BeritaArrow iconReksa DanaArrow iconArtikel

Pasar Obligasi Mulai Reli! Momentum Reksa Dana Pendapatan Tetap Syariah

28 Agustus 2026
Tags:
Pasar Obligasi Mulai Reli! Momentum Reksa Dana Pendapatan Tetap Syariah
Ilustrasi investasi di pasar obligasi melalui reksa dana Syailendra Sharia Fixed Income Fund. (Photo by Nataliya Vaitkevich: Pexels)

Yield SBN turun yang menandakan kenaikan harga obligasi bertepatan dengan ditahannya BI Rate. Reksa Dana Syailendra Sharia Fixed Income Fund (SSFIF) Kelas A yang fokus ke sukuk korporasi dan sukuk negara menjadi produk yang diuntungkan

Bareksa - Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 19 Agustus 2026, BI Rate kembali ditahan di level 5,75%. Bagi pasar obligasi, keputusan ini bukan sekadar rutinitas bulanan. Setelah periode kenaikan suku bunga yang cukup panjang, sejumlah analis menilai suku bunga acuan sudah mencapai puncak siklusnya, dan yield Surat Berharga Negara (SBN) pun mulai menunjukkan tanda stabilisasi.

Bagi investor yang selama ini menahan diri masuk ke reksa dana pendapatan tetap—karena khawatir harga obligasi terus tertekan seiring yield yang terus naik—perkembangan ini layak dicermati. Bukan berarti harus buru-buru masuk, tapi setidaknya salah satu sumber kekhawatiran utama mulai mereda.

Kenapa Yield dan Harga Obligasi Bergerak Berlawanan Arah?

Untuk memahami kenapa stabilisasi yield ini penting, ada satu mekanisme dasar yang perlu dipahami: harga obligasi dan yield bergerak berlawanan arah.

Promo Terbaru di Bareksa

Bayangkan sebuah obligasi seperti kontrak sewa dengan harga tetap. Jika obligasi lama memberi kupon tetap 6% per tahun, lalu yield pasar naik menjadi 7% karena suku bunga naik, obligasi lama itu jadi kurang menarik dibanding obligasi baru. Harganya pun harus turun supaya imbal hasil efektifnya setara dengan yield pasar yang baru. Sebaliknya, ketika yield pasar mulai stabil atau turun, obligasi lama dengan kupon tetap jadi relatif lebih menarik, dan harganya cenderung naik.

Inilah kenapa periode kenaikan yield selama ini menekan harga obligasi dan NAV reksa dana pendapatan tetap yang menyimpannya. Ketika yield mulai stabil seperti sekarang, tekanan itu mereda.

Namun ada satu hal penting yang sering terlewat: yield SBN adalah acuan utama pasar, tapi tidak semua instrumen pendapatan tetap bergerak persis mengikuti SBN. Obligasi atau sukuk korporasi, misalnya, secara historis cenderung lebih stabil harganya dibanding SBN, karena basis investor dan pola likuiditasnya berbeda. Saat yield naik tajam, portofolio yang didominasi sukuk korporasi mengalami tekanan yang lebih minim dibandingkan portofolio yang didominasi SBN. Sebaliknya, saat pasar obligasi mulai pulih seperti sekarang, kenaikan harganya pun cenderung lebih bertahap—bukan rebound tajam seperti pada SBN.

Cara Menilai Reksa Dana Pendapatan Tetap Sebelum Memilih

Karena karakteristik ini, langkah pertama sebelum memilih reksa dana pendapatan tetap bukan melihat return semata, tapi memahami komposisi portofolionya:

  • Cek fund fact sheet untuk melihat proporsi SBN versus obligasi/sukuk korporasi.

  • Reksa dana dengan porsi mayoritas di SBN cenderung lebih sensitif terhadap pergerakan yield, sehingga fluktuasi NAV-nya menjadi lebih tinggi

  • Pergerakan NAV reksa dana dengan porsi mayoritas di obligasi korporasi relatif lebih stabil, sehingga lebih cocok bagi investor yang mengutamakan konsistensi dibandingkan mengejar lonjakan return jangka pendek

Kesalahan yang sering terjadi adalah menyamaratakan semua reksa dana pendapatan tetap sebagai satu kategori risiko yang sama, padahal komposisi portofolio di baliknya bisa sangat berbeda.

Memahami komposisi portofolio seharusnya menjadi salah satu dasar utama dalam memilih reksa dana, bukan sekadar mengejar yield yang tinggi.

Mengenal Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A

Karakteristik portofolio yang didominasi sukuk korporasi ini yang dimiliki oleh Reksa Dana Syailendra Sharia Fixed Income Fund (SSFIF) Kelas A, reksa dana pendapatan tetap syariah dari PT Syailendra Capital, manajer investasi yang telah beroperasi sejak 2006.

Berdasarkan fund fact sheet per 31 Juli 2026, alokasi aset SSFIF mayoritas berada di obligasi (97,58%), dengan sisanya di deposito dan kas setara. Dari sisi sektor, isi portofolionya tersebar di sukuk korporasi lintas sektor, dengan sebagian besar di Pulp & Paper serta Metal and Mineral Mining. Sementara itu, sekitar 5,61% berupa Government Bond yang dikelola secara tactical

Illustration
Sumber: Fund Fact Sheet Reksa Dana, Juli 2026

Dari sisi tenor, sukuk korporasi dan SBSN yang dipilih berfokus ke tenor medium (3-5 tahun) untuk mengoptimalkan potensi return khususnya ketika era suku bunga tinggi sekaligus menjaga agar tingkat volatilitas tetap terjaga.

Dari sisi rating, sukuk korporasi yang dipilih minimal single A untuk memastikan bahwa obligasi yang dipilih berkualitas (investment grade) sehingga risiko gagal bayar minim.

Produk ini termasuk dalam klasifikasi risiko sedang dan dikelola sesuai dengan Prinsip Syariah, dengan kebijakan investasi yang memungkinkan 80–100% aset dialokasikan pada efek pendapatan tetap syariah.

RD SSFIF juga menerapkan mekanisme cleansing, yaitu proses memisahkan pendapatan yang teridentifikasi berasal dari sumber yang tidak sesuai dengan prinsip syariah dari hasil investasi. Pendapatan tersebut kemudian tidak menjadi bagian dari hasil yang dinikmati investor, melainkan disalurkan untuk tujuan sosial sesuai dengan ketentuan syariah.

Dengan karakteristik tersebut, RD SSFIF dapat menjadi pilihan bagi investor yang ingin memperoleh eksposur ke pasar obligasi, khususnya sukuk korporasi, dengan pergerakan NAV yang relatif lebih terjaga dibandingkan reksa dana yang mayoritas berinvestasi di SBN. Karakteristik ini membuat RD SSFIF cocok untuk investor dengan profil risiko moderat.

Return Melampaui Benchmark

Berdasarkan data Bareksa per 24 Agustus 2026, RD SSFIF mencatatkan return 7,10% dalam setahun terakhir. Dibandingkan dengan benchmark, yaitu Indeks Reksa Dana Pendapatan Tetap Syariah Bareksa dengan kinerja 1,63% setahun, reksa dana ini jauh melampaui. Bahkan dalam 1 bulan terakhir, RD SSFIF mencatat kinerja hingga 1,43% karena yield acuan obligasi mulai melandai (artinya harga obligasi naik)

Perlu digarisbawahi, angka ini adalah kinerja historis dan bukan jaminan hasil ke depan—tapi cukup mencerminkan bagaimana portofolio yang didominasi sukuk korporasi merespons kondisi pasar belakangan ini.

Grafik Kinerja Reksa Dana SFIF vs Indeks RD Pendapatan Tetap Syariah

Illustration

Sumber: Bareksa, kinerja setahun per 24 Agustus 2026

Dari sisi skala, dana kelolaan RD SSFIF tercatat sebesar Rp2,26 triliun (Nilai Aktiva Bersih per akhir Juli 2026), yang menunjukkan tingkat kepercayaan investor yang telah terbangun sejak produk ini diluncurkan pada 29 Januari 2024. Minimum investasi awal maupun selanjutnya cukup terjangkau. Di super app Bareksa, minimum investasi hanya Rp100.000, sehingga produk ini dapat diakses oleh investor pemula sekalipun.

Sesuaikan Profil Risiko dan Tujuan Investasi

Stabilisasi yield SBN adalah sinyal makro yang layak diperhatikan, tapi bukan alasan tunggal untuk memilih instrumen investasi. Yang lebih penting adalah memahami apa yang ada di dalam portofolio reksa dana yang dipilih, dan apakah karakteristiknya—baik dari sisi risiko, komposisi aset, maupun kesesuaian syariah—benar-benar cocok dengan profil dan tujuan investasi masing-masing.

Reksa dana seperti RD SSFIF layak dipertimbangkan bagi investor yang mencari kombinasi stabilitas dan eksposur ke perbaikan pasar obligasi, namun keputusan akhir tetap perlu disesuaikan dengan profil risiko dan tujuan finansial masing-masing investor.

Beli Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A

(ADV | hm)

* * *

DISCLAIMER

Konten bersponsor. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksa dana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksa dana.

Profil Penulis

Hanum Kusuma Dewi
Hanum Kusuma Dewi

Hanum Kusuma Dewi adalah seorang penulis dengan spesialisasi pada topik bisnis, keuangan, dan investasi termasuk reksa dana, saham, SBN hingga emas. Dengan latar belakang pendidikan di bidang komunikasi dan pengalaman 8+ tahun di pasar modal, Hanum juga melakukan riset untuk membuat konten yang mena

Pilihan Investasi di Bareksa

Klik produk untuk lihat lebih detail.

Produk EksklusifHarga/Unit1 Bulan6 BulanYTD1 Tahun3 Tahun5 Tahun

Trimegah Dana Obligasi Nusantara

autodebet

1.247,03

Up1,44%
Up2,63%
Up3,37%
Up6,59%
Up22,54%
Up15,16%

Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A

1.202,27

Up1,38%
Up2,83%
Up4,07%
Up7,15%
--

STAR Stable Amanah Sukuk

autodebet

1.209,79

Up0,51%
Up1,21%
Up2,11%
Up4,69%
--

Eastspring Syariah Mixed Asset Fund Kelas A

1.041,84

Up0,96%
Down-1,60%
Down-0,55%
Up4,05%
--

Video Pilihan

Lihat Semua

Artikel Lainnya

Lihat Semua