BeritaArrow iconReksa DanaArrow iconArtikel

Cara Mengelola Uang dengan Bucket Strategy agar Tujuan Finansial Lebih Mudah Tercapai

27 Juli 2026
Tags:
Cara Mengelola Uang dengan Bucket Strategy agar Tujuan Finansial Lebih Mudah Tercapai
Ilustrasi investasi dengan pendekatan bucket strategy, salah satunya dengan reksa dana pasar uang BRI MI. (Shutterstock)

Reksa dana pasar uang, seperti BRI Seruni Pasar Uang III dan BRI Seruni Pasar Uang Syariah, bisa dijadikan pilihan untuk menempatkan dana dengan tujuan jangka pendek.

Bareksa - Banyak orang merasa sudah mengelola keuangan dengan baik karena rutin menabung atau mulai berinvestasi. Namun, coba perhatikan kembali rekening atau portofolio investasi yang dimiliki. Apakah dana untuk kebutuhan sehari-hari, dana darurat, tabungan liburan, hingga uang yang ingin diinvestasikan masih bercampur di satu tempat?

Jika jawabannya ya, kondisi tersebut sebenarnya cukup umum terjadi. Akibatnya, seseorang bisa saja tanpa sadar menggunakan dana yang seharusnya disiapkan untuk tujuan tertentu. Misalnya, dana liburan terpakai untuk memenuhi kebutuhan konsumtif, atau dana darurat justru diinvestasikan pada instrumen yang kurang sesuai sehingga sulit dicairkan saat dibutuhkan.

Dalam perencanaan keuangan, dikenal konsep bucket strategy, yaitu membagi uang ke dalam beberapa "ember" atau pos keuangan berdasarkan tujuan penggunaannya. Pendekatan ini membantu setiap dana memiliki fungsi yang jelas sehingga pengelolaan keuangan menjadi lebih terarah dan disiplin.

Promo Terbaru di Bareksa

Apa Itu Bucket Strategy?

Sederhananya, bucket strategy adalah metode mengelompokkan aset berdasarkan tujuan, jangka waktu, dan kebutuhan likuiditas. Artinya, setiap "bucket" atau pos keuangan memiliki fungsi yang berbeda sehingga tidak semua uang ditempatkan pada instrumen yang sama.

Sebagai ilustrasi, bayangkan kamu memiliki lima ember berbeda. Masing-masing digunakan untuk kebutuhan yang berbeda pula. Kamu tentu tidak akan mencampurkan air minum, air untuk menyiram tanaman, dan air untuk mencuci ke dalam satu ember yang sama. Prinsip serupa juga berlaku dalam mengelola keuangan.

Alih-alih hanya berfokus mengejar imbal hasil tertinggi, bucket strategy membantu investor menentukan instrumen yang sesuai dengan kapan dana tersebut akan digunakan. Dengan demikian, keputusan investasi menjadi lebih rasional dan tidak semata-mata mengikuti tren pasar.

Membagi Uang Sesuai Tujuan Finansial

Setiap tujuan keuangan memiliki karakteristik yang berbeda sehingga memerlukan strategi penempatan dana yang berbeda pula.

Misalnya, dana untuk kebutuhan sehari-hari tentu harus mudah diakses kapan saja. Dana darurat juga perlu ditempatkan pada instrumen yang likuid karena sewaktu-waktu dapat digunakan ketika terjadi kondisi tak terduga.

Contoh Membagi Dana Berdasarkan Tujuan Keuangan

Tujuan Keuangan
Kapan Dana Digunakan
Karakter Instrumen yang Dibutuhkan

Kebutuhan harian

Kurang dari 1 bulan

Sangat likuid dan mudah diakses

Dana darurat

Sewaktu-waktu

Likuid, risiko relatif rendah

Liburan / biaya pendidikan dekat

6–12 bulan

Stabil dan mudah dicairkan

DP rumah

1–3 tahun

Menjaga nilai dana dengan risiko terukur

Dana pensiun

>10 tahun

Berorientasi pada pertumbuhan jangka panjang

Sumber: Bareksa

Sementara itu, dana untuk liburan enam bulan lagi atau uang muka rumah dalam satu hingga tiga tahun memiliki horizon investasi yang berbeda dibandingkan dana pensiun yang baru akan digunakan puluhan tahun mendatang.

Karena itu, daripada menyimpan seluruh dana pada satu rekening atau satu instrumen investasi, akan lebih efektif jika setiap tujuan memiliki "bucket" tersendiri. Pendekatan ini tidak hanya memudahkan pemantauan perkembangan aset, tetapi juga membantu menjaga disiplin agar dana yang telah dialokasikan tidak digunakan untuk kebutuhan lain.

Mengapa Tidak Semua Uang Cocok Ditempatkan pada Instrumen yang Sama?

Tidak ada satu instrumen investasi yang ideal untuk semua tujuan keuangan. Dana yang akan digunakan dalam beberapa bulan ke depan tentu memiliki kebutuhan yang berbeda dengan dana pensiun yang baru akan dimanfaatkan belasan atau puluhan tahun mendatang.

Salah satu kesalahan yang cukup sering dilakukan investor adalah memilih instrumen investasi hanya berdasarkan potensi imbal hasil. Padahal, dalam memilih instrumen investasi terdapat beberapa faktor lain yang juga perlu dipertimbangkan, seperti tingkat risiko, likuiditas, serta jangka waktu investasi.

Sebagai contoh, dana yang akan digunakan dalam enam bulan ke depan memiliki kebutuhan yang berbeda dengan dana pensiun yang baru akan dimanfaatkan belasan atau bahkan puluhan tahun mendatang.

Untuk kebutuhan jangka pendek, menjaga ketersediaan dana sering kali lebih penting dibandingkan mengejar potensi keuntungan yang lebih tinggi namun disertai fluktuasi yang lebih besar. Sebaliknya, dana jangka panjang umumnya memiliki waktu yang lebih panjang untuk menghadapi naik turunnya pasar sehingga dapat ditempatkan pada instrumen dengan karakteristik yang berbeda.

Dengan memahami hubungan antara tujuan keuangan dan karakter instrumen investasi, investor dapat membangun portofolio yang lebih seimbang sekaligus mengurangi risiko mengambil keputusan yang kurang sesuai dengan kebutuhan.

Reksa Dana Pasar Uang untuk "Bucket" Dana Jangka Pendek

Jika salah satu bucket dalam perencanaan keuangan ditujukan untuk kebutuhan jangka pendek, maka karakter instrumen yang dipilih sebaiknya mengutamakan likuiditas dan stabilitas.

Salah satu instrumen yang sering digunakan untuk tujuan tersebut adalah reksa dana pasar uang. Sesuai ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), reksa dana pasar uang menginvestasikan dana pada instrumen pasar uang dan/atau efek utang dengan sisa jatuh tempo kurang dari satu tahun. Karakteristik ini membuat reksa dana pasar uang umumnya memiliki tingkat risiko yang relatif lebih rendah dibandingkan reksa dana saham maupun reksa dana campuran, sehingga banyak dimanfaatkan investor untuk kebutuhan dana jangka pendek.

Meski demikian, penting dipahami bahwa reksa dana tetap merupakan produk investasi yang memiliki risiko. Oleh karena itu, pemilihannya tetap perlu disesuaikan dengan tujuan investasi dan profil risiko masing-masing investor.

Pilihan Reksa Dana Pasar Uang dari BRI Manajemen Investasi

Bagi investor yang sedang menyusun bucket strategy, BRI Seruni Pasar Uang III dan BRI Seruni Pasar Uang Syariah dapat menjadi dua alternatif untuk mengisi pos dana jangka pendek.

BRI Seruni Pasar Uang III merupakan reksa dana pasar uang konvensional yang bertujuan memperoleh tingkat pendapatan yang bersaing dengan tetap mempertahankan nilai modal investasi serta menjaga kestabilan likuiditas. Per Juni 2026, portofolionya terdiri atas 67,42% efek utang dan 32,58% instrumen pasar uang serta kas, dengan total dana kelolaan (AUM) mencapai Rp2,59 triliun. Produk ini telah hadir sejak 16 Februari 2010, sehingga memiliki rekam jejak yang panjang di industri reksa dana Indonesia.

Sementara itu, bagi investor yang mengutamakan prinsip syariah, tersedia BRI Seruni Pasar Uang Syariah. Reksa dana ini berinvestasi pada instrumen pasar uang syariah, efek syariah berpendapatan tetap dengan sisa jatuh tempo kurang dari satu tahun, serta deposito syariah yang sesuai dengan prinsip syariah di pasar modal. Per Juni 2026, komposisi portofolionya terdiri atas 98,17% efek utang syariah dan 1,83% instrumen pasar uang serta kas, dengan dana kelolaan mencapai Rp1,44 triliun.

Kedua produk tersebut sama-sama memiliki tingkat risiko rendah, sehingga dapat dipertimbangkan oleh investor yang membutuhkan instrumen untuk mengelola dana jangka pendek sesuai tujuan keuangannya.

Dari sisi kinerja, hingga 24 Juli 2026, BRI Seruni Pasar Uang III mencatatkan imbal hasil 4,30% dalam satu tahun dan 15,33% dalam tiga tahun. Sementara BRI Seruni Pasar Uang Syariah membukukan 4,04% dalam satu tahun dan 15,50% dalam tiga tahun.

Grafik Kinerja NAB BRI Seruni Pasar Uang III dan BRI Seruni Pasar Uang Syariah Setahun

Illustration
Sumber: Bareksa, data per 24 Juli 2026

Kedua reksa dana tersebut juga dapat dibeli melalui Bareksa dengan minimum investasi mulai dari Rp100.000, tanpa biaya pembelian (subscription fee) maupun biaya penjualan kembali (redemption fee), sehingga memudahkan investor untuk mulai membangun "bucket" investasinya secara bertahap.

Diversifikasi Tak Hanya Berdasarkan Tujuan, tetapi Juga Eksposur

Selain membagi dana berdasarkan jangka waktu, sebagian investor juga melakukan diversifikasi berdasarkan mata uang atau eksposur aset. Misalnya, bagi investor yang memiliki kebutuhan di masa depan dalam mata uang asing atau ingin menambah diversifikasi global, tersedia pula pilihan reksa dana pasar uang berdenominasi dolar AS. Namun, pemilihannya tetap perlu disesuaikan dengan tujuan keuangan dan profil risiko masing-masing investor.

Salah satu pilihan tersebut adalah BRI Seruni Likuid Dolar, yang dapat melengkapi strategi diversifikasi portofolio bagi investor dengan kebutuhan tertentu, tanpa mengesampingkan pentingnya penyesuaian dengan rencana keuangan pribadi.

Kelola Investasi Sesuai Tujuan, Bukan Sekadar Mengejar Return

Keberhasilan mengelola keuangan tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar imbal hasil yang diperoleh, tetapi juga oleh kemampuan menempatkan setiap dana sesuai tujuan penggunaannya.

Melalui pendekatan bucket strategy, investor dapat membagi dana berdasarkan kebutuhan, jangka waktu, dan karakter risiko masing-masing. Dengan demikian, setiap tujuan finansial memiliki tempat yang tepat, mulai dari dana darurat, kebutuhan jangka pendek, hingga investasi jangka panjang.

Untuk mengisi "bucket" dana jangka pendek, reksa dana pasar uang seperti BRI Seruni Pasar Uang III maupun BRI Seruni Pasar Uang Syariah dapat menjadi salah satu alternatif yang layak dipertimbangkan sesuai preferensi dan kebutuhan investasi masing-masing.

Beli Reksa Dana BRI Seruni Pasar Uang III

(ADV | hm)

* * *

Disclaimer

Konten bersponsor. Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.


Profil Penulis

Hanum Kusuma Dewi
Hanum Kusuma Dewi

Hanum Kusuma Dewi adalah seorang penulis dengan spesialisasi pada topik bisnis, keuangan, dan investasi termasuk reksa dana, saham, SBN hingga emas. Dengan latar belakang pendidikan di bidang komunikasi dan pengalaman 8+ tahun di pasar modal, Hanum juga melakukan riset untuk membuat konten yang mena

Pilihan Investasi di Bareksa

Klik produk untuk lihat lebih detail.

Produk EksklusifHarga/Unit1 Bulan6 BulanYTD1 Tahun3 Tahun5 Tahun

Trimegah Dana Obligasi Nusantara

autodebet

1.228,78

Up0,75%
Up1,56%
Up1,85%
Up6,42%
Up20,74%
Up14,47%

Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A

1.185,23

Up1,03%
Up2,00%
Up2,60%
Up6,44%
--

Eastspring Syariah Mixed Asset Fund Kelas A

1.031,45

Up1,44%
Down-1,64%
Down-1,54%
---

STAR Stable Amanah Sukuk

autodebet

1.203,08

Up0,52%
Up1,10%
Up1,54%
Up5,17%
--

Video Pilihan

Lihat Semua

Artikel Lainnya

Lihat Semua