Bareksa Update : Omicron Bayangi Pasar Jelang Libur Tahun Baru, Cermati Reksadana Ini

Pekan ini, investor dalam negeri masih mencermati perkembangan penyebaran Covid-19 varian Omicron yang sudah terkonfirmasi terdapat 46 kasus positif di Indonesia
Bareksa • 27 Dec 2021
cover

Ilustrasi munculnya varian baru Covid-19 Omicron yang berdampak pada pasar keuangan, termasuk pasar saham, reksadana dan SBN, hingga emas. (Shutterstock)

Bareksa.com - Imbal hasil (yield) acuan Obligasi Pemerintah Indonesia melemah tipis jumat lalu dan mendorong pergerakan reksadana pendapatan tetap cenderung stabil.

Menurut analisis Bareksa, pekan ini, investor dalam negeri masih mencermati perkembangan penyebaran Covid-19 varian Omicron yang sudah terkonfirmasi terdapat 46 kasus positif di Indonesia. Investor juga akan mencermati langkah yang akan di lakukan pemerintah terkait perkembangan tersebut menjelang liburan Tahun Baru 2022 ini.

Berdasarkan data id.investing.com (diakses 23/12/2021 pukul 17.00 WIB) benchmark obligasi pemerintah tercatat tetap di level 6,4 persen pada 23 Desember 2021.

Adapun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta kinerja reksadana berbasis saham diperkirakan bergerak stagnan mengingat minimnya sentimen dari dalam maupun luar negeri. Beberapa bursa global seperti Amerika Serikat dan Eropa libur untuk merayakan Hari Natal.

Analisis Bareksa, peluang dampak aksi window dressing pada tahun ini diperkirakan terbatas, dengan IHSG diprediksi hanya bergerak di kisaran 6,600-6,700 jelang penutupan tahun 2021. IHSG pada 24 Desember 2021 naik 0,11 persen ke level 6.562,9. 

Baca : Bareksa Raih Pendanaan Seri C dari Grab, Kukuhkan Sinergi Grab - Bareksa - OVO

Di tengah potensi terbatasnya pergerakan pasar saham dan obligasi akibat sentimen perkembangan kasus Covid-19 varian Omicron, beberapa produk reksadana pendapatan tetap, saham dan campuran berikut ini bisa diperhatikan oleh investor dengan profil risiko moderat dan agresif :

Imbal Hasil 3 Tahun (per 24 Desember 2021)

Reksadana Pendapatan Tetap

Sucorinvest Bond Fund : 40,01 persen
TRIM Dana Tetap 2 : 23,27 persen

Imbal Hasil 1 Tahun (per 24 Desember 2021)

Reksadana Saham

Manulife Saham Andalan : 25,07 persen
TRIM Kapital : 12,62 persen

Reksadana Campuran

Jarvis Balanced Fund : 57,16 persen
Syailendra Balanced Opportunity Fund : 23,37 persen

Baca juga : Investasi Reksadana di Bareksa dapat OVO Poin dan Voucher GrabFood

***

Fresh From the Press

Peristiwa penting yang diperharikan investor dan diperkirakan bisa memengaruhi pergerakan pasar di antaranya :

- Kenaikan Harga LPG

PT Pertamina akan menaikan harga LPG non subsidi akibat kenaikan harga gas sepanjang 2021. Kenaikan harga LPG non subsidi meningkat sebesar 7,5 persen atau sekitar Rp1.200 hingga Rp2.600 per kilogram kenaikannya di masing-masing daerah.

Menurut analisis Bareksa, analisis Bareksa melihat kenaikan harga energi di Indonesia akan mendorong inflasi pada 2022 seperti kenaikan harga energi yang terjadi pada China dan Amerika Serikat.

(Sigma Kinasih/Ariyanto Dipo Sucahyo/AM)

Baca : Kolaborasi PT Pegadaian - Bareksa, Hadirkan Tabungan Emas Online untuk Investasi Terintegrasi

Investasi Sekarang

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.