Sinyal Penguatan Pasar, Investor Agresif Bisa Selektif Reksadana Saham

Sentimen positif atas hilirisasi bijih nikel, reksadana dengan saham yang terkonsentrasi tambang bisa dipertimbangkan
Hanum Kusuma Dewi • 07 Jun 2021
cover

Ilustrasi analis reksadana saham sedang memantau pergerakan investasi saham reksadana dengan grafik di layar monitor laptop. (shutterstock)

Bareksa.com - Pasar saham sepanjang pekan lalu menguat signifikan dan memberi sinyal tren penguatan ke depan meski ada risiko jangka pendek. Investor agresif bisa selektif memilih reksadana saham, sementara investor dengan profil risiko moderat bisa berinvestasi di reksadana pendapatan tetap. 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama pekan terakhir 31 Mei-4 Juni 2021 naik 3,7 persen ke 6.065,16, ditopang oleh sektor teknologi yang melesat 50,88 persen sepekan dan infrastruktur yang naik 5,21 persen. 

Chief Research and Business Development Officer Bareksa Ni Putu Kurniasari mengatakan, setelah menguat cukup signifikan selama pekan lalu, IHSG diproyeksikan akan cenderung bergerak mendatar dengan potensi penurunan terbatas di level 5.950 – 6.120. 

"Perbaikan data ekonomi global maupun dalam negeri yang mengindikasikan pemulihan daya beli masyarakat diperkirakan memicu kenaikan harga komoditas. Sehingga, investor dengan profil risiko agresif dapat mencermati reksadana saham berbasis saham komoditas," ujar Putu. 

Sementara itu, instrumen investasi berbasis obligasi diperkirakan masih akan melanjutkan penguatan karena potensi pengetatan kebijakan oleh bank sentral The Fed menurun akibat data upah bulan Mei di Amerika menunjukkan pelemahan dibandingkan ekspektasi.

Imbal hasil (yield) obligasi negara bertenor 10 tahun diproyeksikan dapat bergerak di kisaran 6,35 – 6,55  persen pada pekan ini. Dengan latar belakang tersebut, investor dengan profil risiko moderat masih dapat mempertimbangkan untuk berinvestasi di reksadana pendapatan tetap maupun reksadana campuran berbasis obligasi. 

Reksadana Berbasis Saham Nikel

Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan pemerintah secara bertahap akan menghentikan operasional pembangkit listrik berbahan bakar batu bara. Sebagai gantinya, pemerintah akan fokus mengembangkan energi terbarukan (EBT), seperti hilirisasi bijih nikel.

Nikel juga akan banyak digunakan sebagai sumber daya baterai lithium untuk ponsel dan mobil listrik. Hal ini diproyeksikan berdampak positif untuk PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang merupakan perusahaan tambang dan pengolahan nikel terbesar di Indonesia, yang tengah mengembangkan industri baterai lithium untuk mobil listrik. 

Selama setahun terakhir, harga nikel dunia juga menunjukkan kinerja positif sekitar 42 persen dan mencapai level US$17.995 per ton karena kenaikan produksi mobil listrik global. Kenaikan tersebut seiring dengan pergerakan saham INCO yang turut menguat sekitar 60 persen setahun terakhir ke level Rp4.720 per lembar saham (4 Juni 2021).

Grafik Kinerja Harga Nikel Dunia & Saham INCO (4 Juni 2020 – 4 Juni 2021)

       Sumber: Investing, diolah Bareksa.com

Sejumlah reksadana saham yang memiliki saham INCO dalam portofolionya juga dapat menikmati potensi kenaikan ini. Berikut beberapa reksadana yang memiliki saham INCO dan tersedia di platform dan aplikasi investasi Bareksa, menurut fund fact sheet per April 2021: 

  • BNP Paribas Solaris
  • Schroder 90 Plus Equity Fund
  • TRIM Syariah Saham

Reksadana saham disarankan untuk investor dengan profil risiko tinggi dan tujuan investasi jangka panjang di atas lima tahun. Sebab, reksadana saham berisikan mayoritas aset saham dan bisa berfluktuasi jangka pendek tetapi berpotensi memberikan imbal hasil dalam jangka panjang. 

(Sigma Kinasih/hm)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER

Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.