Investor Ritel Makin Melek Informasi, Lebih Berani Ambil Risiko

Ke depan, perkembangan investor ritel diprediksi akan semakin masif
Abdul Malik • 16 Nov 2020
cover

Ilustrasi generasi milenial yang berinvestasi di pasar modal menggunakan smartphone miliknya. (shutterstock)

Bareksa.com - PT MIrae Asset Sekuritas Indonesia menilai investor ritel sudah mulai melek informasi di pasar modal. Hal ini sangat membantu investor ritel dalam mengambil keputusan dalam berinvestasi di saham. Chief Executive Officer Mirae Asset Taye Shim mengatakan, Indonesia adalah salah satu negara dengan performa pasar modal terbaik di ASEAN dalam 20 tahun terakhir.

"Bisa terlihat dari performa saham BBCA yang meningkat 100 kali lipat dalam 20 tahun terakhir dibandingkan Deutsche Bank dan bank lainnya," ujar dia dalam konferensi pers secara virtual baru-baru ini.

Meski begitu, dengan performa pasar saham yang luar biasa tersebut, investor asing yang paling banyak mendapatkan keuntungan. Sementara investor ritel hanya mendapatkan keuntungan sedikit. Jumlah investor ritel yang masih 1 persen dari populasi menjadi penyebab kurangnya peran investor ritel di pasar modal Indonesia. Penyebab lainnya adalah kurang informasi mengenai performa emiten yang mempengaruhi kinerja saham.

Menurut Shim, perkembangan teknologi bisa menjadi jawaban atas permasalahan tersebut. Pasalnya, melalui perkembangan teknologi seperti telepon pintar (smartphone) membuat investor ritel bisa mendapatkan informasi terkini mengenai perkembangan pasar modal.

"Waktu zamannya Blackberry, investor ritel sulit untuk mengakses informasi dan menyebarkannya. Namun sekarang sudah ada smartphone sehingga mereka bisa menyebarkan informasi lebih cepat dibandingkan sebelumnya, sehingga keputusan mengenai investasi bukan lagi berdasarkan insting, namun berdasarkan infomasi yang berkualitas," kata dia.

Dengan semakin mudahnya investor ritel mendapatkan informasi yang berkualitas, maka investor ritel akan semakin aktif bertransaksi. Contoh nyatanya bisa terlihat dari perkembangan pasar modal pada September 2020 yang banyak digerakkan oleh investor ritel. Melihat geliat investor ritel ini, menurut Shim mungkin banyak yang masih khawatir apakah tren ini akan bertahan atau tidak. Namun Shim optimistis, tren ini akan bertahan.

Untuk membuktikan hal tersebut, Shim melihat pilihan saham yang diambil oleh investor ritel dan perkembangannya pada saat ini. Dia menjelaskan, dari 10 top saham yang diambil oleh investor ritel pada 10 tahun lalu, sekitar 5 saham di antaranya masih tetap ada sampai saat ini, bahkan berkembang berkali-kali lipat. Sementara saham yang dipilih oleh investor institusional pada 10 tahun lalu sudah tidak existing lagi saat ini.

"Investor institusional cenderung bersikap prudent dalam berinvestasi sehingga hanya berinvestasi di saham yang reputasinya bagus, namun investor ritel cenderung lebih berani," ucap dia.

Ke depan, Shim melihat perkembangan investor ritel ini akan semakin masif. Apalagi Indonesia memiliki populasi lebih dari 270 juta jiwa dengan hanya 1 persen penduduknya yang baru berinvestasi di pasar modal. Investor ritel, menurut dia bisa memanfaatkan pasar modal sebagai bekal pensiunnya kelak.

"Di Korea Selatan, jumlah penduduknya sekitar 31 juta orang dan sekitar 5,5 juta orang atau 10 persen di antaranya sudah berinvestasi di pasar modal. Apabila sekitar 10 persen penduduk Indonesia juga berinvestasi di pasar modal, maka potensi pasarnya bisa mencapai 27 juta jiwa," terang dia.

Data OJK

Sementara itu, Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), investor individu menopang kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) di tengah net sell dari investor asing pada periode 27 Oktober 2020. Dari data disebutkan, transaksi dari investor ritel berkontribusi hampir 80 persen dari total transaksi investor domestik. Sedangkan sisanya dikontribusi oleh korporasi, asuransi, bank, yayasan dan reksadana.

Kontribusi Investor Ritel

Sumber : OJK

Padahal di periode yang sama atau pada 27 Oktober 2020, investor asing tercatat melakukan net sell Rp47,3 triliun di pasar saham dan Rp106,03 triliun di pasar Surat Berharga Negara (SBN). Meskipun, pada awal 2020, investor asing masih tercatat melakukan net buy Rp3 triliun di pasar saham dan Rp15,2 triliun di pasar SBN.

Frekuensi Transaksi

Kontribusi investor ritel ini terlihat jelas dari meningkatnya frekuensi transaksi selama pandemi Covid-19. Sistem kerja dari rumah (work from home) dan keakraban dengan teknologi membuat jumlah transaksi harian dari investor ritel meningkat signifikan selama masa pandemi Covid-19.

Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi mengatakan, sebelum ada Covid-19, jumlah investor yang aktif bertransaksi mencapai 42-51 ribu investor. Namun, setelah adanya Covid-19, jumlah investor ritel yang aktif bertransaksi mencapai 93 ribu hingga puncaknya mencapai 112 ribu transaksi pada 24 Juli 2020.

"Pertumbuhan investor aktif yang melakukan transaksi harian meningkat 100% jika dibandingkan tahun lalu," ujarnya.

Seiring dengan peningkatan investor yang aktif bertransaksi, nilai transaksi harianpun juga tercatat meningkat. Selama masa pandemi Covid-19, nilai transaksi harian tercatat stabil di level Rp7,7 triliun per hari. Bahkan nilai transaksi harian sempat menembus angka Rp9,3 triliun per hari pada Mei 2020.

Dari sisi jumlah, investor domestik ini juga terus mengalami peningkatan. Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat, per 16 Oktober 2020, jumlah investor domestik meningkat 34,78 persen menjadi 3,34 juta investor dari periode akhir 2019 yang sebesar 2,48 juta investor.

Direktur Utama KSEI Urief Budhi Prasetyo mengatakan, pertumbuhan investor selama sekitar 10 bulan terakhir ditopang oleh pertumbuhan investor reksa dana sebesar 49,4 persen dan investor Surat Berharga Negara (SBN) 37,1 persen. Pertumbuhan juga dicatatkan oleh investor saham selama sekitar 10 bulan terakhir yang meningkat 27,87 persen.

Sumber : BEI

(K09/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.