha menjalankan usaha seperti biasa, tanpa mengurangi pelayanan kepada nasabah. Namun, kami sangat optimis melihat tahun 2021 sebagai tahun yang lebih baik dibandingkan tahun 2020 karena perbaikan ekonomi akibat mulai dibukanya aktivitas ekonomi secara bertahap. Pasar saham, obligasi, maupun pasar uang, seharusnya membukukan kinerja lebih baik di tahun 2021.

Perusahaan pun terus mencari cara-cara yang kreatif, misalnya dengan memanfaatkan teknologi dan media sosial, untuk bisa berinteraksi dengan semua pihak agar hubungan tetap terjalin dengan baik. Rencana peluncuran produk-produk baru di tahun 2021 masih tetap diupayakan berjalan sesuai rencana walaupun harus melakukan penyesuaian di beberapa lini, terutama karena keterbatasan interaksi langsung dengan pihak-pihak terkait.

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.