Hadapi Dampak Inflasi, Orang Kaya di Asia Pilih Investasi Emas dan Instrumen Ini

Orang-orang tajir di Asia merealokasikan kembali investasinya sekitar US$1 juta ke instrumen yang melindungi asetnya dari gejolak pasar
Abdul Malik • 12 Sep 2022
cover

Ilustrasi investasi emas logam mulia atau emas batangan. (shutterstock)

Bareksa.com - Meningkatnya kekhawatiran atas lonjakan inflasi dan volatilitas pasar, orang kaya di Asia jadi berhati-hati menempatkan dananya dalam berinvestasi.

Sebagaimana dilaporkan Bloomberg, dikutip dari Yahoo Finance (7/9/2022), orang-orang tajir di Asia merealokasikan kembali investasinya sekitar US$1 juta ke instrumen yang melindungi asetnya dari gejolak pasar. Demikian hasil studi Lombard Odier tahun 2022 tentang individu-individu dengan kekayaan bersih tinggi di Asia Pasifik. Lombard Odier merupakan grup perbankan asal Swiss. 

Laporan tersebut menyatakan banyak orang kaya di Asia semakin menghindari saham dan obligasi untuk fokus berinvestasi di perusahaan atau aset mereka sendiri yang dianggap lebih aman, juga lebih memilih emas dan uang tunai. Pada saat yang sama, mereka juga menjauhi Kripto karena sudah terbukti pasarnya sangat bergejolak. 

Menurut Bloomberg Billionaires Index, merosotnya harga saham-saham teknologi dan inflasi yang meroket di tengah kenaikan suku bunga telah memangkas US$1,4 triliun dari nilai kekayaan kumulatif 500 orang terkaya di dunia di semester I tahun ini. 

Hal ini kebalikan dari dua tahun terakhir, ketika kebijakan bank sentral untuk memerangi dampak Covid-19 membantu meningkatkan aset dan kekayaan pribadi orang-orang kaya tersebut.

“Investor di Asia Pasifik menjadi lebih konservatif dalam mengelola portofolio investasi mereka dan beralih ke aset alternatif yang lebih aman,” kata Vincent Magnenat, Kepala Regional Asia Lombard Odier.

Kekhawatiran soal likuiditas yang rendah, terutama di kalangan generasi yang lebih tua, menggarisbawahi antusiasme untuk aset korporasi. Investor di Asia Pasifik tampaknya percaya bahwa itu memungkinkan mereka untuk merespons perubahan tren di pasar modal, sehingga bisa mengelola risiko dari investasi mereka. 

Bank yang mengelola dana nasabah sekitar 358 miliar franc Swiss (US$363 miliar) aset klien secara global, melakukan survei terhadap lebih dari 450 individu berpenghasilan tinggi yang berdomisili di Singapura, Hong Kong, Jepang, Thailand, Filipina, Indonesia, Taiwan, dan Australia antara Mei dan Juni 2022.

Harga Emas Hari Ini

Adapun harga emas hari ini (12/9/2022), seperti dilansir Reuters, diperdagangkan mendatar menjelas rilis inflasi Amerika Serikat yang dapat mempengaruhi kenaikan suku bunga Federal Reserve berikutnya.

Harga emas spot bertahan di US$1.714,41 per ounce, pada pukul 12.24 WIB. Emas berjangka AS turun 0,2% jadi US$1.725.

"Masih ada beberapa tekanan penurunan umum yang tersisa pada emas, tetapi angka inflasi minggu ini dapat memberikan beberapa bantuan," kata Clifford Bennett, kepala ekonom di ACY Securities.

"Indikasi lebih lanjut bahwa inflasi mungkin telah mencapai puncaknya akan mendorong pasar emas. The Fed akan terus menaikkan suku bunga, tetapi mungkin ada beberapa hal yang bisa mendorong kembali emas menyusul penurunan tajam baru-baru ini."

Data Indeks Harga Konsumen AS pada Agustus, yang akan dirilis pada Selasa, diprediksi akan melaju 8,1% sepanjang tahun, dibandingkan dengan angka 8,5% untuk Juli. 

Pejabat Fed pada Jumat akan mengakhiri periode komentar publik menjelang pertemuan kebijakan bank sentral pada 20-21 September. Para pelaku pasar memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga acuan 75 basis poin bulan ini.

Suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan biaya peluang memegang emas batangan yang tidak menghasilkan bunga. Indeks dolar AS melayang mendekati level terendah sejak 30 Agustus pada Jumat kemarin. 

Investasi Sekarang

(AM)

DISCLAIMER​

Fitur Bareksa Emas dikelola oleh PT Bareksa Inovasi Digital, berkerja sama dengan Mitra Emas berizin.