Bareksa Insight: Emas Melesat, Yield SBN Melandai, Cermati Emas & Reksadana Pendapatan Tetap
Harga emas melonjak ke level tertinggi 7 pekan, yield SBN turun ke 7,27%, dan rupiah menguat. Simak peluang emas, reksa dana pendapatan tetap, serta strategi diversifikasi investasi.

Harga emas melonjak ke level tertinggi 7 pekan, yield SBN turun ke 7,27%, dan rupiah menguat. Simak peluang emas, reksa dana pendapatan tetap, serta strategi diversifikasi investasi.
Bareksa – Pergeseran sentimen pasar global kembali membuka peluang bagi investor untuk melakukan diversifikasi portofolio.
Harga emas dunia melonjak 4,92% ke US$4.278 per troy ounce pada Rabu (5/8/2026), kenaikan harian terbesar dalam beberapa pekan sekaligus membawa logam mulia ke level tertinggi dalam tujuh pekan. Pada Kamis pagi (6/8/2026), harga emas kembali menguat ke sekitar US$4.283 per troy ounce.
Di saat yang sama, yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun turun menjadi 7,27%, sementara nilai tukar rupiah kembali menguat ke bawah Rp17.900 per dolar AS.
Promo Terbaru di Bareksa
Kombinasi ketiga faktor tersebut menjadi sinyal bahwa minat investor terhadap aset defensif meningkat, sekaligus membuka peluang bagi instrumen berbasis obligasi seperti reksa dana pendapatan tetap (RDPT).
Pelemahan Dolar hingga Dedolarisasi Dorong Reli Emas
Melansir Kitco News (5/8), kenaikan harga emas dipicu oleh data ADP Employment Report yang menunjukkan penambahan tenaga kerja sektor swasta Amerika Serikat hanya 44.000 pada Juli, jauh di bawah ekspektasi pasar sekitar 75.000.
Data tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve memiliki ruang lebih besar untuk melonggarkan kebijakan moneternya sehingga mendorong pelemahan dolar AS dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Namun, reli emas kali ini tidak hanya didorong oleh data ekonomi jangka pendek. Menurut berbagai analisis Kitco News, tren kenaikan emas juga ditopang faktor struktural seperti meningkatnya pembelian emas oleh bank sentral, berlanjutnya diversifikasi cadangan devisa atau dedolarisasi, tingginya utang pemerintah Amerika Serikat, serta ketidakpastian arah suku bunga riil.
Faktor-faktor tersebut dinilai menjadi fondasi yang menjaga permintaan emas tetap kuat meski ketegangan geopolitik mulai mereda.
Dengan kata lain, kenaikan emas saat ini bukan semata-mata karena investor mencari aset aman (safe haven), tetapi juga mencerminkan perubahan preferensi investor global terhadap aset yang dinilai mampu menjaga nilai dalam jangka panjang.
Yield SBN Turun, Angin Segar Reksadana Pendapatan Tetap
Selain emas, pasar obligasi domestik juga menunjukkan perkembangan positif. Yield SBN tenor 10 tahun turun menjadi 7,27% dari sekitar 7,36% sehari sebelumnya.
Secara umum, penurunan yield obligasi akan diikuti kenaikan harga obligasi. Karena sebagian besar portofolio reksadana pendapatan tetap ditempatkan di obligasi pemerintah maupun korporasi, kondisi tersebut berpotensi memberikan tambahan capital gain dan mendukung peningkatan Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksadana.
Meski begitu, potensi tersebut tetap bergantung pada komposisi portofolio masing-masing produk, durasi obligasi, serta kondisi pasar sehingga bukan merupakan jaminan keuntungan.
Rupiah Menguat, Diversifikasi Tetap Relevan
Nilai tukar rupiah juga kembali menguat ke bawah Rp17.900 per dolar AS, mencerminkan sentimen domestik yang lebih kondusif dibanding beberapa pekan sebelumnya.
Walaupun volatilitas pasar global masih mungkin terjadi seiring arah kebijakan Federal Reserve dan perkembangan ekonomi dunia, kombinasi penguatan rupiah, turunnya yield obligasi, dan reli emas menunjukkan investor mulai melakukan reposisi portofolio ke aset yang dinilai lebih defensif namun tetap memiliki potensi imbal hasil.
Apa yang Dapat Dicermati Investor?
Emas Digital
Kenaikan harga emas dunia ikut mendorong harga emas digital di Bareksa.
Platform | Harga Beli | Return 1 Tahun |
Treasury | Rp2.544.602 | 39,57% |
Pegadaian | Rp2.499.735 | 33,86% |
Indogold | Rp2.497.440 | 36,83% |
Sumber: Bareksa Emas, per 6 Agustus 2026 pagi.
Prospek Emas Global
Prospek emas masih dinilai positif oleh sejumlah lembaga internasional.
JPMorgan memperkirakan harga emas mencapai US$4.500/oz pada akhir 2026.
Konsensus Reuters memproyeksikan rata-rata harga emas US$4.509/oz sepanjang 2026 dan US$4.610/oz pada 2027.
Dengan asumsi kurs rupiah dan premium emas digital relatif tetap, harga emas digital secara ilustratif berpotensi berada di kisaran Rp2,72–2,79 juta per gram. Estimasi tersebut bukan target harga maupun jaminan hasil investasi.
Reksadana Pendapatan Tetap
Penurunan yield obligasi membuat reksadana pendapatan tetap layak dicermati oleh investor yang ingin memperoleh eksposur pada pasar obligasi.
Produk | Return |
Allianz Fixed Income Fund 2 Kelas A | 0,67% (1 Tahun) |
BNP Paribas Prima II Kelas RK1 | 0,48% (1 Tahun) |
BNP Paribas Prima USD Kelas RK1 | 0,65% (1 Tahun) |
STAR Fixed Income NEO AI Dollar | 3,14% (6 Bulan) |
Sumber: Bareksa, kinerja per 5 Agustus 2026.
Reksadana Pasar Uang
Bagi investor yang masih mengutamakan likuiditas, reksadana pasar uang tetap dapat menjadi pilihan defensif sambil menunggu arah kebijakan suku bunga global semakin jelas.
Produk | Return 1 Tahun |
Insight Money | 5,21% |
STAR Money Market Kelas Utama | 4,56% |
Sumber: Bareksa, kinerja per 5 Agustus 2026.
Apa yang Sebaiknya Dilakukan Investor?
Perubahan sentimen pasar beberapa hari terakhir menunjukkan diversifikasi tetap menjadi strategi yang relevan. Emas dapat membantu menjaga keseimbangan portofolio ketika ketidakpastian global meningkat, sementara reksadana pendapatan tetap berpotensi memperoleh manfaat dari penurunan yield obligasi. Adapun reksadana pasar uang tetap sesuai bagi investor yang mengutamakan likuiditas.
Seluruh keputusan investasi sebaiknya disesuaikan dengan tujuan investasi, profil risiko, dan jangka waktu masing-masing investor.
Kesimpulan
Reli emas ke level tertinggi dalam tujuh pekan, turunnya yield SBN ke 7,27%, serta penguatan rupiah menunjukkan adanya pergeseran sentimen pasar yang lebih kondusif bagi aset defensif dan instrumen berbasis obligasi. Dalam kondisi tersebut, emas dan reksadana pendapatan tetap layak dicermati sebagai bagian dari strategi diversifikasi, sementara reksadana pasar uang tetap relevan untuk menjaga fleksibilitas portofolio.
Investasi di Aplikasi Reksadana Terbaik - Bareksa
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi reksa dana terpercaya yang telah berizin OJK sejak 2016. Dengan 160+ produk reksadana dari 35 manajer investasi, kamu bisa memilih sesuai tujuan dan profil risiko. Dilengkapi fitur pembanding performa, riset pasar, dan rekomendasi ahli, Bareksa membantu kamu mulai investasi reksadana dengan mudah, aman, dan terarah dalam satu aplikasi.
(Sigma Kinasih CTA, CFP/Ni Putu Kurniasari/AM)
Tentang Penulis
* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.
***
DISCLAIMER
Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.
Pertanyaan Umum
Mengapa harga emas melonjak pada awal Agustus 2026?
Kenaikan emas dipicu oleh data tenaga kerja swasta AS yang lebih lemah
dari perkiraan, pelemahan dolar AS, turunnya imbal hasil obligasi AS,
serta didukung tren pembelian emas oleh bank sentral.
Apa itu dedolarisasi dan mengapa mendukung harga emas?
Dedolarisasi adalah upaya sejumlah negara mengurangi ketergantungan pada
dolar AS dalam cadangan devisa dan transaksi internasional. Salah satu
caranya adalah meningkatkan kepemilikan emas, sehingga permintaan logam
mulia cenderung meningkat dalam jangka panjang.
Mengapa penurunan yield SBN dapat menguntungkan reksa dana pendapatan tetap?
Secara umum, penurunan yield obligasi diikuti kenaikan harga obligasi
sehingga dapat meningkatkan nilai portofolio reksadana pendapatan tetap.
Namun hasil investasi tetap dipengaruhi kondisi pasar dan komposisi
portofolio.
Apakah emas masih layak dicermati setelah reli?
Emas masih berpotensi menjadi pelengkap diversifikasi portofolio,
terutama ketika ketidakpastian global, arah suku bunga, dan pembelian
emas oleh bank sentral masih menjadi faktor pendukung.
Mengapa reksadana pasar uang tetap relevan?
Reksadana pasar uang dapat menjadi alternatif bagi investor yang
mengutamakan likuiditas sambil menunggu arah pasar dan kebijakan suku
bunga global lebih jelas.
Profil Penulis

Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
Pilihan Investasi di Bareksa
Klik produk untuk lihat lebih detail.
| Produk Eksklusif | Harga/Unit | 1 Bulan | 6 Bulan | YTD | 1 Tahun | 3 Tahun | 5 Tahun |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
Trimegah Dana Obligasi Nusantara autodebet | 1.229,99 | ||||||
Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A | 1.186,59 | - | - | ||||
Eastspring Syariah Mixed Asset Fund Kelas A | 1.032,99 | - | - | - | |||
STAR Stable Amanah Sukuk autodebet | 1.204,01 | - | - |
Produk Belum Tersedia
Ayo daftar Bareksa SBN sekarang untuk bertransaksi ketika periode pembelian dibuka.
Ayo daftar Bareksa SBN sekarang untuk bertransaksi ketika periode pembelian dibuka.


