BeritaArrow iconBerita Ekonomi TerkiniArrow iconArtikel

Berita Hari Ini : Penjualan Ritel Melambat, TINS Raih Pinjaman Rp3,8 Triliun

Bareksa13 Maret 2019
Tags:
Berita Hari Ini : Penjualan Ritel Melambat, TINS Raih Pinjaman Rp3,8 Triliun
Pedagang merapihkan dagangannya di Pasar Senen, Jakarta, Selasa (10/10). Berdasarkan Indeks Penjualan Riil (IPR) yang dirilis Bank Indonesia, penjualan eceran pada Agustus 2017 meningkat 2,2 persen (yoy) dimana peningkatan tertinggi terjadi pada kelompok makanan termasuk cabai, tomat, yang tumbuh 7,9 persen (yoy). (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)

IMAS jual saham MASA, AUTO kurangi kepemilikan di Evoluzione Tyres, Lippo Revitalisasi Bisnis, DNAR tambah modal

Bareksa.com - Berikut adalah intisari perkembangan penting di pasar modal dan aksi korporasi, yang disarikan dari media dan laporan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Rabu, 13 Maret 2019 :

Penjualan Ritel

Tingkat konsumsi masyarakat Indonesia terlihat lesu pada bulan pertama 2019. Meski demikian, pelaku usaha ritel menyatakan kondisi ini mulai membaik pada Februari dan Maret 2019. Gambaran lesunya tingkat konsumsi masyarakat di awal tahun terlihat dari hasil Survei Penjualan Eceran yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI).

Promo Terbaru di Bareksa

Survei menunjukkan Indeks Penjualan Riil (IPR) sepanjang Januari 2019 tumbuh 7,2 persen year on year (yoy) menjadi 218,1 poin. Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan IPR bulan Desember 2018 sebesar 236,3 poin.

Sebagai catatan, indeks di atas 100 poin berarti menunjukkan adanya peningkatan penjualan riil. BI mencatat, melambatnya pertumbuhan IPR Januari karena pertumbuhan penjualan subkelompok komoditas makanan, minuman dan tembakau yang hanya tumbuh 8,9 persen secara tahunan.

Pertumbuhan ini lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang masih mencapai 9,1 persen tahunan. Sementara komoditas peralatan informasi dan komunikasi, mencatatkan kontraksi 14,2 persen yoy, lebih dalam dibandingkan Desember 2018 yang sebesar 10,3 persen yoy.

PT Timah Tbk (TINS)

Perseroan mendapat fasilitas pinjaman dari dua bank besar senilai Rp3,8 triliun. Dana tersebut bakal memaksimalkan kinerja perusahaan di tahun ini. Fasilitas pinjaman tersebut dari Bank Mandiri Rp1 triliun yang perjanjian diperoleh pada 28 Januari 2019. satu lagi dari MUFG senilai Rp1,3 triliun.

Fasilitas pinjaman tersebut diperoleh 19 Februari 2019. Direktur Keuangan TINS Emil Ermindra mengaku cukup senang mendapat fasilitas pinjaman ini karena beban bunga yang murah.

"Bunganya murah, di bawah bunga pasar. Tidak etis kalau disebutkan (bunganya), karena hasil nego khusus," jelas dia seperti dikutip Kontan.

Emil menjelaskan pinjaman tersebut bersifat sebagai pinjaman modal kerja dengan tenor atau jangka waktu yang diberikan oleh kedua bank tersebut pun sifatnya jangka pendek yakni satu tahun. Namun, tenor tersebut bisa diperpanjang sesuai hasil kajian pihak perbankan.

"Bank Mandiri memberikan tambahan plafon kredit modal kerja transaksional sebesar Rp1 triliun dan MUFG memberikan tambahan sebesar Rp 500 miliar," ujar Emil.

PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS)

Perseroan mengalihkan saham milik anak usaha yang memiliki saham PT Multistrada Arah Sarana Tbk (MASA). IMAS menjual saham MASA kepada Compagnie Generale Des Establissements Michelin. Ini merupakan bagian penawaran tender alias tender offer Michelin atas saham MASA. Michelin resmi membeli mayoritas saham MASA pada akhir Januari lalu.

Dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), anak usaha IMAS yang memiliki saham MASA adalah PT Central Sole Agency (CSA), PT IMG Sejahtera Langgeng (IMGSL) dan PT Indomobil Prima Niaga (IPN).

Jusak Kertowidjojo, Direktur Utama IMAS, dalam keterbukaan informasi, menyebut, CSA menjual 1,53 miliar saham MASA dengan nilai transaksi sebesar Rp1,29 triliun.

PT Astra Otoparts Tbk (AUTO)

Kepemilikan saham PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) di anak perusahaan hasil kerjasama dengan Pirelli Tyre S.P.A berkurang. Ini karena Pirelli Tyre harus menambah modal kepada anak usaha hasil patungan kedua perusahaan tadi, yakni PT Evoluzione Tyres.

Berdasarkan laporan keuangan emiten tahun buku 2018, Pirelli menambah modal US$6,8 juta dan konversi pinjaman pemegang saham senilai US$9,6 juta. Inilah yang membuat saham AUTO di Evoluzione Tyres tergerus menjadi 37 persen dari 40 persen. Perjanjian ini akan berlaku pada 31 Maret 2019.

Public Relations Astra Otoparts Hanna Carissa mengatakan, usaha patungan ini telah berlangsung sejak 2012. Menurut dia, usaha patungan ini memproduksi ban yang akan dipasarkan di dalam negeri dan luar negeri. Nilai total investasi untuk pengembangan anak usaha ini mencapai US$120 juta. Usaha patungan ini memproduksi ban 2W dan telah berkontribusi terhadap kinerja AUTO sebagai pemasok produk ban.

"AUTO telah menjual ban merek Pirelli dan Aspira Premio," ujar Hanna.

Grup Lippo

Korporasi milik keluarga Riady ini memiliki agenda besar. Setelah merombak jajaran manajemen kunci perusahaan, grup bisnis milik Keluarga Riady ini bakal melakukan revitalisasi bisnis. Caranya dengan menggalang dana (fundraising) dengan nilai jumbo, US$1,01 miliar. Dari nilai ini, dana sebesar US$730 juta berasal dari rights issue PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR).

Sementara, sisa US$280 juta berasal dari penyelesaian divestasi aset. Keluarga Riady, melalui PT Inti Anugerah Pratama, bakal menjadi pembeli siaga atau standby buyer atas aksi korporasi tersebut.

Asumsi harga pelaksanaan penerbitan saham baru tersebut sebesar Rp235 per saham. Tiga Investments Pte Ltd juga telah berkomitmen menyerap rights issue LPKR. Nilai komitmennya US$70 juta. George Raymond Zage III dan Chow Tai Fook Nominee Limited merupakan pihak yang berada di dalam kendaraan investasi tersebut.

"Proses rights issue ditargetkan selesai semester pertama tahun ini," ujar Chief Executive Officer (CEO) LPKR John Riady seperti dikutip Kontan.

PT Bank Dinar Tbk (DNAR)

Bank Dinar langsung menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 11 Maret 2019. Beberapa keputusan penting terkait akuisisi juga disepakati. Di antaranya, bank hasil akuisisi sepakat untuk menambah modal dasar bank hasil akuisisi hingga mencapai Rp2,5 triliun.

Direktur Utama Bank Dinar Hendra Lie mengatakan, peningkatan ini akan berasal dari internal kas Bank Dinar dan Bank Oke.

“Peningkatan modal dasar bukan dari tambahan setoran modal. Ini sudah ada dalam anggaran dasar modal sebelumnya,” katanya seperti dikutip Kontan.

Selain itu, hasil RUPSLB juga menetapkan bahwa bank hasil akuisisi akan membeli kembali saham dari para pemegang saham yang tak setuju rencana akuisisi. Nilainya Rp390 per unit, lebih tinggi dibandingkan harga wajar sebesar Rp324 per saham.

(AM)

Pilihan Investasi di Bareksa

Klik produk untuk lihat lebih detail.

Produk EksklusifHarga/Unit1 Bulan6 BulanYTD1 Tahun3 Tahun5 Tahun

Capital Fixed Income Fund

1.775,36

Up0,54%
Up3,36%
Up0,03%
Up6,74%
Up17,31%
Up44,99%

Trimegah Dana Tetap Syariah

1.326,18

Up0,93%
Up4,25%
Up0,03%
Up5,89%
Up18,89%
-

STAR Stable Income Fund

1.925,85

Up0,48%
Up2,96%
Up0,02%
Up6,01%
Up29,39%
Up64,87%

I-Hajj Syariah Fund

4.822,06

Up0,51%
Up3,05%
Up0,02%
Up6,14%
Up21,89%
Up40,51%

Reksa Dana Syariah Syailendra OVO Bareksa Tunai Likuid

1.140,38

Up0,49%
Up2,80%
Up0,02%
Up4,93%
--

Video Pilihan

Lihat Semua

Artikel Lainnya

Lihat Semua