Bareksa Insight : Pasar Tertekan Aksi Ambil Untung, Investor Bisa Lakukan Ini

IHSG dibayangi aksi ambil untung setelah sepekan terakhir mencatatkan kenaikan
Abdul Malik • 07 Apr 2022
cover

Ilustrasi investor melakukan aksi ambil untung di pasar saham, sehingga berpengaruh terhadap kinerja reksadana dan SBN. (Shutterstock)

Bareksa.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibayangi aksi ambil untung setelah sepekan terakhir mencatatkan kenaikan. Menurut analisis Bareksa, sentimen kurang baik salah satunya datang dari ekonomi China yang merupakan salah satu mitra dagang terbesar Indonesia. 

Indeks manufaktur (PMI) China turun ke level 42 per Maret 2022, menandakan kontraksi atau perlambatan. Hal tersebut mendorong pelemahan mayoritas reksadana saham dan reksadana indeks. IHSG pada 06 April 2022 turun 0,62 persen ke level 7.104,22.

Serupa dengan pasar saham, mayoritas reksadana pendapatan tetap juga tertekan karena investor mencerna kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed). Pelaku pasar melihat indikasi The Fed mengurangi porsi obligasi lebih masif dari neraca keuangan mereka, yakni hingga US$95 miliar per bulan, yang akan dimulai pada Mei 2022. 

Selain itu, tingkat suku bunga The Fed juga akan dinaikkan lebih agresif untuk menahan laju inflasi yang terlalu tinggi di Negara Paman Sam. Kebijakan The Fed ini dikhawatirkan akan memperlambat pertumbuhan ekonomi global.

Apa yang bisa dilakukan Investor?

Asian Development Bank (ADB) memproyeksikan inflasi di Indonesia pada tahun ini akan berada di level 3,6 persen akibat kenaikan harga komoditas serta pemulihan ekonomi yang mendorong permintaan di pasar. Proyeksi tersebut sesuai dengan batas inflasi yang ditetapkan oleh Bank Indonesia sekitar 2 - 4 persen pada tahun ini.

Sehingga, menurut pandangan Bareksa, mengingat sejumlah sentimen yang variatif tersebut, investor dengan profil risiko agresif dapat wait and see terlebih dahulu dan mencermati reksadana berbasis saham kapitalisasi besar. 

Sementara investor dengan profil risiko moderat dapat mencermati reksadana pendapatan tetap berbasis obligasi korporasi dan pemerintah.

Beberapa produk reksadana pendapatan tetap, reksadana saham dan reksadana indeks yang bisa dipertimbangkan oleh investor dengan profil risiko agresif adalah sebagai berikut : 

Imbal Hasil 3 Bulan (per 6 April 2022)

Reksadana Indeks

Principal Index IDX30 Kelas O : 9,97 persen
Syailendra MSCI Indonesia Value Index Fund Kelas A : 7,3 persen

Reksadana Saham

TRIM Kapital : 11,74 persen
Sucorinvest Equity Fund : 6,46 persen

Imbal Hasil 3 Tahun (per 6 April 2022)

Reksadana Pendapatan Tetap

Syailendra Pendapatan Tetap Premium : 30,92 persen
TRIM Dana Tetap 2 : 20,31 persen

Baca : Kolaborasi PT Pegadaian - Bareksa, Hadirkan Tabungan Emas Online untuk Investasi Terintegrasi

Investasi Sekarang

(Sigma Kinasih/Ariyanto Dipo Sucahyo/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.