Pajak Turun Dorong Minat investor, Yuk Pahami Potensi Untung Rugi Investasi di Obligasi

Obligasi pemerintah dinilai memiliki risiko default atau gagal bayar paling rendah
Abdul Malik • 21 Sep 2021
cover

Ilustrasi pasar obligasi dan Surat Berharga Negara yang dibayangi sentimen kasus positif Covid-19, dan berimbas ke reksadana pendapatan tetap. (Shutterstock)

Bareksa.com - Tingginya minat masyarakat untuk berinvestasi di obligasi diprediksi terus meningkat menyusul kebijakan pemerintah yang memangkas pajak kupon obligasi dari 15 persen jadi 10 persen. Apalagi investasi di obligasi atau surat utang dinilai lebih menguntungkan ketimbang deposito atau investasi konvensional lainnya.

Smart investor, ingin juga investasi di obligasi? Sebelum mencoba investasi di obligasi, ada baiknya pahami dulu jenis serta potensi keuntungan dan kerugian dari berinvestasi di obligasi.

Melansir laman edukasi Schroders Indonesia, obligasi adalah bukti pinjaman atau utang yang diberikan oleh investor kepada penerbit obligasi. Obligasi diterbitkan baik oleh pemerintah maupun perusahaan dalam mata uang rupiah maupun valuta asing.

Adapun tujuan penerbitan obligasi antara lain untuk tujuan pendanaan dan pengembangan. Sebagai contoh, obligasi yang diterbitkan pemerintah, obligasi negara untuk membiayai kebutuhan anggaran pemerintah termasuk menutup defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Saat diterbitkan obligasi memiliki nilai nominal, tingkat kupon yang akan diberikan sebagai imbalan kepada pemberi pinjaman dan jatuh tempo pelunasan pokok utang. Obligasi masuk dalam kategori instrumen pendapatan tetap di pasar modal.

Jenis-jenis Obligasi

A. Obligasi Negara

Obligasi negara diterbitkan oleh pemerintah. Obligasi Negara memiliki waktu jatuh tempo lebih dari 12 bulan, bisa 5 tahun, 10 tahun, 20 tahun dan bahkan 50 tahun. Obligasi negara ada yang memiliki tingkat kupon tetap (fixed rate) maupun variabel (variable rate). Obligasi Negara merupakan salah satu bentuk Surat Utang Negara (SUN).

Nah, SUN terbagi menjadi SPN (Surat perbendaharaan negara) dan Obligasi Negara. Perbedaan SPN dan Obligasi Negara adalah jangka waktu jatuh temponya, di mana SPN memiliki jatuh tempo maksimum 12 bulan sedangkan Obligasi Negara memiliki jangka waktu lebih dari 12 bulan.

B. Obligasi Korporasi

Obligasi korporasi adalah obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan termasuk BUMN dan BUMD. Obligasi korporasi diterbitkan baik dengan tingkat bunga tetap atau variable.

C. Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau Sukuk Negara

SBSN adalah obligasi pemerintah yang diterbitkan berdasarkan prinsip syariah.

D. Sukuk Korporasi

Sukuk Korporasi ialah obligasi korporasi yang diterbitkan berdasar efek syariah.

E. Obligasi Negara Retail (ORI)

Obligasi Negara Retail (ORI) ialah obligasi pemerintah yang dijual secara retail kepada masyarakat melalui agen penjual yang ditunjuk pemerintah.

F. Efek Beragun Aset (EBA)

Efek Beragun Aset (EBA) ialah efek bersifat utang yang diterbitkan dengan underlying asset sebagai dasar penerbitan. Biasanya merupakan sekuritisasi aset.

Peringkat dan Kupon

Investor pemula, obligasi diperingkat oleh lembaga pemeringkat atau biasa disebut sebagai rating agency. Semakin baik peringkatnya maka semakin credible penerbit obligasi atau issuer dan hal ini akan mempengaruhi tinggi rendahnya kupon yang diberikan.

Sebaliknya, makin rendah peringkat obligasi maka peringkatnya maka kupon yang diberikan juga semakin tinggi sebagai kompensasi atas risiko yang harus ditanggung oleh investor. Semakin rendah peringkat obligasi mencerminkan semakin tinggi risiko gagal bayar dari obligasi tersebut.

Obligasi yang dianggap baik adalah yang masuk kategori layak investasi atau investment grade. Makanya, ketika memilih obligasi, penting bagi investor untuk mempertimbangkan peringkat guna meminimalkan risiko gagal bayar.

Obligasi pemerintah dinilai memiliki risiko default atau gagal bayar yang rendah.Kupon obligasi sendiri dapat berupa fixed rate (FR) atau variable rate (VR). Fixed rate adalah tingkat kupon yang tetap sejak penerbitan sampai dengan jatuh tempo.

Sementara variable rate adalah tingkat kupon yang dapat turun naik. Biasanya, yang digunakan adalah tingkat suku bunga acuan ditambah persentase tertentu.Meski demikian, ada pula obligasi yang tidak memiliki kupon atau zero coupon, namun obligasi tersebut dijual dalam diskon pada pasar perdana dan akan dibayarkan penuh saat jatuh tempo.

Kupon biasanya dibayarkan secara regular dengan periode tertentu dari penerbitan sampai jatuh tempo. Misalnya obligasi pemerintah seri FR membayarkan kupon setiap 6 bulan sekali, sementara seri VR setiap 3 bulan sekali.

Keuntungan Obligasi

Keuntungan pertama dengan berinvestasi di obligasi adalah kupon, yakni Imbal hasil yang diberikan oleh penerbit obligasi kepada investor. Kupon biasanya dibayarkan secara regular dari penerbitan sampai dengan jatuh tempo.

Kupon umumnya juga lebih tinggi dari bunga deposito.Kedua,capital gain yakni keuntungan dari selisih harga beli dan harga jual.

Risiko Obligasi

Meski menarik dari sisi potensi keuntungan, seperti halnya instrumen investasi lainnya, obligasi juga memiliki risiko antara lain :

- Risiko gagal bayar / default: ketidakmampuan penerbit obligasi membayar kupon maupun melunasi obligasi pada saat jatuh tempo.

- Risiko suku bunga: pergerakan harga obligasi ditentukan oleh tingkat suku bunga acuan dengan hubungan berbanding terbalik. Jika investor memperkirakan suku bunga acuan akan turun maka investor umumnya memilih untuk memegang obligasi atau membeli obligasi dan sebaliknya.

- Risiko pasar: potensi kerugian (capital loss) bagi investor ketika harga obligasi di pasar sekunder turun akibat faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja keseluruhan dari pasar keuangan, antara lain perubahan suku bunga, perubahan ekonomi dan kondisi politik yang tidak stabil.

- Risiko Likuditas: risiko di mana obligasi tidak dapat dijual kembali di pasar sekunder karena berbagai hal dan harus menunggu sampai jatuh tempo.

Perlu diingat, apapun produk investasi pilihan kamu, selalu sesuaikan dengan tujuan investasi, jangka waktu investasi serta profil risiko kamu ya.

(Martina Priyanti/AM)

***

Ingin berinvestasi sekaligus bantu negara?

ORI020 merupakan salah satu jenis SBN Ritel yang memiliki fitur bisa diperdagangkan dengan tenor 3 tahun. Nilai investasi minimal Rp1 juta dan maksimal Rp3 miliar.

Dengan berinvestasi di SBN Ritel kita tidak hanya mendapatkan imbal hasil tetapi juga membantu pembiayaan anggaran untuk pembangunan negara.

Belum memiliki akun Bareksa tetapi ingin berinvestasi di SBN Ritel? Segera daftar melalui aplikasi Bareksa sekarang, gratis hanya dengan menyiapkan KTP dan NPWP (opsional).

Bagi yang sudah punya akun Bareksa untuk reksadana, lengkapi data berupa rekening bank untuk mulai membeli SBN Ritel di Bareksa. Bagi yang sudah pernah membeli SBR, ORI atau Sukuk di Bareksa sebelumnya, Anda bisa menggunakan akun di Bareksa untuk memesan SBN ritel seri berikutnya.

PT Bareksa Portal Investasi atau Bareksa.com adalah mitra distribusi resmi Kementerian Keuangan untuk penjualan Surat Berharga Negara (SBN) Ritel atau SBN Ritel secara online. Selain proses registrasi dan transaksi sangat cepat dan mudah, Anda juga dapat memantau investasi Anda dari mana saja dan kapan saja.