Bareksa Insight : Utang Luar Negeri RI Turun, Reksadana Ini Prospektif

Surplus neraca dagang dan penurunan utang luar negeri mendorong optimisme investor terhadap pasar keuangan Indonesia
Abdul Malik • 16 Feb 2022
cover

Petugas menghitung pecahan Dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. Penurunan utang luar negeri dan surplus neraca dagang mendorong optimisme investor sehingga mendongkrak kinerja pasar saham, obligasi dan reksadana. (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)

Bareksa.com - Pasar saham dan obligasi pada perdagangan kemarin menguat setelah Badan Pusat Statistik merilis data neraca dagang Indonesia pada Januari 2021 yang mencatatkan surplus lebih baik dari perkiraan, yakni US$930 juta atau sekitar Rp13,29 triliun. 

Surplus neraca dagang ini dicatatkan Indonesia dalam 31 bulan berturut-turut. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada 15 Februari 2022 naik 1,08 persen ke level 6.807.5. Berdasarkan data id.investing.com (diakses 15/02/2022 pukul 17.00 WIB) benchmark obligasi pemerintah tercatat tetap di level 6,6 persen pada 15 Februari 2022. 

Selain itu, kemarin Bank Indonesia juga mengumumkan utang luar negeri (ULN) pada kuartal IV 2021 turun 0,4 persen secara tahunan, yakni di US$415,1 miliar atau sekitar Rp5.972 triliun. Kuartal sebelumnya ULN tercatat US$424 miliar.

Menurut analisis Bareksa, dua faktor tersebut kembali mendorong optimisme investor terhadap pasar keuangan Indonesia dan menopang penguatan kinerja reksadana berbasis saham maupun pendapatan tetap.

Sementara itu, meredanya ketegangan geopolitik di Ukraina karena Rusia menarik pasukannya dari perbatasan negara tersebut diperkirakan akan mendorong penguatan bursa saham global dan diproyeksikan juga akan menopang penguatan pasar saham dan obligasi RI hari ini. 

Namun, analisis Bareksa menyarankan agar investor tetap mewaspadai efek lonjakan kasus harian Covid-19 di Tanah Air yang mencapai level tertinggi sekitar 57,049 kasus pada 15 Feb 2022.

Baca : Kerahkan Sinergi Ekosistem, Grab-OVO Ikut Mendukung Perluasan Distribusi SBN Melalui Bareksa​

Apa yang bisa dilakukan Investor?

Menurut analisis Bareksa, investor dapat melakukan pembelian bertahap di reksadana pendapatan tetap dan reksadana pasar uang sebagai diversifikasi investasi, mengingat tingginya fluktuasi pasar saham saat ini.

Sedangkan untuk emas, investor dapat kembali lakukan akumulasi pembelian, jika emas duniamengalami koreksi (penurunan) dan menyentuh level US$1,800 - 1,810 per troy oz.

Baca : Bareksa Raih Pendanaan Seri C dari Grab, Kukuhkan Sinergi Grab - Bareksa - OVO

Investor dengan profil risiko moderat dan agresif bisa menimbang beberapa produk reksadana pendapatan tetap, reksadana saham dan reksadana indeks dengan kinerja meroket berikut ini : 

Imbal Hasil 3 Tahun (per 15 Februari 2022)

Reksadana Pendapatan Tetap

Manulife Obligasi Negara Indonesia II Kelas A : 29,64 persen
Eastspring Syariah Fixed Income Amanah Kelas A : 28,38 persen

Imbal Hasil 6 Bulan (per 15 Februari 2022)

Reksadana Saham

Mandiri Investa Cerdas Bangsa : 9,77 persen
Schroder Dana Prestasi : 7 persen

Reksadana Indeks

BNP Paribas Sri Kehati : 18,94 persen
RHB SRI KEHATI Index Fund : 17,85 persen

Baca : Kolaborasi PT Pegadaian - Bareksa, Hadirkan Tabungan Emas Online untuk Investasi Terintegrasi

Investasi Sekarang

​(Sigma Kinasih/Ariyanto Dipo Sucahyo/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER​

Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.