JK, Darmin, Luhut Vs Agus Martowardojo -- BI Rate Perlu Turun?
Gap sangat besar -- BI mengatakan inflasi diperkirakan 3,6% di akhir 2015. Tapi mengapa BI Rate ada di 7,5 persen?

Gap sangat besar -- BI mengatakan inflasi diperkirakan 3,6% di akhir 2015. Tapi mengapa BI Rate ada di 7,5 persen?
Bareksa.com - Hari-hari belakangan ini Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo sibuk menangkal tekanan tidak kurang dari tiga orang paling berpengaruh dalam pemerintahan, yaitu Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution dan Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Luhut Pandjaitan.
Pemerintah ingin Bank Indonesia segera merespons keadaan ekonomi Indonesia yang ditandai dengan inflasi yang sudah menurun signifikan, sementara tingkat pengangguran meningkat dan daya beli menurun. Saatnya ekonomi digenjot. Oleh karena itu pemerintah ingin suku bunga turun.
Namun, sejauh ini BI masih dalam pendirian yang bertolak belakang dengan pemerintah. Kebon Sirih—sebutan untuk BI—tampaknya masih belum mau menurunkan BI Rate, yang memang keputusan naik atau tidaknya suku bunga acuan tersebut ada di tangan BI. Bank sentral masih mengkhawatirkan nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS.
Promo Terbaru di Bareksa
BI berpendapat bahwa Dolar AS masih dapat menguat 10 persen terhadap nilai mata uang dunia seiring dengan langkah Bank Sentral Amerika, The Fed, yang diperkirakan akan menaikkan suku bunganya beberapa kali. Perbaikan data ekonomi Amerika dan penurunan tingkat pengangguran menjadi dasar perkiraan ini.
Selain itu, masih menurut penilaian BI, stok Dolar AS dalam pasar domestik belum terlalu banyak, ditambah antisipasi akan ada kenaikan impor ke depan.
Pertimbangan-pertimbangan ini mendasari kekhawatiran BI terhadap risiko pelemahan rupiah yang akan sulit dikendalikan jika BI Rate diturunkan.
Suhu perbedaan pandangan antara pemerintah dan BI atas tingkat suku bunga cukup meningkat. Dua hari lalu (9 Nov 2015), Agus Martowardojo meluangkan waktunya bertemu dengan Presiden Joko Widodo untuk membahas soal ini.
Apakah BI Rate sebaiknya diturunkan saat sekarang ini? Mana yang lebih kuat antara alasan pemerintah dan BI?
Memang menurunkan BI Rate tidak serta-merta langsung menurunkan suku bunga pinjaman perbankan kita. Dan juga kenyataannya Indonesia bukan negara dengan banyak utang. Indonesia tidak begitu sensitif terhadap pergerakan suku bunga.
Walaupun begitu ada sederet 'tapi', dan sederet alasan mengapa BI Rate sudah saatnya turun.
Sebenarnya menurunkan suku bunga perlu dilakuan lebih untuk memberi sinyal. Memang dampak terhadap financing cost tidak banyak, tetapi dampak dalam memberi keyakinan kepada pengusaha akan cukup besar.
BI harus lebih turun ke bawah dan harus lebih merasakan. Banyak pengusaha merasa BI tidak mendukung mereka. Ada persepsi bahwa BI terlalu sepihak, terlalu berpihak pada pandangannya sendiri, tidak memikirkan ekonomi dan bisnis secara keseluruhan.
Sebagian dari alasan-alasan BI untuk tidak menaikkan suku bunga tidak sepenuhnya berdasar pada fundamental ekonomi.
Terasa agak janggal bila suatu negara sebesar Indonesia selalu bergantung pada kebijakan Amerika untuk mengambil keputusan moneter. Indonesia merupakan negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara.
Alasan BI mengatakan bahwa Dolar AS akan menguat 10 persen terhadap mata uang global cenderung sangat spekulatif. Siapa analis independen yang mengatakan Dolar AS akan menguat 10 persen? Kenyataannya tidak ada orang yang tahu Dolar AS akan naik ke berapa.
Jikapun ingin menggunakan argumen tersebut, kita harus juga menggunakan asumsi bahwa pasar itu efisien. Kalau pasar efisien, artinya pelaku pasar sudah mengantisipasi kenaikan Dolar AS ini. Dan kalau begitu, penguatan Dolar AS karena antisipasi kenaikan suku bunga oleh The Fed artinya sudah 'priced-in', atau sudah tercermin dalam nilai dolar saat ini.
Soal antisipasi impor yang akan naik karena pembelian barang modal sebenarnya juga tidak perlu dikhawatirkan. Sebab sejalan dengan kenaikan impor, Foreign Direct Investment (FDI) juga akan meningkat.
Terakhir mengenai inflasi, BI sendiri sudah mengatakan bahwa inflasi on-year pada akhir 2015 dapat turun ke angka 3,6 persen. BI sudah menyampaikan hal ini ke publik secara terbuka, tapi kenapa BI Rate sekarang masih di level 7,5 persen? Kenapa begitu besar gap-nya?
Pilihan Investasi di Bareksa
Klik produk untuk lihat lebih detail.
| Produk Eksklusif | Harga/Unit | 1 Bulan | 6 Bulan | YTD | 1 Tahun | 3 Tahun | 5 Tahun |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
Trimegah Dana Obligasi Nusantara autodebet | 1.210,56 | ||||||
Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A | 1.168,64 | - | - | ||||
STAR Stable Amanah Sukuk autodebet | 1.193,9 | - | - | ||||
Eastspring Syariah Mixed Asset Fund Kelas A | 1.025,2 | - | - | - |
Produk Belum Tersedia
Ayo daftar Bareksa SBN sekarang untuk bertransaksi ketika periode pembelian dibuka.
Ayo daftar Bareksa SBN sekarang untuk bertransaksi ketika periode pembelian dibuka.



