Membandingkan BBCA dan UNTR Sebagai Penggerak Utama IHSG Januari 2019

BBCA merupakan pendorong laju IHSG, sementara UNTR sebaliknya
Bareksa • 04 Feb 2019
cover

Karyawan melintas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (23/3). Perdagangan IHSG ditutup melemah 0,69 persen atau 43,38 poin ke level 6.210,7. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

Bareksa.com – Bursa Efek Indonesia (BEI) telah melalui bulan pertama tahun 2019 dengan catatan yang cukup baik. Terutama jika melihat posisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sudah naik 5,46 persen secara year to date ke level 6.532,97 dan menjadi indeks dengan pertumbuhan tertinggi ke dua di ASEAN dan ke empat di Asia Pasifik.

Sepanjang satu bulan pertama ini, BEI mencatat rata-rata transaksi harian mencapai Rp10,76 triliun dan membawa kapitalisasi pasar IHSG mencapai Rp7.416 triliun. Secara total, nilai transaksi saham sepanjang Januari 2019 mencapai Rp236,7 triliun.

Dari catatan itu, kabar baik lainnya datang dari aksi investor asing yang membukukan beli bersih alias net buy Rp13,82 triliun.

Jangan lupakan juga saham-saham yang menjadi penggerak IHSG sepanjang Januari 2019. Saham-saham ini berkontribusi mendorong maupun menggerus kenaikan IHSG.

BEI mencatat setidaknya ada 20 saham yang masuk dalam daftar penggerak IHSG. Sebagian besar di antaranya merupakan saham dengan kapitalisasi besar. Namun tak sedikit saham yang punya nilai kapitalisasi menengah maupun kecil.

IHSG Year 2019 Movers

Sumber: BEI

Dari 20 daftar saham di atas, Bareksa akan mengulas saham-saham posisi pertama yang menjadi pendorong maupun penahan laju IHSG. Saham-saham itu antara lain PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT United Tractors Tbk (UNTR).

BBCA

Siapa yang tidak kenal saham yang satu ini. Selain merupakan saham salah satu bank terbesar di Indonesia, BBCA ini merupakan pemimpin nilai kapitalisasi pasar di BEI dengan nilai Rp688 triliun (per 31 Januari 2019).

Melihat catatan itu, bukan tidak mungkin pergerakkan saham BBCA selalui jadi perhatian para investor. secara year to date hingga 31 Januari 2019, saham BBCA telah naik 8,36 persen dari Rp26.000 per akhir 2018 menjadi Rp28.175.

Penguatan saham BBCA sejalan dengan aksi net buy investor asing yang telah mencapai Rp2,39 triliun. Jumlah ini terdiri dari transaksi di pasar regular Rp2,21 triliun dan transaksi di pasar negosiasi Rp183,18 miliar.

Sejauh ini, BBCA terus menarik perhatian para investor mengingat rencana BCA yang akan menggelar aksi korporasi akuisisi. Selain itu, BCA juga belum menyampaikan laporan keuangannya sepanjang tahun 2018 lalu.

Pergerakkan Saham BBCA Periode 28 Desember 2018 – 31 Januari 2019

Sumber: Bareksa.com

Kabar terakhir menyebut, BCA tengah mengincar bank non Tbk. BCA juga tercatat merupakan pemegang 1,03 persen saham bank hasil merger antara PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) dan PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia.

UNTR

Bagi UNTR, pelemahannya di bulan ini bukan hal yang baru. Jika melihat ke belakang, pelemahan saham UNTR sudah berlangsung sejak menyentuh level tertinggi Rp40.425 pada 23 Januari 2018. Secara year to date hingga 31 Januari 2019 UNTR telah melemah 5,94 persen dari Rp27.350 menjadi Rp25.725.

Pergerakkan Saham UNTR Periode 28 Desember 2018 – 31 Januari 2019

Sumber: Bareksa.com

Pelemaham harga itu membuat UNTR terlempar dari daftar 10 besar market cap di BEI. Per 31 Januari 2019, market cap UNTR bernilai Rp96 triliun.

Beberapa analis menilai, tekanan pada saham UNTR sejalan dengan tren harga industri tambang batu bara tanah air yang pada tahun ini diperkirakan menurun. Ditambah lagi, pemerintah juga memangkas target produksi batu bara dari 485 juta ton menjadi hanya 480 juta ton. Manajemen UNTR pun telah mengantisipasi hal itu dengan merevisi target penjualan alat beratnya di tahun ini.

(AM)