Index Fund 101: Pengertian, Keuntungan dan Kelemahan Investasi Reksadana Indeks

Reksadana indeks dibuat untuk meniru pergerakan dan kinerja dari suatu tolok ukur yang telah ditentukan
Hanum Kusuma Dewi • 25 Mar 2022
cover

Ilustrasi investasi di reksadana indeks. (Shutterstock)

Bareksa.com - Sebelum memulai investasi di reksadana, ada baiknya smart investor mengenal lebih dalam mengenai jenis reksadana yang akan dipilih. Satu jenis reksadana yang sedang naik daun adalah reksadana indeks (index fund). 

Apa itu reksadana indeks?

Reksadana indeks adalah reksadana yang dibuat untuk meniru pergerakan dan kinerja dari suatu tolok ukur yang telah ditentukan. Yang paling umum dan banyak beredar di pasaran adalah reksadana indeks saham IDX30 dan reksadana indeks saham LQ45. 

Apa itu Indeks IDX30?

Indeks IDX30 mengukur kinerja harga dari 30 saham yang memiliki likuiditas tinggi dan kapitalisasi pasar besar serta didukung oleh fundamental perusahaan yang baik. Indeks ini dibuat oleh Bursa Efek Indonesia dengan metode pembobotan Capped Free Float Adjusted Market Capitalization Weighted Average. Free float adjusted maksudnya nilai kapitalisasi pasar yang diukur hanya terbatas pada saham yang beredar di pasar sehingga investor bisa mengetahui berapa nilai saham yang bisa dibeli. Capped artinya bobot perusahaan di indeks dibatasi sehingga tidak terjadi konsentrasi bobot investasi di beberapa perusahaan saja dan tujuan diversifikasi tercapai. 

Apa itu Indeks LQ45?

Sama saja dengan Indeks IDX30 hanya saja isi sahamnya lebih banyak yakni 45 saham.

Baca juga Reksadana Pendapatan Tetap Bisa Terus Stabil Bertumbuh? Yuk Pahami 10 Faktor Ini

Kenapa dibuat 2 indeks yang mirip seperti ini?

Indeks LQ45 dibuat tahun 1997. Angka 45 ini diambil dari tahun kemerdekaan Indonesia. Namun angka 45 tidak lazim di dunia karena umumnya indeks saham berkapitalisasi pasar besar berisikan hanya 30 perusahaan seperti Dow Jones Industrial Average dan Strait Times Singapore ditambah lagi portofolio berisikan 30 saham dinilai sudah cukup terdiversifikasi. Oleh karena itu Bursa Efek Indonesia di tahun 2012 meluncurkan Indeks IDX30 untuk menjawab tuntutan tersebut.

Apa saja isi saham di kedua indeks tersebut?

Indeks IDX30


Indeks LQ45

No.

Nama Saham


No.

Nama Saham

1

Adaro Energy Tbk.


1

Adaro Energy Tbk.

2

Aneka Tambang Tbk.


2

Sumber Alfaria Trijaya Tbk.

3

Astra International Tbk.


3

Aneka Tambang Tbk.

4

Bank Central Asia Tbk.


4

Astra International Tbk.

5

Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.


5

Bank Central Asia Tbk.

6

Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.


6

Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.

7

Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk.


7

Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.

8

Bank Mandiri (Persero) Tbk.


8

Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk.

9

Barito Pacific Tbk.


9

BFI Finance Indonesia Tbk.

10

Bukalapak.com Tbk.


10

Bank Mandiri (Persero) Tbk.

11

Charoen Pokphand Indonesia Tbk


11

Barito Pacific Tbk.

12

Elang Mahkota Teknologi Tbk.


12

Bukalapak.com Tbk.

13

XL Axiata Tbk.


13

Charoen Pokphand Indonesia Tbk

14

Indofood CBP Sukses Makmur Tbk.


14

Elang Mahkota Teknologi Tbk.

15

Vale Indonesia Tbk.


15

Erajaya Swasembada Tbk.

16

Indofood Sukses Makmur Tbk.


16

XL Axiata Tbk.

17

Indah Kiat Pulp & Paper Tbk.


17

Gudang Garam Tbk.

18

Kalbe Farma Tbk.


18

H.M. Sampoerna Tbk.

19

Merdeka Copper Gold Tbk.


19

Harum Energy Tbk.

20

Mitra Keluarga Karyasehat Tbk.


20

Indofood CBP Sukses Makmur Tbk.

21

Perusahaan Gas Negara Tbk.


21

Vale Indonesia Tbk.

22

Bukit Asam Tbk.


22

Indofood Sukses Makmur Tbk.

23

Semen Indonesia (Persero) Tbk.


23

Indah Kiat Pulp & Paper Tbk.

24

Tower Bersama Infrastructure Tbk.


24

Indocement Tunggal Prakarsa Tbk.

25

Timah Tbk.


25

Indo Tambangraya Megah Tbk.

26

Telkom Indonesia (Persero) Tbk.


26

Japfa Comfeed Indonesia Tbk.

27

Sarana Menara Nusantara Tbk.


27

Kalbe Farma Tbk.

28

United Tractors Tbk.


28

Merdeka Copper Gold Tbk.

29

Unilever Indonesia Tbk.


29

Medco Energi Internasional Tbk.

30

Waskita Karya (Persero) Tbk.


30

Mitra Keluarga Karyasehat Tbk.




31

Media Nusantara Citra Tbk.




32

Perusahaan Gas Negara Tbk.




33

Bukit Asam Tbk.




34

PP (Persero) Tbk.




35

Semen Indonesia (Persero) Tbk.




36

Tower Bersama Infrastructure Tbk.




37

Timah Tbk.




38

Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk.




39

Telkom Indonesia (Persero) Tbk.




40

Sarana Menara Nusantara Tbk.




41

Chandra Asri Petrochemical Tbk.




42

United Tractors Tbk.




43

Unilever Indonesia Tbk.




44

Wijaya Karya (Persero) Tbk.




45

Waskita Karya (Persero) Tbk.

Sumber: Bursa Efek Indonesia, Februari 2022

Apakah daftar saham di atas bersifat permanen?

Tidak. Daftar saham di dalam indeks dievaluasi secara rutin. Evaluasi minor atau perubahan bobot (rebalancing) dilaksanakan pada bulan Mei dan November. Evaluasi mayor dilakukan di bulan Februari dan Agustus. Bedanya saat evaluasi mayor, selain terjadi perubahan bobot, daftar perusahaan bisa berubah alias ada yang dikeluarkan dan ada yang dimasukkan.

Bagaimana pembagian indeks tersebut menurut sektor industri?


Sektor (dalam %)

IDX30

LQ45

Energi

4.2

4.8

Barang Baku

9.3

11.3

Perindustrian

9.8

8.5

Barang Konsumen Primer

7.2

9.1

Barang Konsumen Non-Primer

-

0.7

Kesehatan

3

2.6

Keuangan

44.9

43.7

Properti & Real Estat

-

-

Teknologi

3.3

2.9

Infrastruktur

18.4

16.4

Transportasi

-

-

Sumber: Bursa Efek Indonesia

Mengapa memilih berinvestasi di reksadana indeks?

Alasan pertama adalah murah. Karena reksadana ini dikelola secara pasif alias hanya mengikuti daftar saham dan pembobotan dalam indeks, maka beban kerja Manajer Investasi (MI) menjadi ringan sehingga biaya yang dibebankan kepada nasabah pun rendah. Selain itu biaya transaksi MI dalam pengelolaan terbatas pada saat nasabah membeli / menjual unit dan ketika terjadi evaluasi indeks sehingga perputaran portofolio pun rendah.

Alasan kedua adalah terukur. Pergerakan NAB reksadana indeks sudah pasti mengikuti indeks dan kinerjanya pun sangat mirip. Dengan berinvestasi di reksadana indeks tidak ada lagi kejadian di mana indeks naik tinggi tetapi reksadana kita turun tajam akibat banyak berinvestasi di perusahaan atau sektor yang sedang merosot.

Alasan ketiga adalah banyak reksadana aktif kinerjanya tertinggal dari tolok ukur. Untuk kinerja 3 tahun hanya ada 27% reksadana yang mengungguli Indeks LQ45 dan hanya 10% yang mampu mengalahkan IHSG. Untuk 5 tahun, cuma ada 31% reksadana yang kinerjanya tercatat lebih tinggi daripada LQ45 dan lagi-lagi hanya 10% yang menang melawan IHSG.

Baca juga Suku Bunga Dolar AS akan Naik Lebih Agresif, Begini Strategi Robo Advisor Bareksa


Kenapa banyak reksadana yang tertinggal dari IHSG dan mengapa tidak sekalian dibuatkan saja reksadana indeks IHSG?

Karena tidak semua emiten di bursa likuid diperdagangkan sehingga menyulitkan bagi investor dan MI untuk menduplikasi kinerja IHSG. Likuiditas atau besaran nilai transaksi di pasar adalah salah satu syarat agar suatu saham layak dibeli oleh MI. Semakin besar suatu reksadana atau dana kelolaan MI, biasanya semakin besar pula standar minimal likuiditas yang diterapkan. Di samping itu berdasarkan peraturan OJK, MI diwajibkan memenuhi permintaan pencairan unit penyertaan paling lambat 7 hari kerja sehingga faktor likuiditas menjadi penting sekali.

Sebagai gambaran, dari 780 emiten yang diperdagangkan di bursa, emiten yang memiliki transaksi rata-rata harian konsisten selama 12 bulan, 6 bulan, 3 bulan dan 1 bulan lebih dari Rp10 miliar hanya 135 emiten. Jika nilai transaksi harian minimal dinaikkan menjadi Rp20 miliar, maka tersisa 100 perusahaan. Jika persyaratan likuiditas diperketat lagi ke Rp30 miliar, cuma ada 75 saham yang lulus. Kalau dinaikkan lagi ke Rp40 miliar, tersisa 52 saham. Dan yang terakhir jika dinaikkan ke Rp50 miliar, cuma tersisa 41 saham.

Hasil filter di atas dilakukan ketika transaksi harian bursa rata-rata sekitar Rp13 triliun saat ini. Bayangkan di tahun-tahun sebelumnya transaksi bursa hanya Rp9 triliun pada 2020 atau bahkan di bawah Rp5 triliun di 2015.

Dengan demikian IHSG bukanlah tolok ukur yang cocok dan adil bagi MI dan investor reksadana.

Mengapa ada reksadana indeks yang bisa mengalahkan tolok ukurnya?

Indeks yang ada di Indonesia termasuk IDX30 dan LQ45 pada umumnya adalah price index. Artinya indeks hanya mencatat kenaikan harga saham dan tidak menghitung pendapatan dari dividen. Padahal sebagai investor, kita berhak menerima dividen. Dengan demikian jika pendapatan dividen lebih besar dari biaya reksadana seperti biaya manajemen, biaya bank kustodian dan biaya transaksi, maka kinerja reksadana bisa lebih tinggi daripada indeks. Sebagai informasi, selama ini dividend yield kedua indeks tersebut ada di kisaran 2-3%.

Apa kelemahan berinvestasi di reksadana indeks?

Reksadana indeks bersifat kaku. Kaku di dalam artian MI tidak leluasa mengubah komposisi portofolio meskipun harga suatu saham terus merosot dan bahkan ketika MI mengetahui kinerja perusahaan bakal memburuk ke depannya. MI hanya berpatokan kepada daftar saham di dalam indeks beserta bobotnya. Selama saham tersebut masih ada di dalam daftar maka saham tersebut tidak akan dijual. Demikian pula sebaliknya, ketika MI mengetahui saham prospektif yang kinerjanya bakal kinclong di masa depan, MI tidak bisa memasukkannya ke dalam portofolio atau menambah bobot. 

Perlu diingat, investasi reksadana mengandung risiko. Pastikan smart investor memilih produk sesuai dengan profil risiko dan tujuan investasi. 

Lihat Promo Gajian Beli Reksadana, Raih Voucher hingga Rp1,25 Juta

(Christian Halim/hm)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.