Sebulan Terakhir Reksadana Pendapatan Tetap Berkinerja Terbaik, Ini Jawaranya

Sebulan terakhir IHSG melemah atau negatif 2,64 persen jadi 6.133 per 27 Januari 2020
Selasa, 28 Januari 2020 15:33:45 WIB Abdul Malik
Image
Karyawan beraktivitas di dekat grafik pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (2/8/2019). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/wsj

Bareksa.com - Sebulan terakhir kinerja pasar modal nasional masih fluktuatif, dipengaruhi banyak faktor eksternal dan internal. Terakhir adalah sentimen dampak kasus virus corona di Wuhan, China hingga hari ini telah menyebar ke 16 negara.

16 negara itu di antaranya Jerman, Amerika Serikat, Perancis, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Singapura, Thailand, Australia, Nepal, Vietnam, Malaysia, Kanada, Kamboja dan Sri Lanka. Selain negara-negara itu, wilayah milik China yang ada di luar China daratan, yaitu Hong Kong dan Makau. Meluasnya kasus positif inveksi virus corona mulai berdampak pada aktivitas ekonomi dan pasar modal.

Sejauh ini sudah ada 2.744 kasus infeksi virus corona dengan 80 angka kematian, dan kemungkinan masih akan terus bertambah. Hingga kemarin, sudah ada lebih dari 30.000 orang sedang diperiksa secara seksama atas dugaan serangan virus corona.

Dari faktor internal sengkarut kasus dugaan korupsi di dua perusahaan PT Asuransi Jiwasraya (Jiwasraya) dan PT Asabri yang menyerat belasan perusahaan sekuritas dan manajer investasi juga membayangi kinerja pasar modal domestik.

Kabar terbaru hari ini (28/1/2020), Kejaksaan Agung (Kejagung) memanggil tiga saksi terkait kasus dugaan korupsi Jiwasraya. Saksi yang dijadwalkan diperiksa ialah Direktur PT Strategic Management Service, Arif Budi Satria; karyawan PT Jasa Utama Capital Sekuritas, Ali Djawas; dan karyawan dari Benny Tjokrosapoetro di PT Hanson Internasional, Rosalia.

Kejagung sebelumnya juga melakukan penggeledahan di sejumlah tempat, yakni kantor PT Lotus Andalan Sekuritas atau PT Lautan Dana Sekurindo, PT Mirae Sekuritas atau PT Daewoo Sekuritas, dan PT Cipta Dana Sekuritas di Plaza Asia Office di Jalan Jenderal Sudirman.

Kejagung juga telah menetapkan lima orang tersangka yakni Direktur Jiwasraya Hendrisman, Direktur Keuangan Jiwasraya Hary Prasetyo, Direktur Utama PT Hanson International Benny Tjokrosaputro, Kepala Divisi Investasi dan Keuangan Jiwasraya Syahmirwan, serta Presiden Komisaris PT Trada Alam Mineral Heru Hidayat. Kelima tersangka itu dijerat Pasal 2 Ayat (1) dan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Kejagung menduga investasi yang dilakukan PT Asuransi Jiwasraya (Persero) dari dana kelolaan yang dihimpun melalui produk asuransi JS Saving Plan, membuat kerugian negara mencapai Rp13,7 triliun hingga Agustus 2019. Kejagung menyatakan masih akan ada tersangka lagi yang ditetapkan dari kasus Jiwasraya.

Kombinasi faktor eksternal dan internal tersebut berdampak terhadap fluktuasi pasar modal. Sebulan terakhir Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah atau negatif 2,64 persen jadi 6.133 per 27 Januari 2020. Di antara empat jenis reksadana, reksadana pendapatan tetap jadi jawara atau memiliki kinerja paling cemerlang, sedangkan reksadana saham turun paling dalam.

Sebulan terakhir, imbal hasil indeks reksadana pendapatan tetap 1,74 persen (per 27 Januari 2020), disusul indeks reksadana pasar uang 0,24 persen, indeks reksadana campuran minus 2,05 persen dan indeks reksadana saham negatif 5,14 persen.

Perbandingan Kinerja IHSG dan Indeks Reksadana Sebulan (per 27 Januari 2020)


Sumber : Bareksa

Berdasarkan data reksadana yang tersedia di Bareksa, sebulan terakhir sebanyak 35 produk reksadana yang mencatatkan return tertinggi ialah reksadana pendapatan tetap dengan return 1,11 persen hingga 3,83 persen sebulan terakhir, baru di urutan ke-36 ditempati oleh reksadana campuran.

10 Reksadana Return Tertinggi Sebulan Terakhir (per 27 Januari 2020)


Sumber : Bareksa

Dalam posisi 10 besar, return tertinggi dicatatkan oleh Medali Dua dengan imbal hasil 3,83 persen, Cita Bond 3,14 persen, Manulife Obligasi Negara Indonesia II 3,08 persen, Victoria Obligasi Negara 3 persen, Mandiri Investa Dana Obligasi Seri II 2,89 persen, Capital Fixed Income Fund 2,86 persen, Schroder Dana Mantap Plus II 2,86 persen, RHB Fixed Income Fund 2 return 2,81 persen, serta Avrist Prime Bond Fund dengan return 2,73 persen sebulan terakhir (per 27 Januari 2020).

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

Adapun reksadana pendapatan tetap ialah jenis reksadana yang menempatkan mayoritas investasinya ke dalam instrumen surat utang (obligasi) dan produk pasar uang. Portofolio reksadana pendapatan tetap minimal 80 persen, harus terdiri dari surat utang, sedangkan sisanya merupakan produk pasar uang.

Meskipun reksadana pendapatan tetap sebagian besar portofolionya berisi surat utang (obligasi), reksadana ini tidak dikenal dengan nama reksadana obligasi. Reksadana pendapatan tetap juga bukan berarti bahwa investor akan mendapatkan pendapatan tetap.

Akan tetapi, reksadana pendapatan tetap diberikan karena reksadana ini berinvestasi pada instrumen surat utang (obligasi) yang memberikan pendapatan tetap secara berkala dalam bentuk kupon. Karena itu, reksadana ini lebih dikenal dengan reksadana pendapatan tetap (fixed income fund).

Reksadana pendapatan tetap cocok untuk investor yang berprofil risiko moderat yang bisa menerima sedikit fluktuasi nilai investasi dengan jangka waktu investasi 1-3 tahun.

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER