Mengapa Diversifikasi Investasi Penting? Ini Alasannya

Dengan melakukan diversifikasi, investor tidak perlu takut melewatkan hari-hari terbaik kinerja dari suatu kelas aset
Hanum Kusuma Dewi • 11 May 2021
cover

Ilustrasi investasi reksadana yang digambarkan dengan sejumlah telur ditata di wadah di atas meja. Reksadana memiliki berbagai aset dalam portofolionya yang terdiversifikasi, sehingga risiko bisa dikurangi saat potensi keuntungan tinggi.

Bareksa.com - Don't put your eggs in one basket, atau jangan meletakkan telur-telur dalam satu keranjang. Prinsip investasi ini juga berlaku dalam berinvestasi di reksadana.

Mengapa diversifikasi perlu dilakukan? Diversifikasi investasi berguna antara lain untuk mengurangi risiko investasi dari instrumen berikut jenis investasi yang Anda pilih. 

Iya, sebaiknya jangan menempatkan seluruh dana investasi (eggs/telur) Anda dalam satu jenis instrumen investasi (basket). Jika tidak, saat instrumen investasi Anda (basket) 'jatuh', maka seluruh dana (eggs/telur) Anda akan turun nilainya (pecah).

Tempatkanlah dana Anda dalam beberapa jenis instrumen investasi dengan melakukan diversifikasi. Menempatkan telur Anda dalam beberapa keranjang maka dengan begitu, jika salah satu keranjang investasi Anda jatuh, maka Anda masih memiliki cadangan keranjang investasi di tempat lain.

Dengan begitu harapannya dapat menopang keseluruhan jenis investasi Anda agar tidak jatuh nilainya secara keseluruhan.

Sebagai gambaran langsung, Syailendra Capital, dalam Market Insight April 2021, menyatakan bahwa diversifikasi dapat meningkatkan kinerja investasi dalam jangka panjang. "Simulasi kami menunjukkan diversifikasi pada aset saham, obligasi, dan pasar uang memberikan kinerja investasi yang lebih baik," tulis Syailendra.

Simulasi Syailendra membandingkan antara kinerja saham LQ45, deposito, dan sejumlah portofolio dengan beberapa kelas aset. Dalam 10 tahun terakhir, portofolio yang terdiversifikasi berisikan 30 persen saham, 60 persen obligasi dan 10 persen deposito memiliki kinerja tertinggi.

Riset yang dilakukan Syailendra juga menunjukkan bahwa tidak ada satu kelas aset yang konsisten mengalahkan kinerja (outperform) kelas aset lainnya. Bahkan, dalam 10 tahun terakhir, aset saham, obligasi dan pasar uang secara bergantian outperform kelas aset lainnya.

Tabel menunjukkan performa tahunan tertinggi dari berbagai kelas aset, yaitu saham (IHSG dan LQ45), berbagai obligasi negara rupiah, obligasi korporasi, SBN tenor 10 tahun rupiah dan dolar, serta deposito.

Aset Berkinerja Tertinggi Secara Tahunan Sejak 2010

Ada kemungkinan juga  investor memikirkan untuk mengalokasi aset dengan memperhitungkan waktu terbaik (timing) ketika salah satu aset mengalahkan aset lainnya. Namun, melewatkan hanya 30 hari berinvestasi dalam satu kelas aset dapat berakibat penurunan kinerja yang signifikan.

Akhirnya, diversifikasi adalah solusi bagi investor dalam menghadapi sulitnya melakukan timing pasar. "Dengan melakukan diversifikasi, investor tidak perlu takut melewatkan hari-hari terbaik kinerja dari suatu kelas aset. Melewatkan hari-hari terbaik ini dapat menurunkan kinerja investasi secara signifikan."

Menurut Syailendra, volatilitas pasar saat ini masih tinggi akibat kondisi pandemi. Untuk meningkatkan kinerja investasi, ada baiknya investor melakukan diversifikasi pada beberapa kelas aset, seperti di reksadana saham, reksadana pendapatan tetap dan reksadana pasar uang.

(Martina Priyanti/hm)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.