Pasar Fluktuatif Tunggu Putusan The Fed, ORI021 dan Reksadana Ini Menarik

Investor masih wait and see hingga hasil keputusan rapat Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) keluar pada Kamis lusa
Abdul Malik • 25 Jan 2022
cover

Ilustrasi pelaku pasar yang masih wait and see menunggu hasil rapat Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) sehingga berdampak pada kinerja reksadana dan SBN. (Shutterstock)

Bareksa.com - Analisis Bareksa memperkirakan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini (25/1/2022) diprediksi kembali bergerak terbatas. Sebab investor masih mengamati perkembangan kasus Covid-19 dalam negeri yang naik signifikan dalam beberapa hari terakhir. 

Dari faktor eksternal, investor juga masih melakukan aksi wait and see hingga hasil keputusan rapat Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) keluar pada hari Kamis lusa. 

Analisis Bareksa melihat sektor keuangan akan kembali tertekan apabila The Fed menaikan suku bunganya lebih cepat pada tahun ini. IHSG pada perdagangan kemarin (24/1/2022) anjlok 1,06 persen ke level 6.655,17. 

Dari pasar obligasi, pada perdagangan kemarin imbal hasil (yield) obligasi Acuan Pemerintah Amerika Serikat (AS) kembali menguat  ke level 1,77 persen. Meski begitu, investor tercatat masih memburu obligasi Indonesia sehingga yield tercatat melemah ke 6.41 persen kemarin. 

Menurut analisis Bareksa, arus modal masuk ke pasar obligasi domestik masih akan cukup kuat pada tahun ini. Sebab real yield yang ditawarkan obligasi nasional masih atraktif di mata investor global. Dengan begitu, kinerja reksadana pendapatan tetap tahun ini diperkirakan tidak akan terlalu fluktuatif.

Baca : Kerahkan Sinergi Ekosistem, Grab-OVO Ikut Mendukung Perluasan Distribusi SBN Melalui Bareksa​

Di tengah kondisi pasar saham yang tertahan dan minat investor yang masih tinggi di pasar obligasi RI, investor bisa mempertimbangkan beberapa instrumen investasi yang menawarkan cuan menarik, namun aman dari gejolak pasar akibat sentimen The Fed. 

Instrumen investasi tersebut seperti Surat Berharga Negara (SBN) Ritel jenis Obligasi Negara Ritel (ORI) seri ORI021. Dengan imbalan 4,9 persen per tahun dan pajak kupon hanya 10 persen, ORI021 jauh lebih menarik dari deposito yang bunganya dikenai pajak 20 persen. 

ORI021 juga aman karena pokok dan imbalannya 100 persen dijamin negara. Masa penawaran ORI021 berlangsung 24 Januari hingga 17 Februari 2022. Instrumen investasi ini cocok bagi investor dengan profil risiko konservatif karena minim risiko. Investor dengan profil risiko moderat dan agresif juga bisa mempertimbangkan ORI021 sebagai instrumen diversifikasi investasi. 

Investor dengan profil risiko moderat dan agresif juga bisa mempertimbangkan beberapa produk reksadana pendapatan tetap, reksadana saham dan reksadana indeks dengan catatan imbalan menarik berikut ini : 

Imbal Hasil 3 Tahun (per 24 Januari 2022)

Reksadana Pendapatan Tetap

Eastspring Syariah Fixed Income Amanah Kelas A : 29,54 persen
Bahana Mes Syariah Fund Kelas G : 28,59 persen

Imbal Hasil 6 Bulan (per 24 Januari 2022)

Reksadana Saham

BNI-AM Inspiring Fund : 9,41 persen
Mandiri Investa Cerdas Bangsa : 9,04 persen

Reksadana Indeks

Syailendra MSCI Indonesia Value Index Fund : 17,62 persen
RHB Sri Kehati : 15,91 persen

Baca : Bareksa Raih Pendanaan Seri C dari Grab, Kukuhkan Sinergi Grab - Bareksa - OVO

Bareksa's Investor Navigator

Reksadana 

Analisis Bareksa melihat kinerja reksadana saham dan reksadana pendapatan tetap akan bergerak terbatas akibat investor masih menanti (wait and see) perkembangan pasar modal hingga rilis putusan The Fed. 

Harga komoditas energi juga dikhawatirkan jadi pendorong inflasi di sejumlah negara maju, akibat meroketnya harga batu bara dan harga minyak yang masih bertahan di atas US$83 per barel. Lonjakan harga komoditas yang membuat inflasi terkerek tersebut dikhawatirkan akan mempengaruhi pemulihan ekonomi global ke depannya. 

Emas 

Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah NATO mengatakan mereka telah bersiaga di kawasan Eropa Timur untuk meredam ketegangan di wilayah tersebut. Presiden AS Joe Biden dijadwalkan bertemu dengan para petinggi kawasan Eropa untuk membahas kemungkinan intervensi militer Rusia ke Ukraina. 

Analisis Bareksa melihat harga emas masih berpeluang naik ke level US$1.870 per  troy onz,  selama ketegangan di wilayah Eropa Timur belum mereda.

(Ariyanto Dipo Sucahyo/Sigma Kinasih/AM)

Baca : Kolaborasi PT Pegadaian - Bareksa, Hadirkan Tabungan Emas Online untuk Investasi Terintegrasi

Investasi Sekarang

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.