SBR015: Prediksi Kupon & Jadwal Lengkap Masa Penawarannya
Pemerintah akan membuka masa penawaran Savings Bond Ritel seri SBR015 pada 28 September-22 Oktober 2026, dengan prediksi kupon di kisaran 6,8%-7,05%. Imbal hasil ini berpeluang naik seiring tren kenaikan suku bunga acuan.

Pemerintah akan membuka masa penawaran Savings Bond Ritel seri SBR015 pada 28 September-22 Oktober 2026, dengan prediksi kupon di kisaran 6,8%-7,05%. Imbal hasil ini berpeluang naik seiring tren kenaikan suku bunga acuan.
Bareksa - Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan dijadwalkan menetapkan kupon awal Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR015 pada Kamis, 24 September 2026, sebelum masa penawaran berlangsung 28 September-22 Oktober 2026.
SBR015 diterbitkan dalam dua tenor, yaitu SBR015T2 (2 tahun) dan SBR015T4 (4 tahun). Penetapan penjualan dijadwalkan 26 Oktober 2026 dan setelmen 28 Oktober 2026. Tim Analis Bareksa memprediksi kupon SBR015T2 berada di kisaran 6,8-6,9% per tahun, sementara SBR015T4 di 6,95-7,05% per tahun. Pola selisih (spread) kupon SBR014 terhadap BI Rate di kisaran 75-85 basis poin.
1. Jadwal SBR015
Penetapan Kupon | Masa Penawaran | Penetapan Penjualan | Setelmen |
Kamis, 24 September 2026 | 28 September - 22 Oktober 2026 | Senin, 26 Oktober 2026 | Rabu, 28 Oktober 2026 |
Sumber: DJPPR Kementerian Keuangan RI
Promo Terbaru di Bareksa
SBR bersifat non-tradable, artinya tidak dapat diperjualbelikan di pasar sekunder. Namun SBR015 menyediakan fasilitas early redemption atau pencairan awal sebagian dana sebelum jatuh tempo, dengan batas maksimal 50% dari kepemilikan pada periode tertentu. Kupon dibayarkan tiap tanggal 10 hingga jatuh tempo, dengan minimum pemesanan Rp1 juta.
2. Prediksi Kupon SBR015
Tenor | Prediksi Kupon |
SBR015T2 (2 tahun) | 6,8-6,9% |
SBR015T4 (4 tahun) | 6,95-7,05% |
Sumber: Tim Analis Bareksa
Tim Analis Bareksa memprediksi kupon atau imbal hasil SBR015 untuk tenor 2 tahun atau SBR015T2 di kisaran 6,8–6,9%. Artinya, dibandingkan dengan BI Rate 5,75%, selisih atau spread kupon SBR015T2 berpotensi berada di kisaran 105-115 basis poin (bps) di atas BI Rate. Sementara untuk tenor 4 tahun atau SBR015T4 dengan kupon indikatif 6,95-7,05%, spread-nya berpeluang berada di kisaran 120-130 bps di atas BI Rate.
Untuk diketahui, pemerintah baru saja menerbitkan Sukuk Ritel seri SR025 pada 21 Agustus-16 September 2026, dengan kupon tetap 6,8% untuk tenor 3 tahun (SR025T3) dan 6,9% untuk tenor 5 tahun (SR025T5). Kupon ini tercatat sebagai yang tertinggi sejak 2020.
Sebagai pembanding, SBR014 yang diterbitkan Juli-Agustus 2025 menetapkan kupon awal 6,25% untuk tenor 2 tahun (SBR014T2) dan 6,35% untuk tenor 4 tahun (SBR014T4), dihitung dari BI Rate saat itu 5,5% ditambah spread tetap 75 bps dan 85 bps. Kupon SBR014 sendiri sempat tertahan di level floor selama tiga periode penyesuaian berturut-turut (November 2025, Februari 2026, dan Mei 2026), karena BI Rate saat itu berada di 4,75%. Barulah pada penyesuaian keempat, yang berlaku sejak 11 Agustus 2026, kupon SBR014T2 naik menjadi 6,5% dan SBR014T4 menjadi 6,6%, seiring dengan BI Rate yang telah naik ke 5,75%.
3. Faktor Penentu Kupon SBN Ritel
Penetapan kupon SBN Ritel seperti SBR015 umumnya mempertimbangkan beberapa faktor utama, yaitu BI Rate, yield SBN tenor yang sama di pasar sekunder, bunga penjaminan simpanan (LPS Rate), dan kondisi makroekonomi.
BI Rate. Suku bunga acuan BI menjadi basis formula kupon SBR, yaitu BI Rate ditambah selisih (spread) tetap. BI Rate saat ini 5,75%, bertahan tiga RDG berturut-turut sejak Agustus 2026, dengan RDG berikutnya pada 22-23 September 2026. Para ekonom memperkirakan BI Rate tetap 5,75%.
Yield SBN tenor sama di pasar sekunder. Agar tetap kompetitif, kupon SBR mempertimbangkan yield SBN tradable dengan tenor setara. Data Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) yang dikutip 21 September, menyebut yield SBN tenor 2 tahun di 6,76% dan tenor 4 tahun 6,91%, sementara yield tenor panjang (16-20 tahun) berada di 7,17%-7,19%. Yield yang masih tinggi ini menjadi salah satu alasan kupon SBR015 diperkirakan lebih tinggi dibandingkan dengan seri SBR sebelumnya.
Bunga Deposito (LPS Rate). Tingkat bunga penjaminan LPS menjadi pembanding kupon SBR terhadap bunga deposito bank. Untuk periode 1 Juli-30 September 2026, LPS menetapkan Tingkat Bunga Penjaminan simpanan rupiah bank umum 3,75%, jauh di bawah prediksi kupon SBR015.
Kondisi Makroekonomi. Inflasi, nilai tukar rupiah, arus modal asing, dan arah suku bunga global termasuk The Fed turut memengaruhi daya tarik SBN ritel.
4. Historis Kupon SBR: Naik Seiring BI Rate
Skema kupon SBR bersifat floating with floor, yaitu kupon mengambang dengan batas bawah. Setiap tiga bulan, kupon ditinjau ulang mengikuti BI Rate: dapat naik jika BI Rate naik, tetapi tidak turun di bawah kupon awal (floor). Data historis DJPPR menunjukkan pola kenaikan dan penurunan ini cukup konsisten mengikuti arah BI Rate:
Seri SBR | Kupon Awal | Kupon Tertinggi Tercatat | Kupon Terkini (Agt 2026) |
SBR011 (Mei 2022) | 5,50% | 8,00% (Des 2023-Jun 2024) | Jatuh tempo |
SBR012T2 (Feb 2023) | 6,15% | 6,90% (Mei-Nov 2024) | Jatuh tempo |
SBR012T4 (Feb 2023) | 6,35% | 7,10% (Mei-Nov 2024) | 6,60% |
SBR014T2 (Agt 2025) | 6,25% | 6,50% (Agt 2026) | 6,50% |
SBR014T4 (Agt 2025) | 6,35% | 6,60% (Agt 2026) | 6,60% |
Sumber: Data historis DJPPR Kementerian Keuangan, per periode berlaku 11 Agustus-10 November 2026.
5. Konteks The Fed dan Outlook BI Rate
The Fed menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 3,75%-4% pada 16 September 2026, kenaikan pertama sejak 2023. Berdasarkan proyeksi terbaru (dot plot), 16 dari 18 pejabat The Fed memperkirakan masih ada peluang satu kali kenaikan lagi 25 basis poin hingga akhir 2026, yang berpotensi membawa suku bunga acuan AS ke kisaran 4-4,25%.
Tren suku bunga AS yang bertahan tinggi turut menjadi pertimbangan Bank Indonesia dalam menjaga selisih suku bunga dan daya tarik aset rupiah, di tengah RDG BI 22-23 September 2026. Pandangan analis mengenai arah BI Rate hingga akhir 2026 dan 2027 masih bervariasi. Sebagian memperkirakan BI Rate naik ke kisaran 6,25%-6,75% pada akhir 2026 apabila tekanan rupiah berlanjut, sementara proyeksi lain menilai BI Rate bertahan atau turun ke 5,75% pada akhir 2027 seiring ekspektasi inflasi yang melandai.
6. Faktor Risiko Utama
Skema floating with floor berlaku dua arah pada setiap periode review: apabila BI Rate turun signifikan, kenaikan kupon yang sempat terjadi berpotensi terkoreksi kembali, meski tidak akan turun di bawah floor awal.
SBR015 bersifat non-tradable, sehingga dana hanya dapat dicairkan sebagian melalui fasilitas early redemption, dengan batas maksimal 50% dari kepemilikan pada periode tertentu.
Proyeksi kupon dan arah suku bunga yang diuraikan dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan pola historis dan pandangan analis, sehingga tetap dapat berubah mengikuti perkembangan data ekonomi, kondisi rupiah, serta kebijakan Bank Indonesia dan The Fed hingga penetapan resmi kupon SBR015.
7. Kesimpulan
SBR015 menawarkan potensi imbal hasil kompetitif pada kisaran indikatif 6,8-7,05% per tahun, ditopang BI Rate 5,75%, yield SBN tenor sama di pasar sekunder yang masih tinggi di 6,76%-6,91%, serta LPS Rate yang jauh lebih rendah di 3,75%. Sifat floating with floor membuat instrumen ini berpotensi memberikan imbal hasil tambahan apabila BI Rate melanjutkan tren kenaikan, sejalan arah suku bunga The Fed yang masih berpeluang naik satu kali lagi hingga akhir 2026. Kupon final baru diketahui setelah penetapan resmi 24 September 2026, sehingga investor perlu mencermati perkembangan tersebut sesuai profil risiko masing-masing.
Investasi di Aplikasi SBN Ritel Terbaik - Bareksa
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi SBN resmi yang memudahkan pembelian obligasi negara seperti ORI, SR, ST, dan SBR. Kamu dapat membandingkan imbal hasil, memahami risiko, dan mengikuti jadwal penerbitan dengan jelas. Cocok untuk investor yang mencari investasi aman dengan dukungan negara, semuanya tersedia dalam satu aplikasi investasi terpercaya.
Siap-siap Investasi SBR015 di Sini
(Rahmat Hidayat/Sigma Kinasih CTA, CFP/AM)
Tentang Penulis
*Rahmat Hidayat adalah Investment Specialist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 7 tahun di bidang investasi dan produk finansial digital. Ia aktif mengembangkan produk pasar modal dan memberikan edukasi keuangan kepada masyarakat, serta memegang lisensi WPPE.
* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan
pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang
lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi,
strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN.
Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.
***
DISCLAIMER
Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
Pertanyaan Umum
Apa itu SBR015 dan kapan masa penawarannya?
SBR015 adalah seri Savings Bond Ritel dengan skema kupon floating with floor. Masa penawaran berlangsung 28 September–22 Oktober 2026, dengan penetapan kupon pada 24 September 2026.
Apa saja faktor penentu kupon SBN ritel?
Ada empat faktor utama, yaitu BI Rate, yield SBN tenor sama di pasar sekunder, LPS Rate, dan kondisi makroekonomi seperti inflasi dan nilai tukar rupiah.
Apa itu skema floating with floor?
Skema kupon mengambang dengan batas bawah, yang dapat naik mengikuti kenaikan BI Rate setiap review tiga bulanan, tetapi tidak turun di bawah floor awal.
Bagaimana pengaruh kenaikan suku bunga The Fed terhadap SBR015?
Kenaikan suku bunga The Fed dapat menekan rupiah dan yield SBN, sehingga menjadi salah satu pertimbangan BI dalam menentukan arah BI Rate yang menjadi basis kupon SBR015.
Apakah kupon SBR015 bisa turun?
Kupon SBR015 tidak akan turun di bawah kupon awal yang menjadi floor, meskipun BI Rate turun pada periode mendatang.
Profil Penulis

Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
Pilihan Investasi di Bareksa
Klik produk untuk lihat lebih detail.
| Produk Eksklusif | Harga/Unit | 1 Bulan | 6 Bulan | YTD | 1 Tahun | 3 Tahun | 5 Tahun |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
Trimegah Dana Obligasi Nusantara autodebet | 1.253,10 | ||||||
Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A | 1.207,14 | - | - | ||||
STAR Stable Amanah Sukuk autodebet | 1.213,56 | - | - | ||||
Eastspring Syariah Mixed Asset Fund Kelas A | 1.040,16 | - | - |
Produk Belum Tersedia
Ayo daftar Bareksa SBN sekarang untuk bertransaksi ketika periode pembelian dibuka.
Ayo daftar Bareksa SBN sekarang untuk bertransaksi ketika periode pembelian dibuka.

