Begini Tips Bagi si Boros Agar Bisa Investasi

Jika merasa boros dan susah menyisihkan uang, maka disarankan untuk investasi setiap hari atau seminggu sekali
Abdul Malik • 08 Sep 2021
cover

Ilustrasi wanita sedang melihat dompet kosong, akibat boros, belanja terlalu banyak tanpa pengaturan keuangan. (Shutterstock)

Bareksa.com - Merasa diri sendiri boros dalam pengeluaran? Ibarat keran, air yang keluar lebih besar dari air yang masuk? Nggak usah berkecil hati dan merasa tidak bisa investasi. Sebab meski kamu boros, ada trik yang bisa dilakukan agar bisa rutin investasi. 

Prita Hapsari Ghozie, perencana keuangan dan CEO Zap Finance yang juga investment coach Bareksa,  mengatakan kalau kita merasa boros dan susah menyisihkan uang, maka dia menyarankan agar kita investasi setiap hari.

"Kalau uangnya memungkinkan, lakukan setiap hari misalnya di Bareksaada minimum transaksi pembelian reksadana. Jika tidak, lakukan setiap minggu misalnya setiap hari Senin," kata Prita.

Untuk itu, Prita mengatakan mesti ditumbuhkan rasa suka ketika melihat aplikasi investasi. Sehingga kita kita tidak hanya suka melihat aplikasi online shop/e-commerce setiap harinya. "Jadi harus ditumbuhkan rasa suka melihat aplikasi investasi bukan hanya suka melihat aplikasi online shop, tapi seimbang. Saya suka sekali melihat aplikasi investasi meski warnanya hijau atau merah karena kita tahu posisi aset kita," paparnya.

Reksadana Apa yang Bisa Dipilih?

Lalu jenis reksadana apa yang paling menguntungkan untuk berinvestasi bagi si Boros? Jawaban ini tergantung dari tujuan finansial masing-masing investor. Setiap investor tentu masing-masing memiliki tujuan dan jangka waktu berinvestasi. Makanya, beda pula reksadana yang sebaiknya dipilih.

1. Reksadana Saham

Sesuai namanya, jika kita berinvestasi di reksadana saham, maka sebagian besar uang kita akan dialokasikan pada instrumen saham. Namun, jangan karena tergiur keuntungan yang paling tinggi, kita langsung menyetorkan semua uang kita untuk reksadana saham.

Hal yang lain perlu diketahui, dari seluruh jenis reksadana yang ada, reksadana saham memiliki tingkat risiko tertinggi sehingga kurang cocok bagi investor yang punya profil risiko konservatif (takut menghadapi penurunan nilai investasi).

Hal ini tidak terlepas dari tingkat fluktuasi harga saham yang bergerak sangat dinamis. Karena alasan yang sama pula, reksadana saham kurang cocok untuk tujuan finansial jangka pendek. Maka, sebaiknya kamu memilih reksadana saham untuk tujuan finansial jangka panjang, minimal lima tahun.

2. Reksadana Campuran

Sementara jika masih belum terlalu berani menghadapi fluktuasi reksadana saham, masih ada reksadana campuran yang bisa dijadikan alternatif berinvestasi dengan keuntungan yang masih tergolong tinggi, namun secara umum masih di bawah reksadana saham. Karena namanya campuran, maka uang investasi kita akan dialokasikan pada campuran instrumen antara saham, obligasi dan pasar uang.

Jadinya, komposisi portofolio reksadana kita bisa lebih fleksibel dan lebih rendah risikonya dibandingkan dengan reksadana saham. Jangka waktu investasi reksadana campuran disarankan 3-5 tahun.

3. Reksadana Pendapatan Tetap

Reksadana berikutnya yang menawarkan keuntungan tertinggi adalah reksadana pendapatan tetap. Sesuai namanya, jika kita berinvestasi reksadana pendapatan tetap, maka sebagian besar uang kita akan dialokasikan pada instrumen yang menghasilkan pendapatan tetap yakni surat utang atau obligasi.

Karena itu, reksadana jenis ini menawarkan kinerja yang relatif stabil dengan risiko yang lebih rendah, berbeda dengan dua reksadana sebelumnya yang memiliki fluktuasi tinggi karena adanya alokasi pada saham. Reksadana pendapatan tetap cocok bagi kita yang memiliki profil risiko moderat dan untuk tujuan jangka menengah sekitar 1-3 tahun.

4. Reksadana Pasar Uang

Pilihan terakhir adalah reksadana pasar uang. Sesuai namanya, jika kita berinvestasi reksadana pasar uang, maka seluruh uang kita akan dialokasikan pada instrumen pasar uang berupa deposito dan juga surat utang dengan jatuh tempo kurang dari 1 tahun.

Reksadana pasar uang memang menawarkan return yang paling rendah, namun setara dengan risiko yang juga paling rendah. Namun potensi return yang didapat dari reksadana jenis ini masih bisa lebih besar dibandingkan deposito, mengingat adanya alokasi lain pada surat utang yang akan jatuh tempo dalam 1 tahun.

Pada dasarnya, reksadana jenis ini bertujuan untuk menjaga likuditas investor yang jika sewaktu-waktu membutuhkan pencairan dana dalam waktu dekat, sehingga cocok untuk tujuan jangka pendek sekitar 1 tahun dan untuk investor yang memiliki profil risiko konservatif (tidak menyukai risiko sama sekali).

Apapun jenis reksadana yang dipilih, kenali dulu profil risiko dan sesuaikan dengan tujuan finansial yang ingin dicapai ya!

(Martina Priyanti/AM)

​***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.