Delapan Sentimen Penggerak Pasar Pekan II Desember

Kenaikan return obligasi telah menarik aliran dana masuk ke obligasi pemerintah Indonesia senilai US$2,5 miliar pada kuartal ini
Abdul Malik • 07 Dec 2020
cover

Layar monitor menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan saham di Jakarta, Jumat (6/11/2020). IHSG ditutup menguat 75,203 poin atau 1,43 persen ke level 5.335 pada penutupan perdagangan saham Jumat (6/11). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/wsj.

Bareksa.com  - Bursa Efek Indonesia menyatakan selama periode 30 November hingga 4 Desember 2020, pasar modal Indonesia mencatatkan pergerakan data perdagangan yang mayoritas ditutup positif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami peningkatan 0,47 persen di level 5.810,48 dari posisi 5.783,335 pada penutupan pekan sebelumnya. Nilai kapitalisasi pasar bursa juga naik 0,55 persen menjadi Rp6.758,21 triliun dari sebelumnya Rp6.720,94 triliun.

Investor asing pada Jumat lalu mencatatkan nilai jual bersih Rp84,48 miliar, sedangkan sepanjang 2020 mencatatkan jual bersih Rp44,514 triliun. Direktur Anugerah Mega Investama yang juga dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Trisakti, Hans Kwee menyatakan setidaknya ada 8 sentimen penggerak pasar pada pekan kedua Desember 2020 atau periode 7-11 Desember 2020.

Delapan sentimen penggerak pasar tersebut adalah sebagai berikut :

1. Vaksin Covid-19

Berita utama yang menggerakan pasar keuangan saat ini adalah vaksin Covid-19. Inggris menjadi negara pertama yang mengizinkan vaksin Pfizer-BioNTech untuk penggunaan darurat dalam melawan pandemi Covid-19. Pasar menanti perizinan penggunaan vaksin Covid-19 dari negara lain. Hal ini akan menjadi sentimen positif yang menggerakan pasar pada pekan ini.

"Di tengah optimisme vaksin, sedikit terganggu akibat Pfizer yang menyatakan hanya bisa mengirim setengah dari jumlah dosis yang sudah direncanakan sebelumnya karena adanya kendala pada bahan baku menjadi sentimen negatif di pasar. Setelah optimisme perizinan vaksin, ke depan ketersedian pasokan vaksin Covid-19 akan menjadi hal yang sangat penting,"ujar Hans dalam keterangannya (6/12/2020).

2. Kasus Covid-19

Di tengah optimisme vaksin yang memuncak, banyak negara mengalami kenyataan bahwa kasus Covid-19 naik signifikan yang diikuti jumlah rawat inap yang tinggi. Beberapa Negara bagian Amerika mulai memberlakukan perintah tinggal di rumah. Hal yang sama juga telah diberlakukan oleh beberapa negara di Eropa akibat tingginya kasus Covid-19 di tengah musim dingin.

Pekan lalu pasar saham Indonesia sempat terkoreksi akibat berita hoax tentang Gubenur DKI Jakarta akan tarik rem darurat atau melakukan PSBB total kembali. Pelaku pasar terlihat berhati-hati karena terlihat tren peningkatan kasus baru sejak 25 November dan beberapa kali membuat rekor baru.

3. Stimulus Fiskal AS

Perkembangan stimulus fiskal Amerika Serikat menjadi perhatian pelaku pasar. Sempat menjadi sentimen positif setelah kedua partai memulai pembicaraan. Sebelumnya Partai Demokrat menolak paket stimulus bipartisan senilai US$908 miliar. Menteri Keuangan Steven Mnuchin mengatakan Presiden Donald Trump mendukung proposal yang diajukan Pemimpin Mayoritas Republik Mitch McConnell. Paket yang di dorong McConnell adalah proposal senilai US$500 miliar yang ditolak Partai Demokrat karena dianggap tidak mencukupi.

Para pemimpin Demokrat, mengatakan rencana bantuan penanganan pandemi Covid-19 bipartisan bakal menjadi dasar untuk negosiasi segera di Kongres AS. Tanpa kursi mayoritas di Senat, maka masalah yang sama akan tetap di hadari pemerintah Biden di periode berikutnya.

4. Brexit

Kemajuan perundingan perdagangan pasca Brexit menjadi perhatian pelaku pasar, karena sampai saat ini belum ada kepastian. Dikabarkan pihak Inggris dan Uni Eropa telah menghentikan pembicaraan pada Jumat setelah gagal mempersempit perbedaan untuk mencapai kesepakatan perdagangan.

Hal ini terjadi kurang dari empat minggu sebelum Inggris keluar dari blok Uni Eropa. David Frost negosiator dari Inggris dan Michel Barnier dari Uni Eropa, mengatakan akan memberi tahu para pemimpin mereka untuk mencari dorongan baru untuk pembicaraan Brexit. Pejabat Uni Eropa mengatakan "perbedaan signifikan" telah menjadi masalah yang sulit dalam melakukan perundingan dengan Inggris. Brexit tanpa kesepakatan akan menjadi sentimen negatif bagi pasar keuangan secara jangka pendek.

5. Data Pekerjaan AS

Data nonfarm payrolls yang di keluarkan Departemen Ketenagakerjaan USA menunjukan hanya terjadi kenaikan 245.000 pada November. Angka ini masih di bawah perkiraan para analis yang memperkirakan ada kenaikan 469.000 dan merupakan kenaikan terendah sejak 6 bulan terakhir. Data ini juga lebih rendah dari data bulan Oktober yang sebesar 638.000.

Presiden USA terpilih Joe Biden mengatakan laporan data pekerjaan "suram" dan menunjukkan pemulihan ekonomi terhenti. Ini memberikan tekanan terhadap Kongres AS untuk segera meloloskan RUU Stimulus Fiskal. Investor berharap dengan data yang jelek ini RUU Stimulus lebih mungkin di sepakati dan diluncurkan dalam jangka waktu dekat.

6. Perang Dagang AS - China

Perang dagang China dan AS tidak akan segera berakhir. New York Times melaporkan Presiden terpilih Amerika Joe Biden, tidak akan terburu-buru mengambil tindakan untuk menghapus atau membatalkan perjanjian perdagangan Fase 1 yang ditandatangani Presiden Donald Trump dengan China.

Artinya tidak ada penghapusan tarif ekspor China dalam waktu dekat. Ini tentu mengurangi optimisme yang berkembang selama ini bahwa perang dagang akan segera berakhir setelah Biden terpilih. Terbukti perang dangang dengan penerapan tarif telah menekan perekonomi global termasuk Indonesia.

7. Harga Minyak

Kenaikan harga minyak menjadi sentimen yang mendorong harga saham komoditas menguat. OPEC plus menyetujui kompromi sehingga hanya sedikit meningkatkan produksi pada Januari dan tetap melanjutkan pembatasan pasokan yang ada untuk mengatasi lemahnya permintaan akibat dampak virus corona.

OPEC dan Rusia sepakat untuk mengurangi pemangkasan produksi minyak mulai Januari sebesar 500.000 barel per hari. OPEC+ diperkirakan akan melanjutkan pemotongan yang ada hingga setidaknya Maret. Dengan keputusan ini OPEC Plus akan mengurangi produksi 7,2 juta barel per hari atau 7 persen dari permintaan global mulai Januari. Pemotongan Januari ini lebih sedikit dari pemotongan saat ini yang sebesar 7,7 juta barel per hari.

Kesepakatan OPEC Plus di tambah optimisme vaksin serta harapan stimulus fiskal AS telah mendorong harga minyak ke level tertinggi sejak awal Maret.

8. Indeks PMI Indonesia dan Thailand

Angka Indeks pembelian manajer (PMI) Indonesia dan Thailand yang berada di atas level 50, yang mengindikasikan adanya ekspansi. Sedangkan Malaysia dan Filipina masih di bawah level 50 indikasi masih terjadi kontraksi. Angka manufaktur yang membaik punya pengaruh positif pada surat utang.

Obligasi Indonesia dalam dolar menghasilkan return 10 persen pada kuartal ini dan memimpin di negara emerging market (EM) Asia. Thailand berada di urutan kedua dengan return 5 persen. Kenaikan return obligasi telah menarik aliran dana masuk ke obligasi pemerintah Indonesia senilai US$2,5 miliar pada kuartal ini. Ini lebih besar dari obligasi Thailand telah menyerap aliran dana US$1 miliar. Data tersebut menunjukan pasar obligasi pemerintah Indonesia masih menarik.

"Optimisme vaksin di tambah harapan stimulus fiskal AS akan menjadi katalis positif kenaikan IHSG di tengah meningkatnya kasus Covid-19. IHSG mungkin akan konsolidasi melemah dengan support di level 5,775 sampai 5,563 dan resistance di level 5,853 sampai 5,950," ujar Hans Kwee.

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?
- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

​DISCLAIMER​
Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.