Minat Masyarakat Berinvestasi Emas Meningkat, Laba Antam Melesat

Antam mencatat laba Rp1,16 triliun pada semester I 2021, berbanding terbalik dengan semester I 2020 yang merugi Rp159,4 miliar
Abdul Malik • 28 Sep 2021
cover

Ilustrasi emas batangan atau logam mulia. (Shutterstock)

Bareksa.com - PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mencatat laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk Rp1,16 triliun pada semester I 2021. Nilai ini berbanding terbalik dengan perolehan pada periode yang sama tahun sebelumnya yang merugi Rp159,4 miliar.

Sementara itu, di periode yang sama, Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EBITDA) mencapai Rp2,49 triliun. Kemudian, laba kotor mencapai Rp3,17 triliun atau bertumbuh 141 persen dari laba kotor pada periode yang sama tahun 2020 yang mencapai Rp1,31 triliun. Laba usaha juga meningkat 442 persen menjadi Rp1,53 triliun.

Sekretaris Perusahaan Aneka Tambang Yulan Kustiyan, faktor pendukung tercapainya peningkatan ini adalah pertumbuhan tingkat penjualan serta pengelolaan biaya beban pokok penjualan dan usaha yang optimal.

"Peningkatan nilai tambah produk, optimalisasi tingkat produksi, penjualan, dan implementasi pengelolaan biaya yang tepat dan efisien memberikan kontribusi yang mendukung pertumbuhan kinerja positif perusahaan," terang dia dalam keterangan (28/9).

Yulan mengungkapkan, pada tahun ini, Antam berfokus pada strategi untuk mengembangkan basis pelanggan di dalam negeri. Antam mengoptimalkan pemasaran produk emas dan bijih nikel Antam, seiring dengan pertumbuhan tingkat penyerapan pasar dalam negeri.

Pada semester I 2021, total penjualan bersih Antam tercatat Rp17,28 triliun, meroket 87 persen dibandingkan periode semester I 2020 yang sebesar Rp9,24 triliun. Penjualan bersih domestik menjadi penyumbang capaian yang dominan Rp13,68 triliun atau 79 persen dari total penjualan bersih Antam.

Berdasarkan segmentasi komoditas, penjualan produk emas menjadi kontributor terbesar terhadap total penjualan bersih Rp11,87 triliun atau 69 persen, disusul feronikel yang mencatatkan penjualan Rp2,59 triliun atau 15 persen, bijih nikel Rp2,04 triliun atau 12 persen, serta segmen bauksit dan alumina Rp613,68 miliar atau 4 persen.

Ditopang Kesadaran Masyarakat Investasi Emas

Pada 2021, kata Yulan, Antam berfokus dalam pengembangan basis pelanggan logam mulia di pasar dalam negeri. Hal tersebut seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dalam berinvestasi emas serta pertumbuhan permintaan emas di pasar domestik.

Kinerja penjualan emas Antam pada semester I 2021 mencapai 13.341 kg, meningkat 69 persen dari capaian penjualan semester I-2020. Sementara itu, pada semester I-2021 Antam mencatatkan total volume produksi emas dari tambang Pongkor dan Cibaliung sebesar 719 kg.

Antam terus melakukan inovasi penjualan produk emas Logam Mulia dengan mengedepankan mekanisme transaksi penjualan dan buyback emas secara online melalui situs resmi www.logammulia.com. Melalui jaringan Butik Emas Logam Mulia yang tersebar di 11 kota di Indonesia dan kegiatan pameran di beberapa lokasi, Antam menjalankan kegiatan operasi dan penjualan dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat.

Sejalan dengan strategi untuk memperluas segmen pasar emas di dalam negeri, Antam bersama entitas anak PT Abuki Jaya Stainless Indonesia (yang bertransformasi menjadi PT Emas Antam Indonesia) dan PT Hartadinata Abadi Tbk bersinergi meluncurkan dua produk emas inovatif, yaitu EmasKITA dan Kencana. EmasKITA (Emas Kecil Investasi Terpercaya dan Aman) merupakan produk logam mulia mikro dengan pecahan 0,1 gram dan 0,25 gram. Sedangkan produk Kencana (Keindahan Terpercaya dan Bermakna) merupakan koleksi perhiasan emas.

(K09/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.