Jelang Tutup Tahun 2019, Jumlah Investor Reksadana Tembus 1,77 Juta

Dalam 2 tahun terakhir jumlah investor reksadana melesat jauh dari investor saham
Bareksa • 30 Dec 2019
cover

Konferensi Pers Penutupan Perdagangan Bursa Efek Indonesia Tahun 2019 di Jakarta, Senin (30/12/2019). (Issa A/Bareksa)

Bareksa.com – Pertumbuhan jumlah investor reksadana semakin tinggi. Hingga 27 Desember 2019, jumlahnya mencapai 1,77 juta atau naik 77,65 persen dari posisi akhir 2018 sebanyak 995.510 investor.

Mengutip data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), pertumbuhan jumlah investor reksadana jauh meninggalkan investor saham. Hingga 27 Desember 2019, jumlah investor saham mencapai 1,1 juta atau naik 29,53 persen.

Menurut Direktur Utama KSEI Uriep Budhi Prasetyo, dalam 2 tahun terakhir jumlah investor reksadana melesat jauh dari investor saham.

“Hal ini mencerminkan pengembangan investor pemula sudah dilakukan dengan baik,” ujar Uriep dalam konferensi pers Penutupan Perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) 2019 di Jakarta, Senin, 30 Desember 2019.

Secara total, jumlah investor di pasar modal bertumbuh 53,04 persen menjadi 2,48 juta. Selain saham dan reksadana, KSEI juga mencatat ada pertumbuhan 61,89 persen di investor Surat Berharga Negara (SBN) menjadi 316.130 investor dari posisi akhir 2018 sebanyak 195.277 investor.

Uriep juga menerangkan, pertumbuhan jumlah investor tersebut mengalami pergeseran dari sisi demografinya. Pada 2018, jumlah investor di pulau Jawa mendominasi dengan porsi 73,51 persen. Namun pada tahun 2019, porsi investor di pulau Jawa menjadi 71,76 persen.

“Karena ada pertumbuhan investor di daerah-daerah,” imbuh Uriep. Salah satu daerah dengan pertumbuhan jumlah investor terbesar berasal dari Kalimantan dan Sumatera.

Pertumbuhan Jumlah Investor Hingga 27 Desember 2019

Sumber: KSEI

Meski begitu, Uriep menegaskan, baik KSEI maupun self regulatory organization (SRO) yang lain tidak menargetkan jumlah investor. Dia bilang, pihaknya justru mempersiapkan infrastruktur untuk memfasilitasi penambahan jumlah investor tersebut.

Yang jelas, Uriep mmenambahkan, jumlah investor di pasar modal masih di bawah 1 persen jika dibandingkan total penduduk Indonesia. “Artinya, masih ada bonus demografi untuk usia produktif paling tidak hingga 2035. Jadi, peningkatan investor bisa dipercepat,” jelas dia.

Adapun beberapa rencana KSEI untuk mempercepat pertumbuhan investor antara lain dengan menerapkan e-KYC dan simplifikasi pembukaan rekening. “Sehingga pembukaan rekening bisa cepat, efisien, dan transparan,” tutur Uriep.

Reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

(AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.