BeritaArrow iconSahamArrow iconArtikel

Margin LSIP di Q1 2026 Tertekan, Rekomendasi Tetap Buy, Target Harga Saham Naik Jadi Segini

Abdul Malik05 Mei 2026
Tags:
Margin LSIP di Q1 2026 Tertekan, Rekomendasi Tetap Buy, Target Harga Saham Naik Jadi Segini
Gedung London Sumatra, bangunan bersejarah bergaya Eropa di Medan dibangun tahun 1906, kini jadi kantor PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP). (Dok. Perusahaan)

LSIP catat laba 1Q26 relatif stabil meski margin tertekan. Analis pertahankan rekomendasi dan naikkan target harga ke Rp2.190.

Bareksa - PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) mencatat kinerja kuartal I 2026 dengan pertumbuhan pendapatan terbatas dan tekanan margin. Informasi ini penting karena mencerminkan dampak kenaikan biaya di tengah siklus kenaikan harga CPO.

Berdasarkan riset Ciptadana Sekuritas (4/5), analis mempertahankan rekomendasi buy dengan menaikkan target harga saham LSIP menjadi Rp2.190 per saham dari sebelumnya Rp1.820. Penyesuaian ini mencerminkan rerating sektor seiring siklus kenaikan CPO. Namun, tekanan margin tetap menjadi perhatian dalam jangka pendek.

Pendapatan LSIP naik 2,9% YoY menjadi Rp1,33 triliun, sementara laba bersih naik tipis 0,7% YoY menjadi Rp394 miliar. Kinerja laba terbantu oleh kenaikan pendapatan lain-lain dan bunga, meski laba operasional turun 20% YoY. Margin kotor turun ke 32% akibat kenaikan biaya sebesar 14,4% YoY. LSIP merupakan emiten sektor perkebunan kelapa sawit.

Promo Terbaru di Bareksa

Rekomendasi Analis dan Prospek Sektor

Analis menilai tekanan margin bersifat sementara di tengah siklus naik harga CPO. Asumsi harga CPO global dipertahankan di RM4.500/ton untuk 2026, mencerminkan potensi kenaikan 4,7% YoY. Hal ini menjadi dasar optimisme terhadap prospek sektor perkebunan.

Produksi CPO LSIP relatif stabil di 65 ribu ton, sementara produksi TBS dan PK mengalami penurunan. Namun, peningkatan oil extraction rate (OER) menjadi 22,4% membantu menjaga produksi. Normalisasi produksi berpotensi terjadi seiring kondisi cuaca yang lebih mendukung.

Kebijakan B50 dan pemulihan ekspor Malaysia juga dinilai dapat menopang harga CPO global. Hal ini berpotensi menjadi katalis bagi kinerja LSIP ke depan. Namun, risiko seperti cuaca ekstrem dan biaya pupuk tetap perlu dicermati.

Tekanan Margin dan Strategi Ke Depan

Margin operasional turun menjadi 25,5% seiring kenaikan beban operasional, termasuk G&A dan pemasaran. Hal ini mencerminkan tekanan biaya yang masih berlangsung. Analis menurunkan estimasi laba 2026–2027 untuk mengakomodasi kondisi tersebut.

Meski demikian, valuasi LSIP dinilai menarik dengan penerapan PE 8,7x atau di atas rata-rata historis. Ini mencerminkan ekspektasi pasar terhadap siklus naik sektor perkebunan. Kinerja ke depan akan sangat dipengaruhi oleh harga CPO dan efisiensi biaya.

Tabel Ringkasan Kinerja LSIP 1Q26

Indikator
Q1 2026
Perubahan

Pendapatan

Rp1,33 triliun

2,9% YoY

Laba Bersih

Rp394 miliar

0,7% YoY

Laba Operasional

Rp338 miliar

-20% YoY

Margin Kotor

32,0%

Turun 6,8 ppt

Margin Operasi

25,5%

Turun 7,3 ppt

Sumber: riset Ciptadana Sekuritas

Tabel Operasional & Harga

Indikator
Q1 2026
Perubahan

Produksi CPO

65 ribu ton

Stabil

Produksi PK

17 ribu ton

-5,6% YoY

OER

22,4%

Naik

ASP CPO

Rp14.347/kg

-0,5% YoY

ASP PK

Rp12.071/kg

9,1% YoY

Sumber: riset Ciptadana Sekuritas

Katalis & Risiko

Katalis

  • Siklus kenaikan harga CPO global

  • Implementasi mandatori B50

  • Rerating valuasi sektor perkebunan

Risiko

  • Kenaikan biaya pupuk dan operasional

  • Cuaca ekstrem (drought)

  • Volatilitas harga CPO global

Kesimpulan

Kinerja LSIP pada 1Q26 mencerminkan tekanan margin di tengah kenaikan biaya, meski laba tetap relatif stabil. Hal ini menunjukkan daya tahan kinerja di fase awal siklus. Dengan dukungan harga CPO dan rerating sektor, prospek LSIP berpotensi membaik. Namun, efisiensi biaya dan kondisi cuaca menjadi faktor penting yang perlu dicermati investor.

FAQ

1. Apakah rekomendasi analis berubah?
Tidak, tetap dipertahankan dengan target harga dinaikkan ke Rp2.190.

2. Mengapa margin LSIP turun?
Karena kenaikan biaya produksi dan operasional.

3. Apa katalis utama LSIP?
Kenaikan harga CPO, kebijakan B50, dan rerating sektor.

4. Bagaimana prospek produksi?
Berpotensi pulih seiring kondisi cuaca yang lebih normal.

5. Apa risiko utama LSIP?
Biaya pupuk, cuaca ekstrem, dan fluktuasi harga CPO.

Investasi di Aplikasi Trading Saham Online Terbaik – Bareksa

Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.

Beli Saham di Sini

Tentang Penulis

*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.

***

DISCLAIMER​​​​​​​​​

Disclaimer Ciptadana Sekuritas di Sini

Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.

Pilihan Investasi di Bareksa

Klik produk untuk lihat lebih detail.

Produk EksklusifHarga/Unit1 Bulan6 BulanYTD1 Tahun3 Tahun5 Tahun

Trimegah Dana Obligasi Nusantara

autodebet

1.210,63

Up0,47%
Up1,48%
Up0,35%
Up7,33%
Up20,05%
Up14,13%

STAR Stable Amanah Sukuk

autodebet

1.201,16

Up0,45%
Up2,24%
Up1,38%
Up7,72%
--

Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A

1.169,47

Up0,44%
Up2,02%
Up1,23%
Up7,41%
--

Eastspring Syariah Mixed Asset Fund Kelas A

1.045,45

-
Up1,94%
Down- 0,20%
---

Video Pilihan

Lihat Semua

Artikel Lainnya

Lihat Semua