Rentan Terjebak Investasi Bodong, Investor Pemula Bisa Memilih Reksadana Ini

Reksadana dikelola oleh manajer investasi profesional yang memiliki izin atau lisensi khusus dari OJK
Bareksa • 25 Jul 2018
cover

Ilustrasi keuntungan dari investasi di reksadana, saham, obligasi, deposito yang digambarkan dengan tangan menunjukkan lambang persen warna merah.

Bareksa.com – Mencari tahu dan mengenal karakteristik produk investasi sebelum membelinya adalah hal wajib yang harus dilakukan investor, khususnya pemula. Pasalnya bagi masayarakat yang masih minim pengetahuan investasi, maka akan sangat rentan terjebak dalam penawaran investasi bodong yang merugikan.

Untuk memulai investasi jangan setengah-setengah. Apalagi kalau belum paham tentang investasi. Harus ada usaha lebih untuk mengetahui dengan jelas mengenai macam-macam investasi, bagaimana cara berinvestasi, profil dan track record perusahaan investasi, dan sebagainya. Dengan begitu kita dapat terhindar dari penipuan berkedok investasi.

(Baca : Empat Tips Investasi Reksadana untuk Raih Keuntungan Maksimal)

Dengan dijanjikan hasil investasi yang besar, umumnya masyarakat awam mudah sekali terbujuk rayuan penipu berkedok investasi ini. Contohnya pada kasus Pandawa Group akhir tahun 2016 lalu yang resmi dihentikan kegiatan usahanya oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) karena ilegal dan merugikan masyarakat.

Tidak tanggung-tanggung, perusahaan ini berhasil mengumpulkan dana dari ratusan ribu nasabah hingga mencapai Rp3 triliun dengan menjanjikan keuntungan 10-15 persen per bulan, jauh lebih besar dari bunga deposito perbankan. (Baca Juga: Janjikan Bagi Hasil 10-15% Per Bulan, Pandawa Group Dinyatakan Ilegal Oleh OJK)

Dalam kasus ini, investor atau nasabah seharusnya dapat memahami tentang produk investasi yang ditawarkan secara jelas serta mengetahui dana yang disetorkan akan diinvestasikan kembali oleh perusahaan dalam bentuk apa, sehingga memberikan imbal hasil yang realistis untuk diberikan investor.  

Meski masyarakat awam ini rawan terjebak investasi bodong, bukan berarti harus takut memulai investasi. Sebab, sekarang ini banyak sekali produk investasi resmi yang mendapat legalitas secara hukum dan diawasi oleh OJK, salah satunya adalah reksadana.

(Lihat : Top 5 Reksadana Pasar Uang, Cocok Bagi Investor Reksadana Pemula)

Reksadana adalah salah satu produk pasar modal yang bersifat kolektif dari masyarakat dan berisi kumpulan aset (portofolio) berupa saham, obligasi, dan deposito yang dikelola oleh manajer investasi profesional yang memiliki izin atau lisensi khusus dari OJK. Untuk melihat peraturan reksadana selengkapnya, dapat klik tautan berikut.

Produk investasi ini terdiri dari beberapa jenis yang memberikan potensi keuntungan dan risiko yang berbeda. Adapun skema hasil investasi ini berasal dari pergerakan aset yang menjadi portofolio reksadana.

Ambil satu contohnya reksadana pasar uang. Aset dasar pengelolaan investasi ini berupa deposito perbankan dan surat utang jangka pendek (kurang dari setahun). Pergerakan aset jenis reksadana ini cenderung stabil dan meningkat seperti yang terlihat pada grafik di bawah ini.

Laju Pertumbuhan Return Indeks Reksadana Pasar Uang dalam 5 Tahun Terakhir

Sumber: Bareksa.com

Return jenis reksadana ini sangat cocok bagi investor pemula yang tertarik untuk berinvestasi pada aset keuangan. Reksadana pasar uang mampu menghasilkan rata-rata return 5,45 persen per tahun dengan total return 27,27 persen dalam 5 tahun terakhir.

Kalau sudah paham dengan investasi resmi, jangan ragu untuk mulai menanamkan modal kita.

Simak ulasan tips untuk memaksimalkan keuntungan investasi di reksadana : Tips Menabung di Reksadana Agar Tujuan Investasi Dapat Tercapai

(AM)

**

Ingin berinvestasi reksadana?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.