Berita / Kategori / Artikel

Transaksi Jumbo Rp3 T di Pasar Negosiasi, Ada Private Placement di LPPF Lagi?

Asia Color berhasil mengantongi keuntungan 3,5 kali lipat modal awal dari transaksi sebelumnya.
• 25 May 2016
cover

Gerai Matahari Departemen Store (Company)

Bareksa.com- Saham PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) mencatatkan nilai transaksi yang cukup besar di pasar negosiasi pada perdagangan kemarin Selasa, 23 Mei 2016. Menurut rumor yang beredar di pasar modal, transaksi yang cukup besar ini terjadi karena sejumlah pemegang saham institusi melepas kepemilikannya di saham pemilik gerai Matahari ini.

Kabarnya, Conrex Limited, Asia Color Company Limited (ACC), Meadow Asia Company Limited  melepas  4,3 persen sahamnya. Padahal, ACC sendiri dulu pernah menjadi pemegang saham mayoritas di perusahaan ritel terafiliasi Grup Lippo ini.

Berdasarkan pantauan Bareksa, saham LPPF paling banyak ditransaksikan oleh Broker CLSA Indonesia (KZ). Dalam perdagangan kemarin, CLSA melakukan transaksi tutup sendiri (crossing) saham LPPF sebanyak 65 ribu lot, pada harga rata-rata Rp17.990, senilai Rp117,3 miliar. Total transaksi crossing itu tiga kali lipat rata-rata perdagangan saham LPPF di pasar nego selama sebulan terakhir. Harga saham di pasar negosiasi itu lebih rendah dibandingkan harga di pasar reguler sehingga pada penutupan kemarin saham LPPF turun 1,5 persen menjadi Rp18.000.

Tidak hanya kemarin, pada tanggal 19 Mei 2016 saham LPPF juga diperjualbelikan di pasar negosiasi dengan nilai yang jauh lebih tinggi, mencapai Rp3 triliun. Credit Suisse (CS) terpantau melakukan pembelian sebnayak 1,8 juta lot saham, pada harga rata-rata Rp17.253,3 per saham, setara Rp3,03 triliun. Transaksi ini sekitar 5 persen dari total kapitalisasi pasar pada hari ini.

CS juga tercatat sebagai penjual terbesar dengan melakukan penjualan sebanyak 1,2 juta lot saham pada harga rata-rata Rp17.254, senilai Rp2,03 triliun. sementara penjual terbesar berikutnya adalah CIMB Securitie (YU) dengan melakukan penjualan sebanyak 584 ribu lot saham, senilai Rp1 triliun.

Pada perdagangan di pasar negosiasi tersebut, harga saham LPPF berada di kisaran Rp17.200-Rp17.990. Nilai tersebut lebih rendah  2-5 persen dari harga terkahir saham LPPF yang berada pada 18 Mei di level Rp18.800 per saham. Adanya transaksi di bawah harga pasar reguler menekan harga saham LPPF, sehingga pada tanggal 19 Mei LPPF ditutup anjlok 5 persen menjadi Rp17.850 dari sebelumnya Rp18.800.

Grafik Pergerakan Harga Saham LPPF 16-24 Mei 2016

Sumber: Bareksa.com

Transaksi besar di pasar negosiasi ini mengingatkan kita pada kejadian sebelumnya pada Maret 2013. Saat itu, Matahari Department Store resmi mengumumkan pembeli saham milik induk usahanya, ACC dan PT Multipolar Tbk (MLPL). Transaksi itu dilakukan dengan skema private placement di harga penawaran Rp 10.850 per saham, padahal harga saham LPPF pada saat itu hanya berada dikisaran Rp4.200. Akibatnya, harga saham di pasar reguler pun langsung melesat 2,5 kali lipat. Dengan jumlah yang dilepas 1,34 miliar saham setara dengan 47,85 persen saham, total transaksi itu mencapai Rp14,6 triliun dan mendorong transaksi di Bursa Efek Indonesia yang biasanya hanya sekitar Rp4 triliun per hari.

Transaksi penjualan tersebut dilakukan di pasar negosiasi, dibantu  tiga broker, yaitu UBS Securities Indonesia, Morgan Stanley Indonesia, dan CIMB Securities Indonesia. yang melakukan transaksi tutup sendiri (crossing). Setelah transaksi itu, kepemilikan saham LPPF berubah; ACC sebelumnya memiliki 73,25 persen, PT Multi Polar Tbk (MLPL) memiliki 24,9 persen dan publik 1,85 persen menjadi ACC memiliki 37,7 persen, MLPL 20,5 persen dan masyarakat termasuk pemegang saham baru memiliki 41,8 persen.

Penjualan oleh entitas asosiasi CVC itu tidak berhenti sampai di situ. Pada tanggal 3 Maret 2014, ACC berhasil menjual 6,51 persen kepemilikannya atau setara 190 juta saham kepada beberapa investor dengan harga Rp 13.100 per saham. Artinya, ACC mengantongi dana sebesar Rp 2,48 triliun. Empat bulan kemudian pada tanggal 7 Agustus 2014, ACC kembali menjual saham LPPF senilai Rp 4,7 triliun atau setara 11,48 persen di pasar negosiasi, menjadikan harga per saham Rp14.940.

Lebih lanjut pada tanggal 23 Januari 2015, ACC menjual lagi 8,18 persen saham LPPF dan pada tanggal 25 Februari 2015 sebanyak 4 persen. Dari dua transaksi tersebut, ACC berhasil mengantongi Rp5,2 triliun.

Perlu diketahui transaksi penjualan saham tersebut dilakukan dengan skema private placement, atau penerbitan saham baru kepada investor baru. Namun, private placement yang dilakukan oleh ACC ini dilakukan langsung dari pemegang saham lama kepada investor strategis bukan merupakan penawaran umum oleh pemegang saham sebagaimana dimaksud dalam peraturan Bapepam-LK Nomor IX.A.12.

Grafik: Kepemilikan ACC di LPPF Sejak 2010-2015

Sumber: Laporan Keuangan LPPF

Jika ditarik lebih jauh, awalnya ACC membeli Matahari pada 1 April 2010, proses transaksi tersebut dilakukan di pasar negosiasi, dengan nilai transaksi mencapai Rp 7,73 triliun untuk 2,85 miliar saham atau 5,72 juta lot --pada saat itu 1 lot sama dengan 500 lembar saham. Jumlah ini setara 98 persen dari total saham LPPF yang dicatat dan ditempatkan. Pengalihan saham LPPF kepada ACC saat itu berasal dari kepemilikan entitas Grup Lippo lain yaitu PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) sebanyak 90,76 persen dan Pacific Asia Holding Ltd sebanyak 7,24 persen.

Berdasarkan penelusuran bareksa, broker yang menjadi perantara transaksi tersebut adalah  CIMB Securities dan  Ciptadana Securities. Kedua broker melakukan transaksi di rentang harga Rp2.704 hingga Rp2.717 per saham. Namun, jika harga itu dibagi rata, nominal yang didapat sama dengan harga kesepakatan pembelian di level Rp2.705,33 per saham.

Dibandingkan dengan modal ACC per April 2010 sebesar Rp7,7 triliun, maka keuntungan pelepasan saham LPPF dari 2013 hingga 2015 mencapai Rp26,5 triliun atau setara 3,5 kali lipat modal awal.

 

Tags: