Berita / SBN / Artikel

Burden Sharing Pemerintah - BI Hingga 2022, SBN Bakal Makin Menarik

Rencananya, pada tahun ini BI akan membeli SBN Rp215 triliun dan tahun depan Rp224 triliun
Abdul Malik • 25 Aug 2021
cover

Ilustrasi investor sedang memantau perkembangan investasinya di Surat Berharga Negara (SBN) Ritel. (Shutterstock)

Bareksa.com - Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) kemarin mengumumkan telah sepakat untuk melanjutkan kerja sama pembagian beban atau burden sharing pada tahun ini dan tahun depan. Pasar Surat Berharga Negara (SBN) dinilai mendapat angin segar dari kebijakan ini.

Kesepakatan antara pemerintah dan BI tertuang dalam Keputusan Bersama Menteri Keuangan dan Gubernur BI tentang Skema dan Mekanisme Koordinasi antara Pemerintah dan Bank Indonesia dalam rangka Pembiayaan Penanganan Kesehatan dan Kemanusiaan Guna Penanganan Dampak Pandemi Corona Virus Disease 2019 Covid-19 Melalui Pembelian di Pasar perdana oleh BI Atas Surat Utang Negara dan atau Surat Berharga Syariah Negara yang diterbitkan Pemerintah (atau disebut SKB III).

Rencananya, pada tahun ini BI akan membeli SBN Rp215 triliun dan pada tahun depan Rp224 triliun.

Head of Fixed Income Research BNI Sekuritas, Ariawan mengatakan kesepakatan berbagi beban tersebut dapat menekan beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dari sisi kupon penerbitan SBN. Sebab beban bunga SBN akan ditanggung oleh BI dan juga Kementerian Keuangan. Selain itu, juga didukung oleh tingkat bunga yang disepakati sebagai acuan.

Pemerintah dan BI telah menetapkan Suku Bunga Reverse Repo BI tenor 3 bulan sebagai acuan. "Suku bunga ini berada di bawah tingkat suku bunga pasar. Sehingga, pemerintah bisa menghemat beban kupon yang akan dikeluarkan," kata Ariawan dilansir Bisnis.com (24/8/2021).

Minat Investor Meningkat

Dia menjelaskan pengendalian beban bunga akan berimbas pada meningkatnya minat investor, terutama dari luar negeri, terhadap pasar Surat Utang Negara (SUN) Indonesia. Karena itu, diyakini posisi credit default swap (CDS) Indonesia juga akan semakin kuat.

Level CDS yang semakin rendah menunjukkan ekspektasi risiko investasi yang semakin rendah pula pada instrumen surat utang suatu negara, dalam hal ini untuk surat utang Indonesia dalam denominasi rupiah.

Ariawan menilai saat ini minat investor terhadap SBN Indonesia juga terbilang masih bagus. "Dengan adanya kebijakan ini, potensi inflow dari pasar surat utang juga semakin besar," tambahnya.

Di sisi lain, kerja sama antara BI dan pemerintah ini juga dapat membantu mengurangi penerbitan SBN pada tahun depan. Hal tersebut sejalan dengan penurunan target penerbitan SBN yang tercantum pada Rencana APBN (RAPBN) 2022 sebesar Rp991,28 triliun.

Menurut Ariawan dengan pasokan SBN yang turun dan permintaan pasar yang masih tinggi, maka harga surat berharga negara Indonesia akan mengalami kenaikan. Hal ini juga akan berimbas pada penguatan imbal hasil (yield) SUN.

Pergerakan harga obligasi dan yield obligasi saling bertolak belakang. Kenaikan harga obligasi akan membuat posisi yield mengalami penurunan sementara penurunan harga akan menekan tingkat imbal hasil.

Adapun tingkat imbal hasil Surat Utang Negara Indonesia seri acuan 10 tahun menurut laman World Government Bonds, berada pada kisaran 6,419 persen. Di sisi lain, CDS Indonesia 5 tahun berada di level 73,286.

Memperkuat Imbal Hasil

Ariawan mengatakan berkurangnya penerbitan SBN juga memungkinkan pemerintah untuk menekan biaya penerbitan surat utang atau cost of fund. Ke depannya, dia optimistis perpanjangan burden sharing akan memperkuat posisi imbal hasil SBN Indonesia. Namun ia mengingatkan sejumlah sentimen negatif dari luar negeri juga masih membayangi pergerakan yield.

Menurutnya sejauh ini tingkat ketidakpastian global masih cukup tinggi menyusul munculnya varian delta pada virus corona. Tak ayal, mengganggu laju pemulihan ekonomi dunia, terutama pada negara-negara dengan kekuatan ekonomi yang signifikan. Ketidakpastian tersebut juga berdampak pada prospek tapering off yang akan dilakukan Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Fed.

Menurut Ariawan pelaku pasar masih terus menanti kejelasan bentuk tapering yang akan dilakukan The Fed. "Sentimen ini juga masih akan berperan dalam pergerakan yield SBN pada tahun depan. Hingga akhir tahun ini, kami perkirakan yield SUN Indonesia berada di level 6 persen," ujarnya.

(Martina Priyanti/AM)

​***

Ingin berinvestasi sekaligus bantu negara?

Sukuk Negara Ritel (SR) seri SR015ditawarkan mulai 20 Agustus hingga 15 September 2021. SR015 merupakan salah satu jenis SBN Ritel syariah yang memiliki fitur bisa diperdagangkan dengan tenor 3 tahun. Nilai investasi minimal Rp1 miliar dan maksimal Rp3 miliar.

Dengan berinvestasi di SBN Ritel kita tidak hanya mendapatkan imbal hasil tetapi juga membantu pembiayaan anggaran untuk pembangunan negara.

Belum memiliki akun Bareksa tetapi ingin berinvestasi di SBN Ritel? Segera daftar melalui aplikasi Bareksa sekarang, gratis hanya dengan menyiapkan KTP dan NPWP (opsional).

Bagi yang sudah punya akun Bareksa untuk reksadana, lengkapi data berupa rekening bank untuk mulai membeli SBN Ritel di Bareksa. Bagi yang sudah pernah membeli SBR, ORI atau Sukuk di Bareksa sebelumnya, Anda bisa menggunakan akun di Bareksa untuk memesan SBN ritel seri berikutnya.

​PT Bareksa Portal Investasi atau Bareksa.com adalah mitra distribusi resmi Kementerian Keuangan untuk penjualan Surat Berharga Negara (SBN) Ritel atau SBN Ritel secara online. Selain proses registrasi dan transaksi sangat cepat dan mudah, Anda juga dapat memantau investasi Anda dari mana saja dan kapan saja.