Bareksa Insight Weekly: Ini Alasan SBR012 Bisa Jaga Stabilitas Portofolio Investasi Kamu

Kupon SBR012-T2 dan SBR012-T4 lebih menarik daripada suku bunga acuan BI dan deposito
Hanum Kusuma Dewi • 23 Jan 2023
cover

Ilustrasi grafik kinerja pergerakan investasi di SBN ritel online yang melengkapi portofolio reksadana. (Shutterstock)

Bareksa.com - Surat Berharga Negara (SBN) Ritel terbaru seri Savings Bond Ritel SBR012 bisa jadi satu produk investasi yang menjaga portofolio investor, di samping reksadana. Selain memberikan imbal hasil berupa kupon yang menarik, SBR012 yang terdiri dari dua pilihan tenor ini mendapat jaminan 100% dari negara. 

SBR012 jadi pilihan menarik untuk Smart Investor karena tingkat bunga yang menarik, di tengah ketidakpastian risiko global. SBR012 juga bisa jadi instrumen diversifikasi untuk menjaga kinerja portofolio investasi agar lebih stabil.

Seperti diketahui, SBR012 dengan tenor 2 tahun (SBR012-T2) dan tenor 4 tahun (SBR012-T4) hanya dapat dipesan selama masa penawaran 19 Januari -9 Februari 2023. Kupon yang ditetapkan untuk kedua tipe SBR012 ini cukup menarik dibandingkan suku bunga deposito dan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI), yaitu masing-masing 6,15% dan 6,35% per tahun untuk tenor 2 tahun dan 4 tahun. 

Historis Selisih Kupon SBR dengan Deposito dan Suku Bunga BI

Sumber: Kemenkeu, Tim Analis Bareksa,*Rata-rata deposito bank KBMI IV (18 Januari 2023)

Terlihat jika selisih antara kupon SBR012 dengan bunga deposito sangat atraktif dan lebih tinggi dibandingkan selisih penerbitan 5 seri SBR sebelumnya. Selisih SBR012 tenor 2 tahun mencapai 3,52% sementara untuk tenor 4 tahun bahkan mencapai 3,72%.

Namun memang selisih dengan suku bunga BI lebih rendah dibandingkan sebelumnya, saat ini hanya sekitar 0,65% untuk SBR012-T2 dan 0,85% untuk SBR012-T4. Hal ini dikarenakan sejak tahun 2022 suku bunga acuan Bank Indonesia masuk ke dalam tren kenaikan.

Sehingga mengantisipasi berlanjutnya potensi kenaikan suku bunga BI tahun ini, maka selisih dengan kupon juga tidak terlalu besar. Apalagi, seri SBR bersifat floating rate, sehingga jika ada kenaikan suku bunga BI maka kupon SBR012 juga ikut naik. Inilah yang membuat SBR012 lebih menguntungkan dibandingkan deposito.

Salah satu pertimbangan yang membuat tingkat kupon ini menarik adalah terkait pertumbuhan ekonomi global. Dengan potensi resesi global, investasi di aset SBN ritel online yang dijamin pemerintah tentu menjadi menarik. 

Melihat data ekonomi global seperti penurunan penjualan ritel AS yang lebih besar daripada  ekspektasi pasar, membuat investor berusaha untuk mencermati potensi resesi di semester pertama tahun ini. Dari sisi inflasi produsen sudah menunjukan tren pelemahan, menandakan inflasi akan terjaga ke depannya.

Kekhawatiran Potensi Resesi Meningkat Akibat Penjualan Ritel yang Rendah

Sumber: Bloomberg

Kemudian, pertimbangan lainnya, Bank Indonesia dalam 2 bulan terakhir sudah menaikkan suku bunga acuan sebesar 0,5% menjadi 5,75% sebagai upaya forward looking dari BI untuk menjaga stabilitas rupiah ke depannya. Tim Analis Bareksa melihat tren ini akan berlanjut hingga semester 1 tahun ini sehingga kupon SBR012 pun bakal ikut naik. Menarik bukan?

Apa yang harus dilakukan investor?

  • Investasi pada SBR012, baik tipe SBR012-T2 maupun SBR012-T4, bisa melengkapi portofolio investor dan menjaga stabilitas jangka menengah. Selain itu, Smart Investor juga dapat mempertimbangkan untuk melakukan strategi investasi di reksadana saham dan reksadana indeks seperti berikut.
  • Investor profil risiko moderat dapat pertimbangkan akumulasi bertahap ke reksadana pendapatan tetap berbasis obligasi negara (SBN) di level yang atraktif (kembali menuju level yield acuan 7%). Sebab, saat ini investor global dan domestik mencari aset investasi yang relatif aman. Fluktuasi di pasar saham Indonesia dan masih beralihnya investor ke pasar saham China juga mendorong sebagian investor saham diversifikasi ke obligasi negara.
  • Investor dengan profil risiko agresif dapat terus cermati sentimen yang ada di pasar saham. Melihat momentum fluktuasi di Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), investor dapat mempertimbangkan akumulasi bertahap di reksadana saham maupun reksadana indeks jika IHSG berada di rentang level 6.600-6.800.
  • Untuk investor semua jenis profil risiko dapat tetap berinvestasi di reksadana pasar uang yang umumnya lebih stabil.

Kinerja Reksadana Unggulan Bareksa

Sumber: Tim Analis Bareksa, Data Return 18 Januari 2023. *Total return NAV + dividen

Perlu diingat kembali, investasi mengandung risiko, sehingga investor juga perlu membekali diri mengenai peluang keuntungan maupun risiko yang ada di pasar keuangan.

Investasi Sekarang

(Ariyanto Dipo Sucahyo/hm)

* * * 

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan  dalam berinvestasi reksadana.