Harga Minyak AS Sentuh Level Penutupan Tertinggi, IHSG Berpotensi Menguat

Sinyal ekonomi AS membaik, rupiah ditutup tertekan
Bareksa • 24 Apr 2019
cover

Ilustrasi harga minyak mentah bensin (BBM) global naik. Copyright: <a href='https://www.123rf.com/profile_bluebay'>bluebay / 123RF Stock Photo</a>

Bareksa.com - IHSG menguat 0,75 persen di 6.462 dipicu oleh aksi beli saham-saham blue chip. Sektor pertambangan (1,98 persen) mengalami kenaikan tertinggi sedangkan sektor properti (-0,13 persen) menjadi satu-satunya sektor yang melemah.

Saham UNVR, TLKM dan ASII menjadi market leader sedangkan saham BMRI, FREN dan MKPI menjadi market laggard. Kenaikan IHSG terjadi ditengah bervariasinya bursa Asia di mana indeks Shanghai turun 0,51 persen dan Nikkei naik 0,19 persen dipengaruhi pergerakan harga minyak dunia.

Wall Street menguat dengan indeks DJIA naik 0,55 persen dan S&P 500 naik 0,88 persen serta Nasdaq naik 1,32 persen dan mencatatkan rekor penutupan tertinggi baru, menyusul rilis laporan keuangan perusahaan yang lebih baik dari ekspektasi dari sejumlah perusahaan antara lain Coca Cola, United Technologies dan Twitter.

Sekitar 78 persen perusahaan indeks S&P 500 melaporkan kinerja yang melampaui proyeksi. Selain itu, pasar juga mencermati harga minyak dipicu kecemasan akan suplai global setelah AS mencabut pengecualian sanksi terhadap produksi minyak asal Iran.

IHSG Berpotensi Melanjutkan Penguatan

IHSG pada perdagangan kemarin ditutup menguat berada di level 6.462. Indeks berpeluang untuk melanjutkan penguatannya setelah belum mampu melewati EMA 50. IHSG berpeluang menuju resistance level 6.495 hingga 6.515.

Akan tetapi stochastic yang berada pada kecenderungan melemah berpotensi menghambat laju penguatan indeks dan berpotensi menguji support level 6.425.

Harga Minyak AS Sentuh Level Penutupan Tertinggi Sejak Oktober

Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) mencapai level penutupan tertingginya dalam sekitar enam bulan pada perdagangan Selasa (23/4/2019), setelah Arab Saudi dikatakan belum pasti soal peningkatan output demi mengimbangi dampak sanksi pemerintah AS terhadap Iran.

Minyak mentah berjangka Brent menguat sehari setelah AS berjanji untuk mendorong ekspor minyak Iran menjadi "nol". Pemerintah AS menyatakan tidak akan memperpanjang keringanan sanksi bagi Iran. Keringanan ini sebelumnya telah memungkinkan China, India, dan beberapa negara lain untuk terus membeli minyak 1,4 juta barel per hari dari Iran.

Terkait dengan hal tersebut, pemerintah Arab Saudi diinformasikan menahan setiap perubahan pasokan yang signifikan hingga melihat penurunan aktual dalam produksi minyak Iran.

Menurut sumber terkait, Saudi dan Uni Emirat Arab dapat meningkatkan produksi minyak gabungan sekitar 1,5 juta barel per hari dalam jangka waktu pendek. Namun, analis melihat Saudi cenderung akan berhati-hati untuk meningkatkan produksinya.

Meski Saudi berjanji untuk membantu menjaga agar pasar global tetap dipasok secara memadai, sentimen sanksi Iran muncul saat langkah pembatasan produksi oleh OPEC dan gejolak di Venezuela dan Libya sudah memperketat pasokan.

Sinyal Ekonomi AS Membaik, Rupiah Ditutup Tertekan

Rupiah ditutup melemah akibat tertekan penguatan indeks dolar AS seiring dengan memulihnya prediksi ekonomi Negeri Paman Sam. Kenaikan harga minyak akibat rencana pencabutan keringanan sanksi Iran oleh AS pun memiliki andil dalam depresiasi mata uang garuda. Pasalnya, Indonesia adalah negara net importir minyak yang mau tidak mau harus mengimpor demi memenuhi kebutuhan dalam negeri.

(KA02/AM)

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui saham mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami kinerja keuangan saham tersebut.