Dibayangi Tekanan Pasar Akibat Corona, Dana Kelolaan Bareksa Masih Terus Tumbuh

Sebagai mitra strategis e-investasi OVO, Bareksa berupaya meredam gejolak pasar dengan menjual SBN ritel dan BareksaEmas
Senin, 16 Maret 2020 23:18:47 WIB Hanum K. Dewi
Image
Ilustrasi seseorang menggunakan aplikasi Bareksa di handphone smartphone untuk melakukan transaksi reksadana online pembayaran digital. (Bareksa/Anggie)

Bareksa.com - Fenomena menarik terjadi di dunia e-investasi Indonesia. Di tengah ambruknya pasar saham dan finansial global, total dana kelolaan (asset under management/AUM) marketplace financial Bareksa justru masih terus bertumbuh.

Total AUM Bareksa per 15 Maret 2020 sudah tembus melampaui Rp2 triliun, atau melesat 20 persen dibanding akhir tahun 2019. Jika dibandingkan dengan angka bulan lalu, saat pandemi virus corona menghancurkan bursa saham di berbagai belahan dunia, AUM Bareksa masih melonjak 12 persen. Padahal, di periode yang sama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambrol 17 persen.

Peningkatan AUM Bareksa didorong nilai subscription (pembelian) reksadana selama sebulan terakhir. Penjualan Sukuk Negara Ritel (SR 012) yang diterbitkan Pemerintah RI di Bareksa juga melonjak 48 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Selain itu, jumlah nasabah Bareksa pun terus bertumbuh, sudah mencapai 800 ribu atau sekitar 42 persen dari jumlah investor reksadana di Indonesia.

"Jika tren ini berlanjut, maka ini merupakan fenomena penting yang menunjukkan potensi fintech di area e-investasi bukan hanya untuk melakukan pendalaman tapi juga stabilisasi market di masa-masa mendatang, khususnya di saat terjadi guncangan besar di dunia keuangan Indonesia. Bersama-sama pemain lainnya, Bareksa siap ikut membantu pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam meredam dampak pandemi COVID-19 di pasar keuangan kita," kata Co-founder/CEO Bareksa, Karaniya Dharmasaputra dalam keterangan tertulis (16/3/2020).

Work From Home

Menindaklanjuti arahan dan himbauan Presiden Joko Widodo pada Ahad (15/3/2020) kemarin untuk "kerja dari rumah, belajar dari rumah, dan ibadah di rumah"; Karaniya menjelaskan Bareksa telah menetapkan sejumlah kebijakan untuk ikut mendukung upaya meredam penyebaran COVID-19, sembari tetap menjamin layanan bagi nasabah.

Pertama, Bareksa menerapkan kebijakan kerja dari rumah (work from home) untuk semua divisi pada periode 17-31 Maret 2020. "Untuk periode selanjutnya akan diputuskan melihat perkembangan situasi," Karaniya menambahkan.

Kedua, memastikan semua layanan nasabah akan tetap berjalan seperti biasa. Nasabah masih bisa bertransaksi melalui website (mobile dan desktop) serta aplikasi Bareksa. Pertanyaan bisa disampaikan melalui e-mail : cs@bareksa.com, nomor telepon call center (021) 5011-7000, serta media sosial resmi Bareksa.

“Menjaga kesehatan adalah investasi yang penting untuk masa depan. Dan kenyamanan nasabah dalam bertransaksi di Bareksa tetap menjadi yang utama. Karena itu, Bareksa memastikan layanan nasabah akan berjalan normal sementara karyawan bekerja dari rumah," ungkap Karaniya.

Ketiga, Bareksa siap membantu pemerintah dan OJK dalam meringankan tekanan di pasar modal dan keuangan nasional. Antara lain, dengan terus mendukung penjualan Surat Berharga Negara (SBN) ritel secara online, di mana saat ini masih dalam masa penawaran Sukuk Ritel (SR012). Selain itu, Bareksa juga terus mengedukasi dan mendorong penjualan reksadana pasar uang, yang bisa menjadi pilihan bagi investor dalam jangka pendek.

Keempat, Bareksa segera meluncurkan BareksaEmas, yakni fitur jual-beli emas secara online dengan fasilitas titipan. “BareksaEmas diharapkan bisa menjadi safe haven investment (aset aman) yang dapat menjadi alternatif sekaligus diversifikasi investasi bagi masyarakat Indonesia di tengah ketidakpastian saat ini,” kata Karaniya.

Pemerintah pada pekan lalu telah meluncurkan stimulus fiskal dan non-fiskal untuk meredam dampak COVID-19 terhadap perekonomian Indonesia. Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan dampak dari stimulus itu secara bertahap akan memperbaiki kinerja korporasi, dan akan diikuti dengan respons positif dari market.  

"Paket stimulus yang dikeluarkan ini tidak langsung kepada pasar modal. Tapi kami harapkan bisa memberi confidence pada pelaku usaha baik sektor yang terkena secara langsung maupun tidak langsung termasuk investor pasar modal," Wimboh menerangkan dalam konferensi pers Stimulus Ekonomi Jilid II di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jumat pekan lalu.

Bareksa adalah marketplace finansial dan investasi terintegrasi pertama di Indonesia, yang telah mendapat lisensi resmi sebagai Agen Penjual Reksa Dana dari Otoritas Jasa Keuangan sejak 2016. Kini, Bareksa menjual lebih dari 190 produk reksadana dari 40 manajer investasi di Indonesia dan memiliki hampir 800 ribu nasabah.

Selain menjual produk reksadana, Bareksa juga merupakan salah satu mitra distribusi yang dipercaya oleh Kementerian Keuangan RI untuk menjual Surat Berharga Negara (SBN) ritel secara online. Bareksa juga menyediakan berbagai layanan untuk penggunanya seperti: data market, konten, online tools, riset, dan banyak lainnya. Untuk lebih jelasnya, kunjungi www.bareksa.com.

(AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER