Syailendra Capital : Outlook SBN Positif, Yield SUN 10 Tahun Bisa 6,8 Persen

Indonesia diperkirakan menjadi salah satu pilihan utama di ASEAN untuk investasi setelah Filipina
Rabu, 26 Februari 2020 17:50:35 WIB Abdul Malik
Image
Ilustrasi investor memantau perkembangan investasinya di obligasi (shutterstock)

Bareksa.com - Laporan "Monthly Bulletin" edisi Februari 2020 yang dipublikasi PT Syailendra Capital memprediksi pasar Indonesia masih menarik, utamanya dengan level suku bunga acuan saat ini.

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 19-20 Februari 2020 lalu memutuskan untuk menurunkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) 25 basis poin (bps) menjadi 4,75 persen, suku bunga deposit facility 25 bps jadi 4 persen dan suku bunga lending facility 25 bps jadi 5,5 persen.

Menurut Syailendra Capital, dengan level suku bunga saat ini, di antara negara-negara berkembang lainnya, Indonesia menjadi salah satu yang paling menarik sehingga rally pasar obligasi berpotensi berlanjut. 

"Dengan tingkat real benchmark rate yang menarik dibandingkan negara berkembang lainnya, kami memperkirakan Indonesia menjadi salah satu pilihan utama di ASEAN untuk investasi setelah Filipina," ungkap laporan "Monthly Bulletin" edisi Februari 2020 PT Syailendra Capital. 

Dengan level suku bunga BI saat ini 4,75 persen, suku bunga acuan Indonesia di bawah Nigeria 13,5 persen, Turki 12 persen, Meksiko 7,25 persen, Afrika Selatan 6,5 persen, Rusia 6,25 persen, namun di atas Filipina 4 persen dan Malaysia 3 persen.

Saat suku bunga BI 5 persen, real benchmark rate Indonesia diestimasi 2,28 persen di bawah Filipina yang 2,33 persen, Russia 3,25 persen dan Meksiko 4,28 persen.

Real Benchmark Rate Negara Berkembang (%)


Sumber : Monthly Bulletin edisi Februari 2020 PT Syailendra Capital

Laporan tersebut mengungkapkan langkah Bank Indonesia menstabilkan kondisi pasar Surat Utang Negara (SUN) terus berlanjut dengan membelinya dari investor asing. Kenaikan kepemilikan SUN oleh BI tampak mencolok dari perubahan kepemilikan pada periode Desember 2018 - Januari 2019, dibandingkan periode Desember 2019 - Januari 2020 yang melonjak signifikan. Kepemilikan bank di SUN pada periode yang sama justru menorehkan catatan sebaliknya, atau anjlok signifikan.

Kepemilikan Baru SUN (YtD/Rp triliun)


Sumber : Monthly Bulletin edisi Februari 2020 PT Syailendra Capital

Menurut Syailendra Capital, sepanjang bulan Januari 2020, Bank Sentral melakukan akumulasi pembelian untuk menstabilkan pasar SUN melihat potensi meningkatnya ketidakpastian akibat virus corona. Meski ada aksi investor asing melepas kepemilikannya di SUN, namun nilai kepemilikan asing atas SUN masih relatif lebih tinggi dibandingkan investor lainnya seperti dana pensiun, asuransi hingga reksadana.

Kepemilikan Baru SBSN (YtD/Rp triliun)


Sumber : Monthly Bulletin edisi Februari 2020 PT Syailendra Capital

Berbeda kondisinya dengan SUN, kepemilikan bank sentral atas Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) justru anjlok pada periode Desember 2019-Januari 2020 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Meskipun juga mencatatkan penurunan, namun kepemilikan perbankan atas SBSN masih dominan. Lonjakan kepemilikan SBSN justru dicatatkan oleh investor asing. 

"Bank masih menjadi penyerap utama atas penerbitan SBSN. Di saat bersamaan permintaan lokal atas SBSN masih minim," ungkap laporan tersebut.

Syailendra Capital memperkirakan outlook pasar obligasi pemerintah masih tetap positif meskipun ada risiko pembalikan arah dengan alasan sebagai berikut :

- Ekspektasi pasar terhadap tren suku bunga global akan tetap rendah dan tidak jauh berbeda dari level sekarang.
- Volatilitas rupiah akan tetap datang dari isu global, seperti tarik ulur perang dagang AS-China, pasar berekspektasi hal ini akan terselesaikan mengingat adanya Pemilu di AS pada tahun 2020 ini.
- Posisi investor asing di SBN sudah meningkat cukup signifikan dalam 12 bulan terakhir.

Yield Obligasi Pemerintah 10 Tahun dibanding Kepemilikan Asing (%)

Sumber : Monthly Bulletin edisi Februari 2020 PT Syailendra Capital

Menurut Syailendra Capital dengan menggunakan asumsi fair level rupiah di Rp14.200 hingga Rp14.500 per dolar Amerika Serikat dan imbal hasil US treasury 10 tahun di 2 persen, maka imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun di 6,6 persen hingga 6,8 persen. 

"Melihat volatilitas pasar obligasi akan tetap tinggi dalam beberapa bulan ke depan dan imbal hasil tenor 10 tahun yang sudah fairly valued, kami merekomendasikan durasi netral untuk portofolio obligasi," ungkap laporan tersebut.

* Tulisan 2 dari 3 bagian tulisan.
** Tulisan ini merupakan cuplikan dari laporan Monthly Bulletin edisi Februari 2020 PT Syailendra Capital

***

Ingin berinvestasi sekaligus bantu negara?

Pemerintah telah resmi membuka masa penawaran Sukuk Ritel seri SR012 mulai 24 Februari 2020. Masa penawaran investasi syariah itu hingga 18 Maret 2020. Belum memiliki akun Bareksa tetapi ingin berinvestasi SBN? Segera daftar di sbn.bareksa.com sekarang, gratis hanya dengan menyiapkan KTP dan NPWP. Baca panduannya di sini.

Bagi yang sudah pernah membeli SBR, ORI atau Sukuk di Bareksa sebelumnya, Anda bisa menggunakan akun di sbn.bareksa.com untuk memesan SBN seri berikutnya.

Bila sudah memiliki akun Bareksa untuk reksadana sebelumnya, segera lengkapi data Anda berupa NPWP dan rekening bank yang dimiliki.

Kalau belum punya NPWP, tapi mau beli SBN? Kita juga bisa meminjam NPWP punya orang tua atau suami.

PT Bareksa Portal Investasi atau bareksa.com adalah mitra distribusi resmi Kementerian Keuangan untuk penjualan Surat Berharga Negara (SBN) ritel secara online. Selain proses registrasi dan transaksi sangat cepat dan mudah, Anda juga dapat memantau investasi Anda dari mana saja dan kapan saja.



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER