OPEC Pangkas Produksi 1,2 juta Barel per Hari, Ini Prediksi Harga Minyak di 2019

Naiknya harga minyak bakal jadi ancaman defisit RI di tahun depan
Bareksa • 10 Dec 2018
cover

Ilustrasi harga minyak mentah bensin (BBM) global naik. Copyright: <a href='https://www.123rf.com/profile_bluebay'>bluebay / 123RF Stock Photo</a>

Bareksa.com - Sidang Negara-negara Eksportir Minyak Dunia (OPEC) akhirnya sepakat memutuskan pemangkasan produksi minyak mereka hingga 1,2 juta barel per hari.

Keputusan ini diambil di tengah amarah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Rusia juga sepakat untuk memangkas produksi, keputusan ini diambil di Wina, Austria, Jumat waktu setempat.

Dilansir dari CNBC Internasional, OPEC sepakat memangkas 1,2 juta barel per hari untuk 6 bulan pertama di 2019. Rinciannya adalah 15 negara OPEC sepakat memangkas 800 ribu barel per hari, dan Rusia serta produsen minyak sekutu lainnya mengurangi produksi minyak mereka hingga 400 ribu barel per hari.

Tak lama pasca-keputusan disepakati, harga minyak mentah Brent meroket 4,9 persen jadi US$63 per barel, demikian juga dengan WTI yang terdongkrak 4,3 persen jadi US$53,69 per barel.

Sidang OPEC kali ini adalah juru selamat untuk harga minyak dunia yang dalam sebulan terakhir anjlok hingga 30 persen.

OPEC dan sekutunya kini sepakat memangkas produksi mereka dengan patokan produksi Oktober lalu. Rusia akan memangkas 2 persen dari produksi 11,4 juta barel per hari yang dicetak Oktober lalu, kata Menteri Energi Rusia Alexander Novak. Namun, Novak mengingatkan, pemangkasan produksi akan dilakukan bertahap terkait dengan kondisi lapangan di musim dingin ini.

Secara keseluruhan, Presiden OPEC dan Menteri Perminyakan UEA Suhail Mohamed Al Mazrouei mengatakan aliansi memangkas 2,5 persen dari produksi minyak mereka. Kesepakatan ini akan ditinjau kembali pada April 2019 mendatang, sambil melihat market dan bisa jadi kebijakannya diubah.

Menteri Energi Arab Saudi Khalid Al Falih menjabarkan produksi minyak mereka saat ini mencapai 11,1 juta barel per hari. Dengan kesepakatan ini, kemungkinan produksi akan dikendalikan jadi 10,7 juta barel per hari pada Desember 2018 dan 10,2 juta barel pada Januari 2019.

"Ini adalah komitmen kami untuk mengawali langkah dengan tepat di 2019, dan untuk menunjukkan apa yang kami lakukan tidak perlu waktu lama untuk melihat hasilnya demi menekan laju penurunan harga minyak," kata Falih.

Bagaimana prediksi harga minyak di 2019?

Angka pemotongan 1,2 juta barel per hari pada tahun depan adalah angka yang signifikan. Para analis memperkirakan harga minyak masih bisa terdongkrak tahun depan. Asumsinya adalah bisa tembus level US$70 per barel rata-rata di 2019.

Laporan Bank Dunia memproyeksi rata-rata harga minyak di 2019 jadi US$71 per barel. Sementara, laporan badan energi AS dalam outlook-nya memperkirakan harga minyak di kisaran US$72 per barel di 2019.

Apa dampaknya bagi Indonesia?

Sebagai negara net importir, dengan kebutuhan konsumsi mencapai 1,4 juta hingga 1,6 juta barel per hari, sementara produksi hanya 700 ribu hingga 750 ribu barel per hari, naiknya harga minyak bakal jadi ancaman defisit RI tahun depan.

Hingga Oktober 2018, Badan Pusat Statistik Secara kumulatif mencatat untuk defisit perdagangan migas di tahun ini (Januari-Oktober 2018) sudah mencapai US$10,74 milliar. Apabila dikonversi ke kurs rupiah, nilai sebesar itu setara dengan Rp158 Triliun.

(AM)