BeritaArrow iconSahamArrow iconArtikel

Vale Indonesia (INCO) Catat Laba Q1 2026 Meroket 100%, Ini Rekomendasi Saham & Sentimennya

Abdul Malik19 Mei 2026
Tags:
Vale Indonesia (INCO) Catat Laba Q1 2026 Meroket 100%, Ini Rekomendasi Saham & Sentimennya
Proses produksi nikel di pabrik PT Vale Indonesia Tbk (INCO) di Sorowako, Sulawesi Selatan. (Shutterstock)

INCO mencatat laba Q1 2026 naik 100% YoY. Analis menilai pemulihan operasional mulai berjalan, namun risiko kebijakan masih membayangi.

Bareksa - PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatat laba bersih kuartal I 2026 sebesar US$44 juta atau melonjak 100% secara tahunan. Kinerja ini penting dicermati investor karena menunjukkan pemulihan bisnis nikel mulai berlangsung di tengah tekanan kebijakan sektor tambang.

Berdasarkan riset PT Ciptadana Sekuritas Asia (12/5/2026), pendapatan INCO naik 22% YoY menjadi US$253 juta, didorong kontribusi awal penjualan bijih nikel dari Blok Bahodopi dan Pomalaa sebesar US$58 juta. Namun, produksi nickel matte turun 20% YoY menjadi 13,6 ribu ton nikel akibat keterlambatan persetujuan RKAB dan pemeliharaan Furnace 3. Meski begitu, harga jual rata-rata atau ASP nickel matte naik 19% YoY menjadi US$14.213 per ton.

Analis Ciptadana menilai pemulihan operasional INCO mulai terlihat dari ekspansi margin laba kotor menjadi 22,5% pada Q1 2026, dibandingkan 9,4% pada periode sama tahun lalu. Namun, biaya produksi juga meningkat seiring kenaikan harga energi dan implementasi Harga Mineral Acuan (HMA). Kondisi ini membuat pasar masih mencermati potensi tekanan margin pada sisa tahun 2026. INCO merupakan emiten sektor logam dan pertambangan nikel.

Promo Terbaru di Bareksa

Risiko Kebijakan dan Outlook Produksi

Analis Ciptadana mempertahankan rekomendasi HOLD untuk saham INCO dengan target harga Rp6.400 per saham. Target tersebut mencerminkan valuasi EV/EBITDA 7,7 kali, sejalan rata-rata historis lima tahun perusahaan. Menurut analis, valuasi saat ini dinilai sudah cukup merefleksikan potensi pemulihan operasional perseroan.

Pemerintah sebelumnya sempat mengusulkan kenaikan tarif royalti mineral yang memicu tekanan pada saham tambang. Namun implementasi aturan tersebut ditunda, sehingga dampaknya terhadap INCO dinilai relatif terbatas. Ciptadana memperkirakan revisi formula royalti hanya berpotensi menurunkan proyeksi laba bersih sekitar 1%.

Ke depan, pemulihan produksi INCO berpotensi ditopang percepatan aktivitas tambang setelah kejelasan RKAB serta kontribusi penjualan ore dari Bahodopi dan Pomalaa. Meski demikian, investor masih mencermati risiko permintaan nikel global yang lemah, kenaikan biaya produksi, dan potensi tekanan kebijakan baru di sektor pertambangan.

Ringkasan Kinerja dan Analisis INCO Q1 2026

Indikator
Realisasi Q1 2026
Perubahan

Pendapatan

US$253 juta

Naik 22% YoY

Laba Bersih

US$44 juta

Naik 100% YoY

Produksi Nickel Matte

13,6 ribu ton

Turun 20% YoY

ASP Nickel Matte

US$14.213/ton

Naik 19% YoY

Gross Margin

22,5%

Naik dari 9,4%

Target Harga Ciptadana

Rp6.400/saham

Rekomendasi HOLD

Sumber: riset Ciptadana Sekuritas

Faktor Positif yang Dicermati Investor

  • Kontribusi awal penjualan bijih nikel dari Bahodopi dan Pomalaa

  • Margin laba membaik signifikan

  • Proyeksi produksi berpotensi pulih setelah RKAB lebih jelas

  • Harga jual nickel matte masih relatif kuat

Risiko Utama INCO

  • Risiko kenaikan biaya energi dan operasional

  • Ketidakpastian kebijakan royalti mineral

  • Permintaan nikel global masih lemah

  • Tekanan dari implementasi HMA

Kesimpulan

Kinerja INCO pada kuartal I 2026 menunjukkan tanda pemulihan dengan pertumbuhan pendapatan dan laba yang solid. Kontribusi penjualan ore baru menjadi faktor utama pendorong kenaikan kinerja perseroan.

Meski demikian, pasar masih mencermati risiko kebijakan sektor nikel dan kenaikan biaya produksi yang berpotensi memengaruhi margin ke depan. Karena itu, rekomendasi analis tetap netral dengan fokus pada keberlanjutan pemulihan operasional perseroan.

FAQ

1. Berapa laba bersih INCO pada Q1 2026?
INCO mencatat laba bersih sebesar US$44 juta pada kuartal I 2026.

2. Apa penyebab pendapatan INCO naik?
Kenaikan pendapatan didorong kontribusi penjualan bijih nikel dari Bahodopi dan Pomalaa serta kenaikan ASP nickel matte.

3. Mengapa produksi nickel matte turun?
Produksi turun akibat keterlambatan persetujuan RKAB dan pemeliharaan Furnace 3.

4. Berapa target harga saham INCO dari Ciptadana?
Analis Ciptadana mempertahankan target harga Rp6.400 per saham dengan rekomendasi HOLD.

5. Apa risiko utama yang dicermati investor?
Investor mencermati risiko kebijakan royalti, kenaikan biaya energi, dan lemahnya permintaan nikel global.

Investasi di Aplikasi Trading Saham Online Terbaik – Bareksa

Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.

Beli Saham di Sini


Tentang Penulis

*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.

***

DISCLAIMER​​​​​​​​​

Disclaimer Ciptadana Sekuritas di Sini

Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.

Pilihan Investasi di Bareksa

Klik produk untuk lihat lebih detail.

Produk EksklusifHarga/Unit1 Bulan6 BulanYTD1 Tahun3 Tahun5 Tahun

Trimegah Dana Obligasi Nusantara

autodebet

1.213,61

Down- 0,42%
Up1,19%
Up0,60%
Up7,23%
Up19,56%
Up14,22%

Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A

1.170,31

Down- 0,26%
Up1,90%
Up1,31%
Up6,97%
--

STAR Stable Amanah Sukuk

autodebet

1.203,29

Up0,41%
Up2,20%
Up1,56%
Up7,51%
--

Eastspring Syariah Mixed Asset Fund Kelas A

1.037,49

Down- 1,75%
Up0,31%
Down- 0,96%
---

Video Pilihan

Lihat Semua

Artikel Lainnya

Lihat Semua