Jumlah Investor Reksadana Meroket 60,2 Persen Jadi 1,59 Juta, Utamakan Literasi

Per 23 Oktober 2019, jumlah investor pasar modal mencapai 2,28 juta atau melesat 41,15 persen dari akhir 2018
Bareksa • 28 Oct 2019
cover

Media Gathering Pasar Modal 2019 dengan tema Memperluas Layanan dan Memperkuat Perlindungan Pasar Modal untuk Semua di Lombok, Jumat (25/10/2019). (Issa A/Bareksa)

Bareksa.com – Jumlah investor di pasar modal Indonesia terus bertumbuh. Hingga 23 Oktober 2019, jumlahnya mencapai 2,28 juta atau naik 41,15 persen dari posisi akhir tahun 2018 sebanyak 1,62 juta investor.

Dari instrumen yang ada, jumlah investor terbanyak berasal dari investor reksadana yang mencapai 1,59 juta atau naik 60,2 persen dari akhir 2018 sebanyak 995.510 investor.

Kemudian disusul investor saham yang naik 23,89 persen dari posisi akhir 2018 sebanyak 852.240 menjadi 1,05 juta. Tak mau kalah, investor surat berharga negara juga naik 54,82 persen dari 195.277 per akhir 2018 menjadi 302.321 investor.

Menanggapi data tersebut, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hoesen menyampaikan, fenomena pertumbuhan jumlah investor belakangan ini cukup menarik. Selain bertambah dengan pesat, ada keterlibatan milenial dan transaksi elektronik yang cepat.

Menurut Hoesen, hal itu merupakan hasil dari percepatan proses pembukaan rekening.

“Selama ini, pembukaan rekening dikeluhkan, khususnya rekening efek dan rekening dana nasabah (RDN) cukup menghambat pertumbuhan investor kita ,” kata Hoesen di Lombok, Jumat, 25 Oktober 2019.

Kini, Hoesen menyampaikan, proses pembukaan rekening sudah semakin cepat. Dari biasanya bisa mencapai 2 minggu menjadi hanya 1 hari saja.

Pertumbuhan Single Investor Identification (SID)

Sumber: KSEI

Namun Hoesen memberi catatan. “Jangan sampai pertumbuhan jumlah investor ini justru hanya meningkatkan inklusi saja tanpa literasi yang cukup. Karena akan bahaya jika indeks inklusi pasar modal malah lebih tinggi daripada literasinya,” tutur Hoesen.

Hoesen menjelaskan, ada satu daerah di mana tingkat inklusi pasar modalnya lebih tinggi daripada literasinya. Untuk itu, OJK bersama para self regulatory organization (SRO) sedang menganalisis penyebabnya.

Dengan demikian, Hoesen menegaskan, perlindungan investor menjadi fokus utama OJK bersama para SRO agar pasar modal Indonesia bisa tumbuh berkesinambungan.

Sosialisasi Investor Pemula

Direktur Utama Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) Uriep Budhi Prasetyo menambahkan, pertumbuhan jumlah investor yang cukup pesat tidak lepas dari sosialisasi kepada para investor pemula. Uriep mengungkapkan, dalam sosialisasi pasar modal ke investor pemula diarahkan untuk berinvestasi pada reksadana terlebih dahulu.

Hal itu terlihat dari pertumbuhan yang lebih tinggi pada investor reksadana. Hal itu juga terlihat dari demografi investor yang didominasi usia 30 tahun ke bawah. Data KSEI menyebut, investor usia 30 tahun ke bawah mendominasi jumlah investor dengan porsi 43,28 persen beraset Rp12,15 triliun.

“Investor kategori ini adalah masa depan pasar modal Indonesia,” ujar Uriep.

Demografi Investor Individu per 23 Oktober 2019

Sumber: KSEI

Namun Uriep melihat, sebaran investor pasar modal Indonesia masih belum merata. Tercatat, pulau Jawa masih mendominasi sebaran investor dengan porsi 72,2 persen disusul Sumatera 15,01, Kalimantan 4,9 persen, Sulawesi 3,53 persen, Bali, NTT, dan NTB 3,14 persen, serta Maluku dan Papua 1,22 persen.

“Sebaran investor menjadi tantangan ke depan,” ungkap Uriep.

(AM)

***

Ingin berinvestasi di reksadana?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.