MAMI : Indonesia Masih Menarik Sebagai Tujuan Investasi Portofolio

Sebagai produsen dari berbagai komoditas penting dunia, Indonesia memiliki natural hedge yang menjadi penyelamat ekonomi di tengah terjadinya inflasi tinggi di berbagai kawasan
Abdul Malik • 16 Dec 2021
cover

Chief Economist & Investment Strategist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, Katarina Setiawan saat menyampaikan market update "Welcoming the Era of Lower Rate" di Kantor Manulife Aset, Jakarta (20/8/2019) (Bareksa/AM)

Bareksa.com - PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (Manulife AM) atau biasa disebut MAMI menilai Indonesia masih menarik sebagai tujuan investasi portofolio. Hal ini terlepas dari adanya diversifikasi yang dilakukan investor akibat masalah geopolitik akibat pandemi.

Chief Economist & Investment Strategist Manulife Aset Manajemen Indonesia, Katarina Setiawan mengungkapkan, Indonesia dan tiga negara di kawasan Asia Tenggara lainnya, yakni Malaysia, Filipina, dan Thailand akan mengalami ekspansi pertumbuhan pada tahun 2022. 

"Hal ini bertolak belakang dengan tren normalisasi pertumbuhan yang terjadi di Amerika Serikat dan sebagian negara Asia," jelas Katarina dalam keterangan resmi, Kamis, (16/12).

Menurut Katarina, sebagai produsen dari berbagai komoditas penting dunia, Indonesia memiliki natural hedge yang menjadi penyelamat ekonomi di tengah terjadinya inflasi tinggi di berbagai kawasan.

Indonesia juga memiliki structural stories yang sehat, berbeda dengan banyak negara di Asia yang mengalami peningkatan rasio utang dan jumlah penduduk memasuki usia lanjut. 

"Beberapa hal tersebut membuat daya tarik investasi di Indonesia tetap tinggi di tengah tren diversifikasi oleh investor yang dipicu masalah geopolitik serta pandemi," kata dia.

Hal ini terutama terjadi di pasar portofolio. Katarina menyebutkan, aliran dana asing mulai masuk ke pasar saham, bahkan semakin kuat menjelang pengetatan moneter The Fed. 

Indonesia juga akan bertumbuh karena pembukaan kembali perekonomian pada 2022. Di tengah pembukaan ekonomi tersebut, rotasi sektoral akan terjadi dan merupakan fenomena yang wajar di tengah  membaiknya situasi pandemi dalam negeri.

"Ekonomi digital sangat menarik dengan prospek pertumbuhan kuat, terutama didukung oleh potensi inklusi pada indeks saham global. Sektor teknologi, green economy, dan telekomunikasi tetap menjadi sektor pilihan," kata dia.

Selain pasar saham, pasar obligasi dinilai siap dalam menghadapi perubahan sentimen global. Fundamental makro yang lebih baik dan stabilitas eksternal yang terus diperkuat diharapkan dapat menjaga volatilitas pasar obligasi Indonesia. 

"Kami memiliki pandangan yang positif terhadap pasar modal di tahun 2022," jelas dia 

Kondisi Makro

Senior Economist DBS Bank Radhika Rao optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berada di level 4,7 hingga 5,5 persen pada 2022. Dia menjelaskan, terdapat tiga hal penting yang dapat memicu terjadinya peningkatan pertumbuhan perekonomian Indonesia pada 2022. 

Pertama, Indonesia diprediksi akan berhasil memberikan dosis vaksin penuh kepada 99 persen dari total populasi dewasa pada bulan Maret 2022.

Kedua, kemungkinan Indonesia yang akan menawarkan lebih banyak investasi dan bergerak pada sektor komoditas hilir serta akselerasi digitalisasi, akan mengembalikan pada pertumbuhan yang stabil.

Ketiga, laporan fiskal Indonesia yang memuaskan dan langkah-langkah untuk mengurangi pajak pada ratio GDP akan memperkuat rasio utang dibandingkan negara lain di Asia. 

Radhika juga menyampaikan program vaksinasi merupakan salah satu kunci dari keberhasilan penanganan pandemi di Indonesia. Dengan terlaksananya program vaksinasi secara masif dan terstruktur, mobilitas masyarakat akan meningkat dan hal ini memicu aktivitas perekonomian untuk mulai berjalan kembali. 

Indonesia merupakan salah satu negara yang berhasil melewati masa kritis pandemi pada kuartal IV 2021 berkat adanya pengurangan asumsi ketidakpastian terhadap pasokan vaksin. "Jika dapat terus dipertahankan, ekspektasi pemulihan ekonomi, serta pergerakan komponen lain seperti konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, investasi, hingga ekspor dan impor dapat berjalan sesuai harapan,” kata Radhika.

(K09/AM)
***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Fitur Bareksa Emas dikelola oleh PT Bareksa Inovasi Digital, berkerjasama dengan Mitra Emas berizin.