BeritaArrow iconBareksa InsightArrow iconArtikel

Bareksa Insight: Pasar Bergejolak, Penawaran SBR015 Kupon hingga 6,85% Dibuka Hari Ini

28 September 2026
Tags:
Bareksa Insight: Pasar Bergejolak, Penawaran SBR015 Kupon hingga 6,85% Dibuka Hari Ini
Ilustrasi investor sedang menghitung besaran kupon bulanan SBR015 yang menawarkan kupon SBR tertinggi sejak 2020. (Shutterstock)

IHSG turun 0,9% ke 6.241,89 dan yield SBN 10 tahun naik ke 7,083%, sementara SBR015 mulai ditawarkan 28 September 2026 dengan kupon minimal 6,75%-6,85%, tertinggi untuk seri SBR sejak 2020.

Bareksa — Pasar saham domestik masih tertekan di awal pekan terakhir September. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 0,9% ke 6.241,89 pada Jumat (25/9), melanjutkan penurunan 1,2% sehari sebelumnya. Sepanjang pekan lalu, IHSG turun 3,1%.

Di pasar obligasi, ekspektasi imbal hasil (yield) SBN tenor 10 tahun naik 7,5 basis poin (bps) ke 7,083%. Rupiah relatif stabil, menguat tipis 0,03% ke Rp17.885 per dolar AS. Di tengah kondisi ini, pemerintah mulai menawarkan SBR015 hari ini dengan kupon minimal hingga 6,85% per tahun.

Ringkasan untuk Investor

  • IHSG turun 0,9% ke 6.241,89 pada Jumat (25/9) dan turun 3,1% sepekan.

  • Yield SBN 10 tahun naik 7,5 bps ke 7,083%, artinya harga SBN melemah.

  • Rupiah relatif stabil, menguat tipis 0,03% ke Rp17.885 per dolar AS.

  • Penawaran SBR015 dibuka 28 Sep-22 Okt 2026: kupon minimal 6,75% (T2) dan 6,85% (T4) per tahun, mengambang dengan batas bawah.

  • Emas spot naik tipis 0,2% ke US$4.287,25/troy ons, namun turun 2,1% sepekan.

  • Prioritas: SBR015 untuk mengunci imbal hasil, reksadana pasar uang untuk likuiditas, reksadana pendapatan tetap untuk akumulasi bertahap.

Grafik IHSG vs USD/IDR vs Emas vs Yield SBN vs UST

Illustration

Data Utama Pasar

Indikator

Data Terakhir (25/9/2026)

Sebulan lalu (27/8/2026)

Keterangan

IHSG

6.241,89

6.521,75

Turun 0,90% harian; turun 4,3% sebulan

USD/IDR

17.885

17.720

Rupiah menguat 0,03% harian; melemah 0,9% sebulan

Emas spot (US$/troy ons)

4.287,25

4.601,25

Naik 0,20% harian; turun 6,8% sebulan

Yield SBN 10Y

7,083%

7,005%

Naik 7,5 bps harian; naik 7,8 bps sebulan

Yield UST 10Y

5,167%

4,672%

Turun 2,6 bps harian; naik 49,5 bps sebulan

BI Rate

5,75%

5,75%

Ditahan pada RDG 22-23 September 2026

Sumber: Investing.com, Bank Indonesia, diolah Bareksa.

Promo Terbaru di Bareksa

Mengapa IHSG dan SBN Masih Tertekan?

Tekanan utama datang dari kenaikan yield obligasi AS. Dalam sebulan, yield US Treasury 10 tahun naik 49,5 bps ke 5,167%. Menurut Kitco News, yield yang tinggi dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed masih membebani aset berisiko dan emas.

Pada Jumat (25/9), yield US Treasury 10 tahun sedikit turun 2,6 bps. Wall Street juga ditutup naik, dengan Dow Jones naik 0,93% dan S&P 500 naik 0,51%. Namun, sentimen positif ini belum tercermin di pasar domestik saat bursa Jumat ditutup.

Selisih yield SBN 10 tahun dengan US Treasury 10 tahun kini sekitar 192 bps. Selisih yang menyempit membuat SBN kurang menarik bagi investor asing, sehingga yield SBN ikut naik untuk menjaga daya tarik.

BI Rate dan SBR015

Bank Indonesia menahan BI Rate di 5,75% pada RDG 22-23 September 2026. SBR015 memakai skema kupon mengambang dengan batas bawah (floating with floor). Kupon dapat naik bila BI Rate naik, tetapi tidak turun di bawah kupon minimal.

Seri

Tenor

Kupon minimal

Jatuh tempo

SBR015T2

2 tahun

6,75% p.a

10 Okt 2028

SBR015T4

4 tahun

6,85% p.a

10 Okt 2030

Sumber: Bareksa, DJPPR Kemenkeu. Masa penawaran 28 September-22 Oktober 2026.

SBR015 dijamin pembayaran pokok dan kuponnya oleh negara sesuai UU No. 24 Tahun 2002, tetapi tetap memiliki risiko seperti risiko likuiditas karena tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder.

Strategi Investor

1. SBN Ritel - SBR015

Cocok bagi investor yang ingin mengunci imbal hasil tetap tinggi di tengah gejolak pasar dengan potensi kenaikan kupon bila BI Rate naik.

2. Reksadana Pasar Uang

Di tengah volatilitas IHSG, reksadana pasar uang dapat menjadi tempat menjaga likuiditas.

Reksadana

Return 1 Tahun

Avrist Ada Kas Mutiara

4,79%

Syailendra Dana Kas

4,60%

BRI Seruni Likuid Dolar

3,15%

Mandiri Money Market USD

2,49%

Sumber: Bareksa, kinerja per 25 September 2026. Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja masa depan.

3. Reksadana Pendapatan Tetap

Yield SBN di atas 7% memberi peluang akumulasi bertahap bagi investor jangka menengah. Harga obligasi bisa berfluktuasi dalam jangka pendek saat yield naik.

Reksadana

Return 1 Tahun

Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A

6,71%

Trimegah Dana Obligasi Nusantara

6,13%

Recapital Pendapatan Tetap Dana Gemilang

5,01%

Insight Renewable Energy Fund

4,62%

Avrist Emerald Stable Fund

3,67%

Sumber: Bareksa, kinerja per 25 September 2026. Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja masa depan.

4. Emas

Harga emas spot naik tipis 0,2% ke US$4.287,25 per troy ons pada Jumat (25/9), namun turun 2,1% sepekan. Menurut Kitco News, yield obligasi AS di atas 5% dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed membatasi pemulihan harga emas. Goldman Sachs tetap menargetkan harga emas US$4.900 per troy ons pada akhir 2026. Investor jangka panjang dapat membeli bertahap (DCA).

Platform

Harga Beli/Gram

Treasury

Rp2.508.210

Pegadaian

Rp2.478.000

Indogold

Rp2.443.776

Sumber: fitur Bareksa Emas, per 28 September 2026 pagi.

Faktor Risiko Utama

  • Kenaikan lanjutan yield US Treasury dan kenaikan suku bunga The Fed.

  • Arus keluar dana asing dari pasar saham dan obligasi domestik.

  • Pelemahan rupiah bila selisih yield SBN-UST terus menyempit.

  • Volatilitas harga minyak terkait konflik AS-Iran.

  • Risiko likuiditas SBR015 karena tidak dapat diperdagangkan.

Kesimpulan

IHSG dan pasar SBN masih tertekan akibat yield obligasi AS yang tinggi. Pembukaan SBR015 dengan kupon minimal hingga 6,85% memberi peluang mengunci imbal hasil. Investor dapat memprioritaskan SBR015, menjaga likuiditas di reksadana pasar uang, dan menambah reksadana pendapatan tetap secara bertahap sesuai profil risiko.

Investasi di Aplikasi SBN Ritel Terbaik - Bareksa

Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi SBN resmi yang memudahkan pembelian obligasi negara seperti ORI, SR, ST, dan SBR. Kamu dapat membandingkan imbal hasil, memahami risiko, dan mengikuti jadwal penerbitan dengan jelas. Cocok untuk investor yang mencari investasi aman dengan dukungan negara, semuanya tersedia dalam satu aplikasi investasi terpercaya.

Investasi SBR015 di Sini

(Sigma Kinasih CTA, CFP/Ni Putu Kurniasari/AM)

Tentang Penulis

* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.

D​ISCLAIMER​​​​​​​​​

Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.

Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.

Pertanyaan Umum

Kapan SBR015 bisa dibeli?

Masa penawaran SBR015 berlangsung 28 September hingga 22 Oktober 2026.

Berapa kupon SBR015?

Kupon minimal 6,75% per tahun untuk SBR015T2 (2 tahun) dan 6,85% per tahun untuk SBR015T4 (4 tahun). Kupon bisa naik bila BI Rate naik.

Mengapa yield SBN naik berarti harga obligasi turun?

Harga dan yield obligasi bergerak berlawanan. Saat yield naik, harga obligasi di pasar turun.

Apakah reksadana pasar uang aman saat IHSG turun?

Reksadana pasar uang berinvestasi di deposito dan surat utang jangka pendek, sehingga fluktuasinya relatif rendah. Namun, reksadana bukan instrumen bebas risiko dan tidak dijamin LPS.

Apakah sekarang waktu yang tepat membeli emas?

Harga emas turun 6,8% dalam sebulan. Investor jangka panjang dapat membeli bertahap untuk mengurangi risiko waktu masuk.

Profil Penulis

Abdul Malik
Abdul Malik

Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.

Pilihan Investasi di Bareksa

Klik produk untuk lihat lebih detail.

Video Pilihan

Lihat Semua

Artikel Lainnya

Lihat Semua