Geliat Investor Ritel Sokong Pasar Modal di Masa Pandemi

OJK terus lakukan pendalaman pasar dan telah merilis 35 Kebijakan di bidang pasar modal memitigasi dampak pandemi
Abdul Malik • 04 Nov 2020
cover

Ilustrasi investor milenial yang berinvestasi di saham, reksadana dan SBN secara online. (Shutterstock)

Bareksa.com - Dulu, investor ritel mungkin tidak banyak dilirik keberadaannya karena nilai transaksinya yang kecil dan tidak seberapa dibandingkan dengan investor asing yang nilai transaksinya bisa menggegerkan bursa saham. Namun, lambat laun taring investor ritel mulai kelihatan dan menunjukkan tajamnya pada masa krisis, terutama saat pandemi Covid-19 seperti saat ini.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), investor individu menopang kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tengah net sell investor asing pada periode 27 Oktober 2020. Dari data disebutkan, transaksi dari investor ritel berkontribusi hampir 80 persen dari total transaksi investor domestik. Sedangkan sisanya dikontribusi oleh korporasi, asuransi, bank, yayasan dan reksadana.

Kontribusi Investor Ritel

Sumber : OJK

Padahal di periode yang sama atau pada 27 Oktober 2020, investor asing tercatat melakukan net sell Rp47,3 triliun di pasar saham dan Rp106,03 triliun di pasar Surat Berharga Negara (SBN). Meskipun, pada awal 2020, investor asing masih tercatat melakukan net buy Rp3 triliun di pasar saham dan Rp15,2 triliun di pasar SBN.

Berkat kinerja investor ritel ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di masa pandemi Covid-19 ini masih tertolong dan bertahan di level 5.000, tepatnya 5.128 pada 27 Oktober 2020. Meskipun IHSG ini menurun 18,59 persen secara year to date (YtD), namun kinerja IHSG ini masih lebih baik dibandingkan dengan bursa saham Inggris yang menurun 24,04 persen.

Beberapa sektor saham juga menunjukkan perbaikan. Seperti sektor perdagangan yang menguat 1 persen, sektor keuangan 1,11 persen, sektor pertanian 3,23 persen dan sektor properti 2,23 persen.

Frekuensi Transaksi

Kontribusi investor ritel ini terlihat jelas dari meningkatnya frekuensi transaksi selama pandemi Covid-19. Sistem kerja dari rumah (work from home) dan keakraban dengan teknologi membuat jumlah transaksi harian dari investor ritel meningkat signifikan selama masa pandemi Covid-19.

Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi mengatakan sebelum ada Covid-19, jumlah investor yang aktif bertransaksi mencapai 42-51 ribu investor. Namun, setelah adanya pandemi Covid-19, jumlah investor ritel yang aktif bertransaksi mencapai 93 ribu hingga puncaknya mencapai 112 ribu transaksi pada 24 Juli 2020. "Pertumbuhan investor aktif yang melakukan transaksi harian meningkat 100 persen jika dibandingkan tahun lalu," ujar dia belum lama ini.

Seiring dengan peningkatan investor yang aktif bertransaksi, nilai transaksi harianpun juga tercatat meningkat. Selama masa pandemi Covid-19, nilai transaksi harian tercatat stabil di level Rp7,7 triliun per hari. Bahkan nilai transaksi harian sempat menembus angka Rp9,3 triliun per hari pada Mei 2020.

Frekuensi Transaksi di ASEAN

Sumber : BEI

Dengan peningkatan tersebut, frekuensi transaksi harian Indonesia tercatat tertinggi di kawasan Asia Tenggara. Pada Mei 2020, frekuensi transaksi harian di Bursa Efek Indonesia mencapai 479 ribu kali atau lebih tinggi dari Thailand yang mencapai 404 ribu kali. Padahal pada 2017, Indonesia sempat kalah dari Thailand dengan menempati posisi nomor dua dengan 313 ribu kali transaksi.

Jumlah Investor

Dari sisi jumlah, investor domestik ini juga terus mengalami peningkatan. Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat, per 16 Oktober 2020, jumlah investor domestik meningkat 34,78 persen menjadi 3,34 juta investor dari periode akhir 2019 yang sebesar 2,48 juta investor. Direktur Utama KSEI Urief Budhi Prasetyo, mengatakan pertumbuhan investor selama sekitar 10 bulan terakhir ditopang oleh pertumbuhan investor reksadana 49,4 persen dan investor Surat Berharga Negara (SBN) 37,1 persen. Pertumbuhan juga dicatatkan oleh investor saham yang meningkat 27,87 persen.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa PT Bursa Efek Indonesia, Laksono W. Widodo, mengatakan sepanjang tahun ini merupakan tahun sulit bagi pasar modal seluruh dunia, karena pandemi Covid-19 telah mengakibatkan gejolak pasar. Sepanjang tahun ini, pasar saham Indonesia mengalami volatilitas cukup tinggi, utamanya di masa awal pandemi. Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat terpuruk di titik terendahnya pada 24 Maret 2020 di level 3.937.

"Namun sejak Juli volatilitas pasar mereda, kemudian pasar mulai bergerak stabil. Pasar kita memang belum pulih seperti sebelum masa pandemi, namun lebih stabil karena peran investor ritel dalam negeri," ujar Laksono (21/10/2020).

Volatilitas Pasar Global vs Domestik

Sumber : BEI

Laksono mengatakan kini pasar modal Indonesia memiliki basis investor ritel domestik yang kuat, guna menopang kinerja pasar modal di masa sulit seperti selama masa pandemi Covid-19 saat ini. Berdasarkan profilnya, kebanyakan investor ritel tersebut ialah generasi milenial.

Jumlah Investor