Mendesak! Operasi Militer Rusia ke Ukraina Buat IHSG Ambrol, Investor Bisa Switching ke Produk Ini

Investor dapat melakukan pengalihan investasi dari produk investasi risiko tinggi ke produk yang risikonya lebih rendah
Hanum Kusuma Dewi • 25 Feb 2022
cover

Ilustrasi Tentara Nasional Ukraina sedang bersiap di perbatasan, menghadapi serangan Rusia. Operasi militer Rusia ke Ukraina mengakibatkan pasar modal anjlok, karena investor perlu melakukan strategi swicthing untuk mengamankan investasinya. (Shutterstock)

Bareksa.com - Kinerja pasar saham nasional yang tercermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) benar-benar ambrol pagi ini. Indeks saham Tanah Air yang beberapa hari lalu sempat beberapa kali mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa (all time high) bahkan ditutup di 6.920 pada perdagangan Rabu, namun Kamis pagi ini harus rela tersungkur.

Pengumuman Presiden Rusia Vladimir Putin yang melakukan operasi militer di Ukraina, membuat pasar saham amnbrol. Pada perdagangan pagi ini, Kamis (24/2/2022), IHSG sempat amblas ke level 6.784 pada pukul 11.10 WIB, atau longsor hingga 2 persen dari penutupan kemarin.

Putin pada Kamis (24/2) mengumumkan operasi militer di Ukraina untuk membela separatis di wilayah timur negara itu. "Saya telah membuat keputusan operasi militer," katanya dalam pernyataan mengejutkan yang disiarkan televisi sesaat sebelum pukul 6 pagi waktu setempat seperti diberitakan kantor berita AFP, Kamis (24/2/2022).

Associated Press, Kamis (24/2/2022), Putin mengatakan tindakan itu dilakukan sebagai tanggapan atas ancaman yang datang dari Ukraina. Dia menambahkan bahwa Rusia tidak memiliki tujuan untuk menduduki Ukraina. Putin mengatakan tanggung jawab atas pertumpahan darah terletak pada "rezim" Ukraina.

Putin memperingatkan negara-negara lain bahwa setiap upaya untuk mengganggu tindakan Rusia akan mengarah pada "konsekuensi yang belum pernah mereka lihat." Dalam pidatonya itu, pemimpin Rusia itu menuduh Amerika Serikat dan sekutunya mengabaikan permintaan Rusia untuk mencegah Ukraina bergabung dengan NATO dan menawarkan jaminan keamanan kepada Moskow.

Dilansir Detik.com, sebelumnya, pemerintah Ukraina telah mengumumkan keadaan darurat nasional pada Rabu (23/2) waktu setempat di tengah meningkatnya ancaman invasi Rusia. Ukraina juga menyerukan warganya di Rusia untuk segera pulang.

Baca : Kerahkan Sinergi Ekosistem, Grab-OVO Ikut Mendukung Perluasan Distribusi SBN Melalui Bareksa​

Apa yang Harus Dilakukan Investor?

Menurut analisis Bareksa, operasi militer Rusia ke wilayah separatis Ukraina dikhawatirkan akan membuat resiko ketidakpastian global meningkat. Hal itu dikarenakan Amerika Serikat - NATO - Dewan Keamanan PBB sebelumnya menyatakan tindakan militer Rusia akan memicu aksi lebih keras dari dunia dengan tindakan yang lebih tegas.

Perekonomian dunia dikhawatirkan akan terjadi resesi cukup panjang apabila perang benar-benar terjadi antara Rusia dengan Ukraina - NATO. Resesi itu akan jadi resesi cukup panjang karena adanya potensi perang nuklir antara mereka, sehingga akan membuat ekonomi dan supply chain dunia terhambat.

Analisis Bareksa menyarankan investor dapat melakukan pengalihan investasi (switching) dari produk investasi risiko tinggi ke produk yang risikonya lebih rendah, seperti reksadana pasar uang dan reksadana pendapatan tetap. Langkah itu agar portofolio investasi smart investor relatif aman dari dampak gejolak pasar akibat perang Ukraina - Rusia.

Baca : Bareksa Raih Pendanaan Seri C dari Grab, Kukuhkan Sinergi Grab - Bareksa - OVO

Produk reksadana pendapatan tetap dan reksadana pasar uang yang bisa dipertimbangkan investor untuk melakukan switching adalah sebagai berikut :

Imbal Hasil 3 Tahun (per 23 Februari 2022)

Reksadana Pendapatan Tetap

Batavia Dana Obligasi Ultima : 16,47 persen
Manulife Obligasi Unggulan Kelas A : 27,02 persen
Trim Dana Tetap 2 : 21,86 persen

Imbal Hasil 1 Tahun (per 23 Februari 2022)

Reksadana Pasar Uang

Syailendra Dana Kas : 3,96 persen
TRIM Kas 2 : 3,97 persen
Danareksa Seruni Pasar Uang II : 2,91 persen
Sucorinvest Money Market Fund : 5,27 persen
Sucorinvest Sharia Money Market Fund : 4,53 persen

Prospek Emas dan SR016 Sebagai Aset Safe Haven

Analisis Bareksa menilai, menyusul operasi militer Rusia ke Ukraina produk investasi emas dan Surat Berharga Negara (SBN) juga prospektif, sebab juga merupakan aset safe haven.

Investor dapat melakukan pembelian emas mengingat di saat ini krisis yang terjadi saat ini akan menjadi penggerak utama kenaikan harga logam mulia dalam jangka pendek.

Analisis Bareksa menilai konflik Rusia - Ukraina telah membuat harga minyak melompat ke level US$100 per barel. Seiring lonjakan harga minyak, harga emas juga melesat 1,05 persen ke level US$1,927 per troy ounce.

Selain emas, investor juga bisa mempertimbangkan SBN Ritel. Pemerintah segera menawarkan SBN Ritel seri terbaru yakni Sukuk Negara Ritel (SR) seri SR016 pada 25 Februari hingga 17 Maret 2022. ​Kupon yang ditawarkan SR016 juga menarik, yakni 4.95 persen per tahun.

Menurut analisis Bareksa, instrumen investasi yang aman, cuan dan halal ini diprediksi bakal dibanjiri peminat di tengah ketidakpastian risiko global, sehingga investor cenderung mencari aset yang aman dengan imbal hasil optimal.

Baca : Kolaborasi PT Pegadaian - Bareksa, Hadirkan Tabungan Emas Online untuk Investasi Terintegrasi

Investasi Sekarang

(Sigma Kinasih/Ariyanto Dipo Sucahyo/AM)

***

DISCLAIMER​

Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana. 

Fitur Bareksa Emas dikelola oleh PT Bareksa Inovasi Digital, berkerjasama dengan Mitra Emas berizin.

PT Bareksa Portal Investasi atau Bareksa.com adalah platform e-investasi terintegrasi pertama di Indonesia, yang ditunjuk menjadi mitra distribusi (midis) resmi Kementerian Keuangan untuk penjualan Surat Berharga Negara(SBN) Ritel atau SBN Ritel secara online. Selain proses registrasi dan transaksi sangat cepat dan mudah, Anda juga dapat memantau investasi Anda dari mana saja dan kapan saja.

Bareksa telah mendapatkan penghargaan sebagai midis SBN terbaik selama tiga tahun berturut-turut dari Kementerian Keuangan RI. Penghargaan  terbaru yang diterima adalah  penghargaan sebagai Midis SUN dengan Kinerja Terbaik 2020 dan Midis SBSN dengan Kinerja Terbaik Kategori  Fintech 2021.