BeritaArrow iconKategoriArrow iconArtikel

Sepekan Pertama 2018 Asing Masuk Rp1,98T di Saham, Faktor Apa Saja Pendorongnya?

10 Januari 2018
Tags:
Sepekan Pertama 2018 Asing Masuk Rp1,98T di Saham, Faktor Apa Saja Pendorongnya?
Karyawan melintas di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta, Rabu (1/4). ANTARA FOTO/M Agung Rajasa

Masuknya arus dana asing di bursa saham ikut mendorong IHSG menyentuh level 6.373

Bareksa.com - Sepekan pertama tahun 2018, investor asing terpantau kembali masuk ke pasar saham Indonesia setelah mencatat jual bersih pada tahun lalu sehingga turut menopang peningkatan indeks harga saham gabungan (IHSG). Sejumlah faktor yang menunjukkan kuatnya ekonomi nasional, serta peningkatan peringkat utang oleh lembaga asing, menjadi daya tarik bagi pemodal asing untuk berinvestasi di bursa saham Indonesia

Sejak awal tahun hingga 9 Januari 2018, investor asing mencatatkan beli bersih (net buy) di Bursa Efek Indonesia sebesar Rp1,98 triliun. Posisi kepemilikan asing di pasar saham pun kembali meningkat menjadi Rp114,26 triliun dari sebelumnya Rp112,28 triliun pada akhir tahun lalu. Tahun 2017, investor asing mencatat net sell sekitar Rp40 triliun. (Baca juga IHSG Cetak Rekor Baru, Kenapa Asing Tetap Net Sell?)

Arus dana asing ini pun ikut mendorong IHSG kembali menyentuh level penutupan tertinggi sepanjang masa 6.373,14 pada 9 Januari 2018.

Promo Terbaru di Bareksa

Grafik: Arus Dana Asing dan IHSG Year to Date (YTD)

Illustration

Sumber : Bareksa.com

Menurut analisis Bareksa, sejumlah faktor terkait ekonomi menjadi daya tarik bagi investor asing untuk berinvestasi di Indonesia. Berikut ulasannya.

1. Rating Upgrade

Pada akhir Desember 2017, lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings menaikkan rating utang Indonesia menjadi 'BBB' dari sebelumnya 'BBB-' dengan outlook tetap stabil. Level BBB ini merupakan level tertinggi peringkat rating yang pernah dicapai Indonesia sejak tahun 1995.

Dalam keterangan tertulis Fitch, lembaga pemeringkat itu memandang ketahanan Indonesia terhadap guncangan eksternal terus menguat dalam beberapa tahun terakhir, karena kebijakan makroekonomi secara konsisten diarahkan untuk menjaga stabilitas. (Baca : Jelang Tahun Pemilu, Jokowi Minta Dunia Usaha Tidak Wait and See)

2. Kinerja ekspor kuat

Sisi fundamental Indonesia pun menguat. Hal ini tergambar dari angka surplus neraca perdagangan Indonesia pada November 2017 mencapai US$127,2 juta. Secara rinci, nilai ekspor Indonesia November 2017 mencapai US$15,28 miliar, meningkat 13,18 persen dibandingkan nilai ekspor pada September 2016 sebesar US$13,5 miliar.

Komoditas menjadi penunjang utama realisasi nilai ekspor Indonesia Januari–November 2017 yang mencapai US$153,9 miliar atau meningkat 17,16 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Kontribusi dari ekspor terhadap pertumbuhan bukan hanya secara langsung, tetapi juga secara tidak langsung sebab pertumbuhan ekspor yang mapan mendorong pertumbuhan konsumsi masyarakat yang kemudian juga menjadi faktor penunjang pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Grafik : Pertumbuhan Neraca Dagang Indonesia Sepanjang 2017 (US$ Miliar)

Illustration

Sumber : BPS, diolah Bareksa

3. Nilai tukar rupiah terapresiasi

Sejauh ini terlihat, nilai tukar rupiah terpantau menguat terhadap dolar AS. Faktor kondisi ekonomi nasional yang kuat disinyalir menjadi sentimen positif yang memperkuat nilai rupiah.

Nilai tukar rupiah telah menguat 0,7 persen ke level 13.449 per dolar AS pada perdagangan kemarin 9 Januari 2018, jika dibandingkan angka penghujung tahun yang masih berada di level 13.548 per dolar AS.

Grafik: Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar Amerika Serikat

Illustration

Sumber : Bareksa.com

4. Inflasi stabil

Selain itu, yang mendorong masuknya asing juga tingkat inflasi Indonesia cenderung stabil. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat inflasi sepanjang tahun 2017 sebesar 3,61 persen. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan dengan target pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2017 yang ditetapkan sebesar 4,3 persen.

5. Cadangan devisa yang kuat

Kebijakan nilai tukar yang lebih fleksibel sejak pertengahan 2013 juga telah membantu menumbuhkan cadangan devisa hingga US$126 miliar pada November 2017. Angka ini cukup untuk tujuh bulan pembayaran ekspor. Data ini menjadi salah satu sinyal positif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Grafik : Pertumbuhan Cadangan Devisa Indonesia (US$ Miliar)

Illustration

Sumber : Bareksa.com

Posisi cadangan devisa per November 2017 masih berada di level tertinggi sejak Juni 2000, yang menggambarkan posisi cadangan devisa Indonesia saat ini masih kuat. (Baca : Ini Penyebab Cadangan Devisa Pada November 2017 Turun Jadi US$125,9 Miliar)

Head of Intermediary Business Schroders Indonesia Teddy Oetomo menjelaskan bahwa Indonesia juga memasuki tahun politik yang artinya akan banyak pengeluaran yang bersifat konsumtif. “Ditambah lagi perbaikan harga komoditas, Asian Games, IMF & World Bank Annual Meeting. Jadi, Indonesia tahun ini lumayan mapan sehingga asing akan kembali masuk,” ujar Teddy. (Baca juga Ulasan Lengkap Prospek Pasar Saham Jelang Pilkada 2018 dan Pilpres 2019)

Sebagai informasi, meski mencatat net sell sekitar Rp40 triliun pada tahun lalu, kenyataannya nilai investasi asing pada pasar saham Indonesia hingga November 2017 naik Rp167 triliun. Teddy menilai bahwa investor asing hanya merealisasikan sebagian keuntungannya untuk kembali menempatkan dananya itu ke negara lain yang tengah mencatat return lebih baik. (Baca juga Schroders : Banyak Katalis Positif, Investor Asing Akan Kembali Ramaikan IHSG) (hm)

Pilihan Investasi di Bareksa

Klik produk untuk lihat lebih detail.

Produk EksklusifHarga/Unit1 Bulan6 BulanYTD1 Tahun3 Tahun5 Tahun

Capital Fixed Income Fund

1.775,36

Up0,54%
Up3,36%
Up0,03%
Up6,74%
Up17,31%
Up44,99%

Trimegah Dana Tetap Syariah

1.326,18

Up0,93%
Up4,25%
Up0,03%
Up5,89%
Up18,89%
-

STAR Stable Income Fund

1.925,85

Up0,48%
Up2,96%
Up0,02%
Up6,01%
Up29,39%
Up64,87%

I-Hajj Syariah Fund

4.822,06

Up0,51%
Up3,05%
Up0,02%
Up6,14%
Up21,89%
Up40,51%

Reksa Dana Syariah Syailendra OVO Bareksa Tunai Likuid

1.140,38

Up0,49%
Up2,80%
Up0,02%
Up4,93%
--
Tags:

Video Pilihan

Lihat Semua

Artikel Lainnya

Lihat Semua