Suku Bunga Acuan Tetap 5 Persen, Ini Dampaknya ke Reksadana

Yang terpenting, berinvestasilah sesuai tujuan keuangan
Kamis, 23 Januari 2020 18:15:31 WIB Martina Priyanti
Image
Bank Indonesia (BI) melalui Rapat Dewan Gubernur atau RDG pada 22-23 Januari 2019, kembali memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di 5 persen. (shutterstock)

Bareksa.com - Bank Indonesia (BI) melalui Rapat Dewan Gubernur atau RDG pada 22-23 Januari 2019, kembali memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di 5 persen. BI 7-Day Reverse Repo Rate 5 persen sendiri telah ditetapkan BI sejak 24 Oktober 2019.

Di sisi lain, suku bunga Deposit Facility sebesar 4,25 persen dan suku bunga Lending Facility 5,75 persen.

Tabel Suku Bunga Acuan BI

Sumber: Bank Indonesia

Gubernur BI, Perry Warjiyo menyampaikan meski mempertahankan tingkat suku bunga acuan, kebijakan moneter masih akan akomodatif. "Kebijakan moneter tetap akomodatif dan konsisten dengan prakiraan inflasi yang terkendali dalam kisaran sasaran, stabilitas eksternal yang terjaga, serta upaya untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik," kata Perry, Kamis (23/1/2020).

Ia menjelaskan strategi operasi moneter akan terus ditujukan untuk menjaga kecukupan likuiditas dan mendukung transmisi bauran kebijakan yang akomodatif. Saat bersamaan, seperti dikutip CNBC Indonesia, pada kebijakan makroprudensial yang akomodatif ditempuh untuk mendorong pembiayaan ekonomi sejalan siklus finansial yang di bawah optimal dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian.

"Kebijakan sistem pembayaran dan kebijakan pendalaman pasar keuangan terus diperkuat guna mendukung pertumbuhan ekonomi," kata Perry.

Lebih lanjut ia menjelaskan ke depannya, BI akan mencermati perkembangan ekonomi global dan domestik dalam memanfaatkan ruang bauran kebijakan yang akomodatif. Tujuannya tak lain untuk menjaga tetap terkendalinya inflasi dan stabilitas eksternal, serta turut mendukung momentum pertumbuhan ekonomi.

"Koordinasi Bank Indonesia dengan Pemerintah dan otoritas terkait terus diperkuat guna mempertahankan stabilitas ekonomi, mendorong permintaan domestik, serta meningkatkan ekspor, pariwisata, dan aliran masuk modal asing, termasuk Penanaman Modal Asing (PMA)," ucap Perry.

Suku bunga merupakan salah satu kebijakan moneter yang pelaksanaannya dilakukan oleh bank sentral di seluruh dunia. Sebagai kebijakan moneter ketika ekonomi mengalami perlambatan atau bahkan resesi, bank sentral akan menurunkan suku bunga agar ekonomi bergeliat kembali.

Dengan begitu, diharapkan bunga kredit ikut turun, pengusaha mengajukan kredit dan berekspansi, serta pada akhirnya perekonomian tumbuh kembali. Sebaliknya, ketika ekonomi sedang mengalami pertumbuhan pesat yang menyebabkan tingkat inflasi terlalu tinggi, maka bank sentral akan menaikkan suku bunga yang berakibat pada meningkatnya bunga kredit.

Dengan adanya kenaikan suku bunga, diharapkan kegiatan ekspansi akan tidak terlalu agresif sehingga inflasi tidak menjadi terlalu tinggi. Maka secara sederhana, ketika kondisi ekonomi sedang kurang baik, suku bunga berpotensi diturunkan dan ketika kondisi ekonomi terlalu baik, suku bunga berpotensi dinaikkan.

Tapi, selain naik dan turun, ada kemungkinan juga suku bunga tidak berubah apabila dirasakan sudah sesuai dengan kondisi perekonomian yang ada. Hal dimaksud seperti keputusan BI pada hari ini.

Selain tingkat pertumbuhan ekonomi, indikator lain yang menjadi pertimbangan bank sentral dalam menentukan tingkat suku bunga adalah tingkat inflasi. Umumnya bank sentral akan berupaya agar yang namanya tingkat bunga berada di atas tingkat inflasi.

Dampak ke Reksadana

Naik turun serta dipertahankannya suku bunga, bisa berdampak pada harga saham dan obligasi yang menjadi bagian portofolio investasi reksadana. Reksadana ialah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

Obligasi, sebagai salah satu aset dalam reksadana, sangat sensitif terhadap suku bunga. Secara mudahnya, apabila tingkat suku bunga naik, maka harga obligasi akan turun. Nah, jika tingkat suku bunga turun harga obligasi akan naik.

Ketika suku bunga bank sentral diturunkan, reksadana yang berinvestasi pada obligasi seperti reksadana pasar uang, reksadana pendapatan tetap, dan reksadana campuran akan diuntungkan karena harga obligasi di pasar naik.

Sementara itu, dampak suku bunga pada saham tidak langsung. Secara teori, penurunan tingkat suku bunga akan menyebabkan bunga tabungan dan deposito di perbankan menjadi tidak menarik. Jika demikian, masyarakat biasanya akan mencari alternatif investasi yang memberikan imbal hasil lebih tinggi yaitu pasar modal.

Bila banyak permintaan masuk ke saham di pasar modal akibat penurunan suku bunga, akan menyebabkan kenaikan harga saham dan sebaliknya. Ketika suku bunga bank sentral diturunkan, reksadana yang berinvestasi pada saham seperti reksadana campuran dan reksadana saham akan diuntungkan dan sebaliknya.

Grafik Perbandingan Return Indeks Reksadana Saham, Campuran, Pasar Uang, Pendapatan Tetap di Bareksa Setahun

Sumber: Bareksa

Yang jelas, mesti dipahami oleh setiap investor reksadana adalah suku bunga bukanlah satu-satunya indikator yang menentukan naik turunnya harga saham dan obligasi. Ada juga faktor-faktor lainnya seperti permintaan dan penawaran, fundamental, valuasi, pertumbuhan ekonomi, dan berbagai sentimen lainnya baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri.

Kadang, perubahan suku bunga memang menyebabkan kinerja reksadana naik atau turun, tetapi sifatnya hanya sementara saja. Bisa saja setelah itu, harga masih bisa naik atau turun, tapi disebabkan karena hal lainnya.

Makanya sebagai investor reksadana, cara terbaik untuk berinvestasi pada reksadana bukanlah menentukan kapan waktu yang tepat untuk memulai berdasarkan suku bunga akan naik atau turun, tapi berinvestasilah sesuai tujuan keuangan.

Sebagai gambaran, untuk tujuan keuangan di bawah 1 tahun, bisa memilih reksadana pasar uang. Sedangkan untuk investasi 1-3 tahun, bisa memilih reksa dana pendapatan tetap. Untuk yang memiliki tujuan investasi 3-5 tahun ke depan, bisa memilih reksadana campuran, dan yang tujuan di atas 5 tahun, bisa memilih reksadana saham.

Selain itu, dalam jangka panjang, kinerja reksadana yang berbasis di Indonesia akan lebih terpengaruh oleh perubahan suku bunga di dalam negeri, bukan tingkat suku bunga negara lain seperti kebijakan suku bunga Amerika oleh The Fed misalnya. Pengaruh perubahan suku bunga di luar negeri biasanya hanya bersifat jangka pendek. Untuk itu, fokusnya adalah lebih ke perekonomian dalam negeri dan berinvestasi sesuai jangka waktu.

Kembali, demi kenyamanan berinvestasi pastikan dulu tujuan keuangan dan profil risiko kamu ya! (hm)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER