Direktur Bahana TCW, Budi Hikmat : Ini Strategi untuk Bisa Merdeka Finansial

Hindari penawaran investasi dengan return too good to be true
Bareksa • 27 Aug 2020
cover

Budi Hikmat, Director for Investment Strategy PT Bahana TCW Investment Management (kiri) bersama manajer investasi sedang diskusi perkembangan terkini pasar modal. (bahanatcw.com)

Bareksa.com - Bisa merdeka secara finansial, dalam artian ketersediaan penghasilan non-gaji untuk menopang hidup, sejatinya bukanlah omong kosong. Setiap orang yang memiliki gaji bulanan khususnya, bisa merdeka finansial melalui investasi yang dirancang secara seksama dan optimal untuk mencapai target aset.

Kepala Makroekonomi dan Direktur Strategi Investasi PT Bahana TCW Investment Management (Bahana TCW IM), Budi Hikmat menyarankan untuk bisa merdeka finansial, baik individu maupun komunal terlebih dahulu harus  mengubah paradigma perilaku terutama terkait gaya belanja, sumber penghasilan dan utang.

"Perubahan paradigma ini sangat penting agar upaya merancang strategi investasi beragam jenis asset dapat berjalan lancar demi menepis risiko middle income trap 2030," kata Budi Hikmat dalam keterangan tertulis yang diterima Bareksa.

Ia melanjutkan prinsipnya ketika menua dan pensiun, pembiayaan hidup tidak lagi bersumber kepada penghasilan gaji (labor income), tapi lebih kepada non-labor income melalui pencairan aset yang diakumulasikan semasa kerja.

Sebagai gambaran, Bahana TCW sebagai salah satu anggota Indonesia Financial Group (IFG) – Holding Perasuransian dan Penjaminan, memberi taksiran nilai aset dan dana yang harus dialokasikan oleh seorang generasi milenial yang ingin bekerja selama 25 tahun lagi dan berharap hidup selama 20 tahun sebelum wafat.

Taksiran aset sendiri diperoleh dengan mengalikan visi target produk domestik bruto (PDB) per kapita (Rp320 juta per tahun) dengan masa tuai (harvest) yakni ekspektasi hidup hingga wafat (asumsi 20 tahun).

"Maka total aset setelah pensiun harus mencapai Rp6,4 miliar. Walau dapat diraih melalui investasi, kami sangat memahami angka ini mengagetkan dan mengintimidasi bagi sejumlah pihak," lanjut Budi Hikmat.  


Sumber: Bahana TCW IM

Apabila ada investasi dengan imbal hasil portofolio sebesar 10,5 persen per tahun, maka generasi milenial perlu mengalokasikan dana investasi untuk masa depan Rp4,32 juta per bulan. Tentunya, semua angka ini dinilai memberatkan.

"Namun, Bahana TCW percaya setiap orang mampu medeka finansial asalkan disiplin dan memahami rancangan strategi investasi," kata Budi Hikmat.

Menurut dia, kita bisa mempelajari prinsip investasi sepanjang hayat dari Nabi Yusuf kepada Raja bahwa kita harus selalu berusaha untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing serta memiliki cadangan untuk kehidupan di masa depan. Mengutip saran Nabi Yusuf, ada beberapa tahapan investasi yang mencakup fase growth, protection and distribution.

Aset yang paling tepat untuk fase growth meliputi talenta, properti, saham, dan emas dalam satu dekade ke depan. Sementara, aset terbaik untuk fase protection adalah surat berharga negara (SBN) karena memiliki credit risk terendah.

Di sisi lain fase distribution merupakan proses peluruhan atau pencairan dan transfer aset di mana “pohon” dicairkan secara berkala menjadi “buah” alias non labor income.

"Mengatur alokasi dana investasi juga dapat dirancang dengan persentase tertentu terhadap pendapatan," ucap Budi Hikmat.

Ia memberikan contoh seperti yang disampaikan David Bach penulis buku Automatic Millionaire, di mana seseorang bisa mulai dengan 5 persen pendapatan pada lima tahun pertama mulai bekerja.

Ia melanjutkan seiring dengan peningkatan kecakapan berinvestasi, alokasi investasi pada growing aset seperti talenta, properti, dan saham bisa ditingkatkan hingga 20 persen. Kemudian, ketika mendekati usia pensiun dan sejalan dengan rumus alokasi growing asset (100 - umur), alokasi investasi dapat diturunkan hingga kembali 5 persen pendapatan.

Tabur Tuai

Ia mengingatkan agar setiap individu merencanakan dengan cermat masa tabur dan tuai (invest dan harvest) guna meraih kemerdekaan finansial. Kisah inklusif Nabi Yusuf dapat menjadi panduan bersama.

"Masa depan diraih melalui peningkatan produktivitas dan daya saing agar kita memiliki cadangan untuk mengantisipasi pergiliran siklus 'sapi kurus memakan sapi gemuk'. Ketika mendekati masa pensiun, hindari masih memiliki utang dan berinvestasi pada aset yang tidak likuid. Selain itu, tentunya menjaga kesehatan emosional, sosial, dan spiritual," papar Budi.

Ia melanjutkan semasa menabur (investasi), kelola berbagai growing asset yang dananya berasal dari pendapatan bulanan dengan penuh disiplin. Manfaatkan analisis siklus bisnis yang sangat penting untuk membangun harapan cuan setiap asset class yang lebih realistis.

"Hindari penawaran investasi dengan return too good to be true. Sebab pasti disertai oleh risiko kehilangan pokok yang sangat besar," tambahnya.

Jangan lupa, ia melanjutkan, terapkan acuan untuk cuan untuk mengendalikan kerakusan dibandingkan menuruti kecemasan yang sekaligus menjadi dasar keputusan asset class rebalancing di mana kita mengurangi aset yang bernilai terlalu mahal (overvalued asset) dan menambah aset yang masih murah tapi berpotensi naik (undervalued asset). "Manfaat surat berharga (SBN) sebagai aset terbaik untuk tujuan proteksi bahkan distribusi," imbuhnya.

(AM)

***

Ingin berinvestasi yang aman di reksadana dan diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.